POLHUKAM

PILPRES 2024

Airlangga Enggak Layak Dijual

Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto. (Net)
Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto. (Net)


JAKARTA - Elektabilitas Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto, menjadi sorotan sejumlah kalangan.

Sejumlah pengamat menilai cita-cita Airlangga maju menjadi calon presiden di 2024 sangat jauh dari kenyataan, meski memiliki kekuatan kapital dan jabatan mentereng.

Apalagi, elektabilitas Airlangga disebut masih lebih rendah dibanding kader Partai Golkar yang juga mantan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi. Hal itu berdasarkan hasil survei Indikator Politik Indonesia yang dipublikasikan pada 9 Januari 2022. Elektabilitas Dedi mencapai 1 persen, sedangkan Airlangga 0,1 persen.

"Artinya kalau Airlangga dikalahkan elektabilitasnya oleh seorang Dedi, itu menguatkan penilain saya, bahwa Airlangga ini tidak layak untuk dijual," kata pengamat politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, Selasa (11/1/2022).

Jamiluddin menerangkan, dirinya sudah sejak lama berkesimpulan Airlangga tidak layak jual, lantaran tak bisa memanfaatkan potensi yang dimilikinya. Di antaranya Ketua Umum Partai Golkar (Desember 2019-sekarang), mantan Menteri Perindustrian (Juli 2016-Oktober 2019), Menteri Koordinator Perekonomian (Oktober 2019-sekarang), dan eks anggota DPR (2004-Juli 2016).


Selain itu, kata dia, Airlangga termasuk pejabat yang paling gencar memasang billboard di kota-kota besar dan rajin mengunjungi tokoh-tokoh agama.

"Bahkan dia juga sudah punya relawan. Apalagi, dia berkuasa pada Satgas COVID-19, yang namanya setiap hari muncul di media. Artinya, kalau memang dia mempunyai nilai jual, pasti elektabilitasnya sudah meroket," paparnya.

Menurut Jamiluddin, kegagalan Airlangga mengoptimalkan potensinya tersebut imbas dari caranya membangun pencitraan yang cenderung formal bak pejabat Orde Baru. Padahal, cara ini sudah tak dilirik publik dan tidak sesuai perkembangan zaman.

"Harusnya sebagai seorang pemimpin, dia itu harus menyesuaikan sesuai eranya. Era sekarang menginginkan pemimpin-pemimpin yang lebih cenderung informal, yang lebih dekat dengan publik. Jadi, dia tidak memasang jarak dengan masyarakat dan dia duduk santai duduk lesehan dengan masyarakat. Nah, hal-hal seperti itu tidak tergambar pada sosok Airlangga," tuturnya.

Dia menilai, elite Golkar juga cenderung memaksakan Airlangga untuk maju sebagai capres. Menurutnya, seharusnya sudah mencari alternatif lain, mengingat Airlangga tidak layak untuk diperjuangkan. Dia berpendapat, apabila tetap memaksakan Airlangga, partai beringin bakal kembali kehilangan momentum untuk menjadikan kadernya sebagai capres ataupun cawapres sebagaimana Pilpres 2014 dan 2019. Padahal, Golkar termasuk partai papan atas lantaran selalu bertengger di tiga besar.

"Iya, itu makanya saya bilang, kalau mereka, elite-elite Golkar di DPP, itu masih ngotot (mengusung Airlangga), akan kehilangan momentum," tegasnya.

Jamiluddin pun menyarankan Golkar segera melakukan penjaringan internal dengan mengadakan survei, guna mengetahui pasti siapa kader yang pantas dijagokan pada Pilpres 2024.

Jika langkah tersebut dilakukan, partai peninggalan Orba ini bakal bersinar kembali dan meminimalisasi konflik antarfaksi-faksi yang ada.

"Kalau dilakukan survei, tentu lembaga survei yang kredibel yang diberi keluasan tanpa intervensi, maka diharapkan faksi-faksi Golkar dapat menerima. Tapi, kalau tidak, faksi-faksi itu akan muncul kembali dan itu akan membuat mereka hanya jadi penonton saat pilpres," tutupnya.

Sementara, politisi senior Partai Golkar, Melchias Markus Mekeng, menyarankan Airlangga Hartarto agar lebih banyak turun ke lapangan dan menyapa masyarakat untuk meningkatkan elektabilitas.

"Kalau ada yang ingin jadi pemimpin dan elektabilitasnya masih di bawah, ya harus berubah. Termasuk bagi Pak Airlangga, karena ini fakta," kata dia melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, kemarin.

Legislator Golkar tersebut berharap agar Airlangga Hartarto lebih bisa turun ke lapangan dan menyapa masyarakat. Sebab, dengan begitu masyarakat akan mengetahui dan simpati.
 
"Tujuannya agar elektabilitas Airlangga bisa ikut terangkat," ucap dia.

Khusus para kader, lanjut dia, akan terus melakukan sosialisasi. Akan tetapi, yang bersangkutan juga harus melakukan hal yang sama. Bahkan, jika ingin untuk menjadi seorang pemimpin tidak cukup hanya mengandalkan media sosial.

"Tidak semua rakyat yang tahu, misalnya, petani. Makanya harus harus turun," ujar anggota Komisi XI DPR tersebut.

Artikel selengkapnya bisa dibaca di Koran Info Indonesia.


Video Terkait:
Diduga, Airlangga Buka Suara Soal Perselingkuhan
Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo