EKONOMI

Awas Inflasi Tinggi, Lutfi Harus Intervensi

Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, sewaktu meninjau Pasar Rakyat Jawa Belawan di Kota Medan, Sumatera Utara, Sabtu (1/5/2021). (Humas Kemendag)
Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, sewaktu meninjau Pasar Rakyat Jawa Belawan di Kota Medan, Sumatera Utara, Sabtu (1/5/2021). (Humas Kemendag)


JAKARTA - Menjelang akhir tahun, harga pangan di sejumlah daerah mulai merangkak naik.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tak boleh diam melihat kondisi ini. Dia harus turun langsung mengitervensi agar tak terjadi inflasi yang tinggi.

Peringatan itu disampaikan langsung oleh Ketua DPR RI, Puan Maharani yang menyoroti lonjakan harga sejumlah bahan pangan pokok di akhir 2021. 

"Pemerintah perlu segera mengendalikan harga bahan pangan pokok di akhir tahun ini. Beberapa bahan pangan pokok seperti minyak goreng, cabai, bawang dan telur ayam harganya sangat tinggi melebih akhir tahun sebelumnya," kata Puan dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (28/12/2021).

Dia menilai, masyarakat berpenghasilan rendah akan sangat terdampak dengan kenaikan harga bahan kebutuhan pokok. Puan mencontohkan, per tanggal 24 Desember 2021, harga minyak goreng di pasaran jauh melebihi harga eceran tertinggi (HET) yaitu Rp11.000 per liter, bahkan untuk minyak goreng kemasan sudah ada yang mencapai harga Rp20.000 per liter. Harga bahan pangan pokok yang melambung tinggi lainnya adalah cabai rawit merah, telur ayam ras, dan bawang merah.


"Ibu-ibu rumah tangga sudah banyak mengeluh, harga cabai rawit merah di sejumlah daerah bahkan sudah ada yang mencapai Rp140.000 per kilogram. Ini sudah melebihi harga daging," ujar Puan.

Menurut dia, permasalahan naiknya harga-harga bahan pangan di akhir tahun juga harus diselesaikan untuk waktu-waktu ke depan karena fenomena itu selalu berulang dan perlu upaya penyelesaian yang komprehensif. Dia menilai perlu adanya sinergi kebijakan antar-sektor dari sisi hulu maupun hilir, dari sektor produksi dan perdagangan.

Puan mengatakan, pemulihan ekonomi nasional di tengah situasi pandemi COVID-19, membutuhkan kebijakan yang dapat memberikan perlindungan ekonomi bagi masyarakat berpenghasilan rendah. 

"Dan pada saat yang bersamaan mendorong dunia usaha, sektor riil dan UMKM dapat bergerak kembali dalam inflasi yang terkendali," katanya.

Awasi Stok dan Peredaran
Polri pun melalui Satgas Pangan, terus mengawasi stok bahan pangan, harga dan kelancaran distribusi bahan pokok sepanjang 2021, guna memastikan ketersediaan bahan pokok aman hingga akhir tahun.

Kasatgas Pangan Polri Brigjen Pol Whisnu Hermawan mengatakan, dari hasil pantauan, kenaikan harga minyak goreng disebabkan oleh naiknya bahan baku produksi (CPO). Sedangkan kenaikan harga telur, lebih disebabkan pada mekanisme pasar, yakni naiknya permintaan. Whisnu mengatakan, kenaikan tersebut belum dilakukan intervensi oleh pemerintah, karena beberapa bulan lalu, harga telur sempat jatuh jauh di bawah harga pokok produksi (HPP). Diharapkan kenaikan harga telur saat ini ikut memperbaiki atau menutupi kerugian peternak ayam petelur yang dialami beberapa bulan sebelumnya. Sementara itu, kenaikan harga cabai rawit, menurut Whisnu, lebih disebabkan oleh gagal panen karena tingginya curah hujan, dan erupsi Gunung Semeru. Serta berakhirnya masa panen di beberapa sentra produksi. 

"Sehingga berdampak pada turunnya pasokan dan menyebabkan naiknya harga cabai di sejumlah wilayah," kata Whisnu.

Whisnu menambahkan, stabilnya harga pokok pada periode 2021 yang signifikan berpengaruh pada rendahnya inflasi nasional yakni sebesar 1,79 persen (year on year/YoY). 

Hingga kini Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi belum melakukan kebijakan khusus, untuk segera menekan harga sejumlah bahan pokok yang melambung tinggi. Namun, diharapkan intervensi dari pemerintah, dapat membuat stabilitas harga yang lebih wajar. 

Artikel selengkapnya bisa dibaca di Koran Info Indonesia.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo