POLHUKAM

Transmisi Lokal Omicron Meningkat, Evaluasi Kebijakan PTM

Wapres RI, Maruf Amin. (Net)
Wapres RI, Maruf Amin. (Net)


JAKARTA - Penyebaran kasus COVID-19 varian Omicron lewat penularan antarwarga di suatu wilayah atau transmisi lokal mengalami peningkatan signifikan.

Wakil Presiden Maruf Amin meminta seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan terkait transmisi lokal Omicron, meskipun gejala yang disebabkan oleh virus tersebut relatif ringan.

Wapres meminta pengetesan, pelacakan, dan perawatan (testing, tracing, treatment) terhadap masyarakat guna menekan angka penularan COVID-19 ditingkatkan.

"Lakukan peningkatan jumlah tes, tracing, mengingat mereka yang terpapar varian ini kebanyakan orang tanpa gejala dan juga orang dengan komorbid, sakit ringan. Ini berpotensi besar untuk memicu penularan berkelanjutan di masyarakat," kata Wapres dalam keterangan dari Biro Pers, Media, dan Informasi (BPMI) Sekretariat Wapres (Setwapres) yang diterima di Jakarta, Senin (24/1/2022).

Wapres juga mengimbau seluruh pihak mendukung percepatan vaksinasi COVID-19, termasuk pemberian vaksin penguat atau booster kepada masyarakat. Dalam rapat terbatas yang dipimpin Wapres tersebut, diputuskan perpanjangan PPKM di Jawa dan Bali hingga 31 Januari, meskipun peningkatan kasus dalam beberapa saat terakhir masih terkendali.


Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman, meminta pemerintah untuk mengevaluasi kembali proses pembelajaran tatap muka (PTM), mengantisipasi prediksi gelombang ketiga COVID-19 pada Februari-Maret tahun ini.

"PTM sebaiknya di-suspend, setidaknya dari akhir Januari sampai awal Maret tahun ini. Karena itu periode prediksi masa krisis di Indonesia pada Februari-Maret," ujar Dicky.

Dia mengatakan, meski pemerintah melaksanakan program vaksinasi terhadap para siswa, namun belum semua siswa yang mendapatkan vaksinasi.

"Risikonya cukup berat untuk anak-anak. Terbukti dari negara-negara lain menunjukkan kasus infeksi anak meningkat," katanya.

Ia mengingatkan, Omicron merupakan varian yang berbahaya karena masuk dalam variant of concern (VOC) yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Omicron ini variant of concern, itu berbahaya, serius dampaknya, dan ada potensi menyebabkan kematian dan keparahan," tuturnya.

Ia menambahkan, setiap VOC mempunyai kelebihan atau daya rusak, sehingga perlu diwaspadai. 

"Kenapa dia menjadi variant of concern, berarti dia bisa memperburuk situasi pandemi, termasuk menyebabkan kematian," katanya.

Menurutnya, varian Omicron tidak ada bedanya dengan varian yang masuk VOC lainnya, seperti Alpha, Beta, Delta, Gamma. Di Indonesia, lanjut dia, terdapat dua kasus fatalitas atau meninggal akibat varian Omicron. Maka itu, langkah mitigasi harus segera dilakukan.

"Sekarang ini kita baru lihat pada lansia, kalau kita tidak cepat melakukan mitigasi, kematian pada anak akan muncul," ucapnya.

Kementerian Kesehatan melaporkan dua pasien COVID-19 terkonfirmasi Omicron telah meninggal dunia. Tercatat, sejak 15 Desember hingga saat ini, secara kumulatif tercatat 1.161 kasus konfirmasi Omicron ditemukan di Indonesia.

Artikel ini juga dimuat di Koran Info Indonesia.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo