POLHUKAM

Peleburan Eijkman Bikin BRIN Makin Gemuk

Anggota Komisi IX DPR RI, Kurniasih Mufidayati. (Dok DPR RI)
Anggota Komisi IX DPR RI, Kurniasih Mufidayati. (Dok DPR RI)


JAKARTA – Pemerintah telah meleburkan Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kini, lembaga pemerintah itu berganti nama menjadi Pusat Riset Biologi Molekuler (PRBM) Eijkman.

Menanggapi hal itu, Anggota Komisi IX DPR RI, Kurniasih Mufidayati menilai peleburan Eijkman membuat BRIN kini memiliki postur yang sangat gemuk dengan penggabungan lembaga-lembaga riset seperti BPPT, LIPI, Batan, dan Lapan. Selain itu, peleburan juga belum menunjukkan kejelasan arah sehingga berdampak pada keengganan dari peneliti untuk bergabung ke dalam BRIN.

"Sebelum dilebur Kepala BPPT juga tidak sepakat dengan istilah peleburan tapi koordinasi artinya ada semacam keengganan dari masing-masing entitas karena khawatir tentang nasib penelitian yang sudah berjalan saat ini," kata Mufida dalam keterangannya, Senin (3/1/2022).

Mufida juga khawatir peleburan Eijkman ke dalam BRIN berpengaruh terhadap kerja sama internasional. Menurutnya,  lembaga yang selama ini bekerja sama mendukung Eijkman akan meninjau ulang bahkan mundur.

"Isunya soal kepercayaan, apalagi sejak awal komposisi Dewan Pengarah BRIN yang terdiri dari politisi dan pebisnis bukan murni profesional di bidang riset yang menimbulkan pertanyaan dan lagi-lagi soal trust," imbuhnya.


Ia juga menyayangkan peleburan tersebut tidak dipersiapkan dengan baik. Apalagi, katanya, peran Eijkman di tengah pandemi COVID-19 sangat penting terutama dalam pengembangan vaksin.

"Kita sayangkan peleburan Eijkman terjadi pada saat-saat Eijkman tengah melakukan pekerjaan besar yakni pengembangan vaksin Merah Putih yang hingga kini belum diketahui kapan target selesainya. Termasuk penelurusan whole genome sequencing varian Omicron yang sudah mencapai 152 kasus di Indonesia," jelasnya.

Editor: Khoirur Rozi