DAERAH

Penilaian Smart City, Muba Capai Nilai Tertinggi di Sumsel

Kepala Dinas Kominfo Muba, Herryandi Sinulingga AP. (Ist)
Kepala Dinas Kominfo Muba, Herryandi Sinulingga AP. (Ist)


SEKAYU - Kabupaten Musi Banyuasin menjadi salah satu daerah dari 100 kabupaten/kota yang terpilih program menuju smart city. 

Setelah mengikuti hasil penilaian evaluasi, Muba berhasil menduduki capaian nilai tertinggi di Sumatera Selatan yakni 3.21. Diketahui, capaian daerah di Sumsel yang masuk penilaian 100 Kabupaten/Kota Smart City di antaranya Muba dengan 3.21, Kabupaten Muaraenim 2.97, Kabupaten Banyuasin 2.79 dan Kota Palembang 2.51.

"Dengan capaian nilai tertinggi di Sumsel ini dapat lebih menyemangatkan Kabupaten Muba dengan dukungan berbagai pihak menjadi daerah yang smart city," kata Kepala Dinas Kominfo Muba, Herryandi Sinulingga AP, melalui keterangan resmi, Sabtu (15/1/2022). 

Plt Bupati Muba, Beni Hernedi, mengaku bangga atas capaian tersebut. Ia mengucapkan terima kasih kepada Organisasi Perangkat Daerah terkait, khususnya Kominfo dan stakeholder lainnya yang dengan getol mewujudkan Muba menuju smart city. 

"Tentu dengan potensi sumber daya manusia yang smart di Muba harus diimbangi pula dengan capaian smart city," ungkapnya. 


Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G Plate, seperti dikutip pada surat Nomor B-1013/DJAI/AI.01.02/10/2021 Tanggal 12 Oktober 2021 tentang Undangan Mengikuti Penilaian Evaluasi Dalam Rangka Program Gerakan Menuju 100 Smart City 2021 menyebutkan Kabupaten yang terpilih melalui program Gerakan Menuju 100 Smart City diukur berdasarkan lima dimensi, dengan formulasi perhitungan yang berbeda.

"Di antaranya baseline (bobot 10 persen) menggambarkan nilai improvement yang diperoleh  berdasarkan hasil evaluasi Implementasi Masterplan dan Quick Win Smart City Tahun 2021. Output (bobot 20 persen) mencakup terbentuknya pondasi untuk pelaksanaan program smart city, untuk menilai sejauh mana pemerintah kota/kabupaten menyiapkan  kebijakan, kelembagaan, serta anggaran untuk program smart city," ucapnya. 

Kemudian outcome (bobot 30 persen), mencakup pelaksanaan rencana yang ada di masterplan  smart city, untuk menilai sejauh mana setiap rencana dijalankan oleh pemerintah daerah. Impact (bobot 20 persen) mencakup manfaat yang dirasakan masyarakat atas implementasi program smart city, untuk mengukur manfaat dan perbaikan pelayanan publik bagi masyarakat, keterlibatan masyarakat, serta keberlanjutan program yang telah berjalan. 

"Lalu, program percepatan atau quick win (bobot 20 persen) mencakup tingkat inovasi  program percepatan smart city, untuk menilai kreativitas dan daya inovasi pada program percepatan (quick win)," tandasnya.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo