WARNA-WARNI

Pengembangan Vaksin Merah Putih Terkendala Minimnya Pengalaman Peneliti

Ilustrasi pengembangan vaksin COVID-19. (Unsplash.com)
Ilustrasi pengembangan vaksin COVID-19. (Unsplash.com)


JAKARTA - Pengembangan vaksin Merah Putih sampai saat ini masih terus dilakukan oleh sejumlah tim. Namun, upaya menghadirkan vaksin COVID-19 buatan lokal ini terkendala minimnya pengalaman tim peneliti.

"Problem utama pengembangan vaksin Merah Putih adalah kita belum memiliki tim yang punya pengalaman. Jadi semua tim bekerja keras mencoba-coba karena belum pernah ada," kata Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko dikutip dari Antara, Senin (24/1/2022).

Handoko menjelaskan, pengembangan vaksin memerlukan jam terbang yang tinggi untuk menghasilkan sel klon yang sudah terseleksi.

Selain pengalaman, kata dia, Indonesia belum memiliki fasilitas uji berstandar Good Manufacturing Practices (GMP). Fasilitas itu dibutuhkan untuk menjamin kualitas dan keamanan dari produk yang dihasilkan.

Di samping itu, fasilitas Biosafety Laboratorium Level 3 (BSL-3) di Indonesia juga masih minim. Fasilitas itu untuk kebutuhan uji pra klinis.


"BRIN sedang berupaya untuk membangun fasilitas GMP untuk produksi terbatas, termasuk animal BSL-3 Macaca. Kami berharap dengan adanya dua fasilitas ini kita bisa mendorong percepatan vaksin merah putih, dan vaksin lainnya," jelasnya.

Menurutnya, terdapat tujuh tim yang tergabung dalam pengembangan vaksin Merah Putih ini yakni ITB, dua tim dari Universitas Indonesia, Pusat Riset Biologi Molekuler (PRBM) Eijkman BRIN, Universitas Padjadjaran, LIPI, dan tim Universitas Airlangga.

Meski terdapat beberapa kendala, Laksana memastikan pihaknya bersama peneliti lainnya akan terus fokus dalam pengembangan vaksin Merah Putih, pengembangan alat deteksi COVID-19 non RT-PCR dan surveilans berbasis whole genome sequencing (WGS).

Editor: Khoirur Rozi