OLAHRAGA

Drama Djokovic Semakin Mereda

Novak Djokovic. (Net)
Novak Djokovic. (Net)


JAKARTA - Permasalahan yang dialami oleh petenis nomor satu dunia, Novak Djokovic, yang akan berlaga di Australia Open 2022 perlahan mulai terjawab.

Djokovic akhirnya mengungkapkan telah terjadi kesalahan dokumen saat masuk ke Australia. Hal itu membuatnya menghadapi masalah pencabutan visa begitu mendarat di Bandara Tullamarine. Djokovic ditahan beberapa hari di hotel penampungan imigran di Melbourne, setelah visanya dibatalkan oleh petugas imigrasi, yang mempertanyakan dispensasi medisnya sebagai persyaratan wajib vaksin COVID-19.

Dia kemudian dibebaskan pada Senin (10/1/2022), setelah hakim membatalkan keputusan itu. Djokovic disebut tidak diberi waktu untuk berkonsultasi dengan pengacara dan ofisial tenis ketika tiba di Australia. Melalui Instagram, kemarin, Djokovic mengunggah pernyataan bahwa dokumen perjalanan yang membuatnya bermasalah itu diisi oleh anggota timnya Yang mengakibatkan kesalahan administratif adalah ketika anggota tim itu mencentang kotak 'tidak' untuk pertanyaan apakah pernah melakukan perjalanan ke suatu negara dalam 14 hari sebelum tiba di Australia.

"Ini adalah kesalahan manusia dan tentu saja tidak disengaja. Kita hidup di masa yang sedang sulit dalam pandemi global dan terkadang kesalahan ini bisa terjadi," kata Djokovic.

Pernyataan itu muncul ketika Menteri Imigrasi Australia, Alex Hawke, mempertimbangkan apakah perlu membatalkan visa petenis asal Serbia itu menjelang Australia Open, yang dimulai 17 Januari nanti.


Dikutip dari Reuters, Hawke menyatakan memberikan informasi palsu atau menyesatkan merupakan bentuk pelanggaran. Ancaman hukumannya maksimum 12 bulan penjara dan denda hingga AUD 6.600 atau sekitar Rp68 juta, serta pembatalan visa. Padahal, diketahui Djokovic terbang dari Abu Dhabi sebelum ke Melbourne.

Djokovic mengatakan, pengacaranya telah memberikan informasi tambahan kepada Pemerintah Australia untuk mengklarifikasi masalah tersebut. Dalam pernyataannya, Djokovic juga meminta maaf karena menghadiri sesi wawancara dan pemotretan oleh L'Equipe pada 18 Desember, sehari setelah dia mengatakan positif COVID-19.

"Ketika saya pulang ke rumah setelah wawancara untuk melakukan isolasi, saya berpikir sudah melakukan kesalahan karena seharusnya menjadwal ulang janji (wawancara dan pemotretan) ini," kata Djokovic.

Namun, Djokovic membantah laporan media yang menyebutkan dia juga tahu tertular COVID-19 ketika menghadiri acara tenis di Beograd untuk memberikan penghargaan kepada anak-anak pada 17 Desember.

"Saya tidak bergejala dan merasa baik, dan saya belum menerima pemberitahuan hasil PCR positif sampai setelah peristiwa itu," kata Djokovic.

Kasus pembatalan visa Djokovic juga mendapat atensi tinggi dari pemerintah Australia dan Serbia. Pada Selasa (11/1/2022) Perdana Menteri Australia Scott Morrison melakukan komunikasi telepon dengan PM Serbia, Ana Brnabic, untuk membicarakan masalah itu. Rilis resmi kantor PM Australia menyebut, pada kesempatan itu Morrison menjelaskan kepada Brnabic terkait aturan perbatasan nondiskriminatif yang diterapkan negaranya untuk melindungi Australia selama masa pandemi COVID-19.

Di lain sisi, Brnabic meminta Morrison memastikan Djokovic diperlakukan dengan bermartabat selama berada di Australia, untuk mengikuti Australia Open. Brnabic juga meminta agar waktu-waktu latihan Djokovic tidak terganggu lagi setelah sempat empat hari tidak boleh berlatih karena ditahan di hotel penampungan imigrasi.

"Keduanya sepakat untuk tetap menjalin komunikasi tentang perkembangan masalah ini," tulis rilis resmi kantor PM Australia dilansir Associated Press. 

Setelah memenangi sidang gugatan pembatalan visa di Pengadilan Federal Australia pada 10 Januari, Djokovic sudah melakukan sesi latihan secara tertutup di Rod Laver Arena sejak dua hari lalu. Dia hanya ditemani tiga ofisial. Meski demikian, media-media Australia tetap mengabadikan momen latihan Djokovic itu lewat tangkapan gambar udara.

Setelah komunikasi PM Australia dan Serbia berhasil dilakukan, wacana Pemerintah Federal Australia menolak visa Djokovic untuk kali kedua dan mendeportasinya dengan mekanisme undang-undang lain tampaknya juga akan batal. Kementerian Imigrasi Australia menyebut mereka masih menimbang-nimbang dan mengkaji masalah dari berbagai aspek.

"Semua proses masih ditimbang dan berjalan," tulis Kementerian Imigrasi Australia dalam rilis resmi dilansir ESPN.

Artikel selengkapnya bisa dibaca di Koran Info Indonesia.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo