EKONOMI

Masa Depan Kopi Indonesia Semakin Cerah

Menteri LHK, Siti Nurbaya, mengunjungi stand pameran pada pembukaan Festival Pesona Kopi Agroforestry 2022 di Jakarta. (KLHK)
Menteri LHK, Siti Nurbaya, mengunjungi stand pameran pada pembukaan Festival Pesona Kopi Agroforestry 2022 di Jakarta. (KLHK)


JAKARTA - Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan yang membawa nama Indonesia menempati urutan keempat sebagai produsen kopi terbesar di dunia.

Dengan besarnya potensi kopi di Indonesia maka terbukalah peluang pasar kopi sebagai kesempatan emas bagi masyarakat Indonesia untuk berwirausaha di bidang perkopian.

Tidak dapat dipungkiri, kopi  juga telah menjadi bagian penting sejak lama, dalam kehidupan dan pengembangan kesejahteraan kelompok masyarakat, khususnya smallholders agroforestry. Mereka mengelola tanaman kopi sebagai underneath cover, sehingga secara sustainable tetap menjaga kelestarian hutan.

Indonesia merupakan satu-satunya negara yang menerapkan kopi agroforestry atau kopi di dalam kawasan hutan dengan pola agroforestry. Untuk mendukung perkembangan kopi agroforestry, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyelenggarakan Festival Pesona Kopi Agroforestry Tahun 2022.

"Melalui agroforestry, kelestarian hutan akan terjaga dan kesejahteraan masyarakat akan meningkat karena dapat memanfaatkan ruang kosong di antara tegakan hutan. Salah satunya dengan pengembangan pola agroforestry kopi yang dapat memberikan nilai tambah antara lain cita rasa kopi yang khas sehingga memiliki nilai tinggi (kopi specialty) dan memberikan dampak positif terhadap lingkungan antara lain menjaga konservasi tanah dan air, iklim mikro dan meningkatkan serapan karbon," jelas Menteri LHK, Siti Nurbaya, pada pembukaan Festival Pesona Kopi Agroforestry di Jakarta, Selasa (25/1/2022) malam.


Menanggapi pesatnya perkembangan kopi di Indonesia, Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat, mengatakan kopi telah menjadi bagian dari kehidupan Indonesia. Apresiasi disampaikan kepada pelaku usaha yang telah membuktikan bahwa kopi bisa menjadi primadona bagi pertumbuhan dan kebangkitan ekonomi. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Media Indonesia yang secara konsisten menghadirkan festival kopi setiap tahun.

Di tengah pandemi, Lestari mengungkapkan, dirinya justru melihat menjamurnya rumah-rumah kopi di seluruh pelosok, bahkan sampai di kota-kota kecil. Ternyata kopi juga memberikan sarana untuk berkreativitas. Kopi juga menghasilkan bukan hanya nilai tambah, tapi yang lebih dari itu kopi juga menjadi salah satu sarana yang membantu kita menyelesaikan permasalahan sosial termasuk permasalahan sosiologis yang dihadapi akibat pandemi.

"Masih ada ruang yang cukup besar untuk kita kembangkan, untuk membangun industri kopi, untuk meningkatkan nilai ekonomi. Dan tentu untuk melibatkan masyarakat agar mendapatkan manfaat dari kopi itu sendiri," katanya.

Tahun ini, Festival Pesona (Perhutanan Sosial Nasional) mengangkat tema Kopi Agroforestry dengan tagline "Petani, Kopi dan Konservasi" yang pelaksanaannya berkolaborasi dengan kegiatan festival kopi dalam rangka ulang tahun Media Indonesia. Kerja sama antara KLHK dan Media Indonesia ini sebagai wujud dari penerapan konsep pentahelix atau multipihak yang melibatkan unsur pemerintah, masyarakat/NGO, akademisi, pelaku usaha dan media massa untuk bersinergi serta berkomitmen dalam mendukung program perhutanan sosial.

CEO Media Group Network, M Mirdal Akib, mengatakan, kebiasaan merayakan hari jadi dengan menggelar festival kopi merupakan hal yang unik dari harian Media Indonesia. Hal ini dilatarbelakangi kesadaran akan pentingnya sebuah wadah yang berkontribusi terhadap pengembangan dan pertumbuhan industri kopi, khususnya UMKM di Indonesia.

"Masa depan kopi akan semakin cerah dengan tren terkini. Zaman saya dulu, minum kopi itu kerjaannya orang tua tapi perkembangan 5-10 tahun terakhir kopi kini dinikmati oleh sebagian besar anak muda," katanya.

Dalam laporannya, Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) menyampaikan capaian program Perhutanan Sosial dan Hutan Adat mencapai 4,9 juta hektare dan telah terbentuk 8.154 KUPS yang mencakup 1,02 juta KK, yang melakukan kegiatan usaha pemanfaatan hutan dan hasil hutan kayu, hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan.

Dalam kesempatan itu, Menteri Siti bersama Lestari Moerdijat dan M Mirdal Akib mengunjungi stand-stand pameran hasil perhutanan sosial dari seluruh Indonesia. Masing-masing stand menampilkan produk kopi agroforestry dan hasil perhutanan sosial lainnya, serta kisah sukses petaninya yang tergabung dalam Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS).

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo