POLHUKAM

Koalisi Partai Islam Cuma Mau Caper ke Rakyat

Pertemuan pimpinan Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Amanat Nasional (PAN). (Instagram/yusrilihzamhd)
Pertemuan pimpinan Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Amanat Nasional (PAN). (Instagram/yusrilihzamhd)


JAKARTA – Sejumlah pimpinan Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Amanat Nasional (PAN) menggelar pertemuan beberapa hari lalu. Pada pertemuan ini kedua elite partai mendiskusikan peluang membentuk koalisi partai-partai berbasis Islam menghadapi Pemilu 2024.

Menanggapi pertemuan itu, pengamat politik Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Abdi Negara (STIP-AN), Efriza mengatakan, wacana membentuk koalisi partai Islam hanya untuk mencuri perhatian masyarakat. Koalisi ini diharapkan mampu menjadi magnet bagi para tokoh agama.

"Khususnya PBB itu kan non parlemen, tidak diikutsertakan secara serius di parlemen walaupun pendukung pemerintah, itu mencoba mengambil popularitas atau menggambil perhatian dari masyarakat melalui poros Islam," kata Efriza saat dihubungi Info Indonesia, Jumat (21/1/2022).

Selain itu, pembentukan poros Islam juga disebabkan karena kader dari partai tersebut tidak ada yang mampu bersaing dalam Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2024.

"PBB mengajak PPP dan PAN, ya karena realistisnya partai yang bisa diajak adalah dua partai itu, yang tidak punya calon, tidak punya kader," tuturnya.


Menurut Elfriza, koalisi tersebut juga sebagai upaya menggabungkan kekuatan lantaran partai-partai itu memperoleh suara yang terbilang kecil pada Pemilu 2019 lalu. Di Parlemen, Fraksi PAN hanya memiliki 44 kursi atau 7,65 persen suara di DPR.

Sementara Fraksi PPP sendiri berada di urutan terakhir, dengan torehan 19 Kursi atau 3,30 persen suara DPR. Dengan total penggabungan dua partai tersebut, tentu masih jauh untuk memenuhi ambang batas pencalonan presiden.

"Poros islam yang dilakukan oleh PBB saat ini adalah fenomena partai-partai yang suaranya kecil," ujarnya.

Editor: Khoirur Rozi