POLHUKAM

Johan Budi Sindir Firli Bahuri Soal Integritas

Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Johan Budi Sapto Prabowo (JBSP). (Net)
Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Johan Budi Sapto Prabowo (JBSP). (Net)


JAKARTA - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Firli Bahuri dan juga para insan di lembaga antirasuah itu harus berintegritas sebelum memberikan pendidikan atau penanaman nilai antikorupsi, dan integritas kepada masyarakat.

Hal itu disampaikan anggota Komisi III DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Johan Budi Sapto Prabowo atau JBSP, dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi Hukum DPR RI dengan KPK, di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/1/2022).

"Pesan saya kepada pimpinan KPK, kepada insan-insan di KPK, kepada saya juga, ketika Anda mengajari salah seorang untuk berintegritas, maka kita harus lebih dulu berintegritas," ujar mantan Juru Bicara KPK itu.

Johan yang juga merupakan mantan pelaksana tugas pimpinan KPK mengatakan, akan menjadi sia-sia apabila pendidikan yang diberikan oleh KPK tidak mampu diterapkan oleh internal lembaganya sendiri.

"Jadi tidak ada gunanya Anda mengajari orang, tidak ada gunanya memberi pendidikan antikorupsi kalau diri kita sendiri tidak melakukan itu," kata Johan, yang juga mantan wartawan.


Sehingga, dia meminta agar integritas dan nilai antikorupsi itu menjadi suatu kewajiban yang harus dipegang setiap insan dan pimpinan KPK, agar masyarakat juga turut menjalankan nilai yang ditanamkan.

Sebagaimana diketahui, Ketua KPK Firli Bahuri sempat tersandung kasus etik hingga disidangkan perkaranya oleh Dewan Pengawas KPK. Ia diduga melanggar etik terkait penggunaan helikopter mewah. Meski begitu, Firli hanya dijatuhkan vonis ringan berupa sanksi Teguran Tertulis II dan diingatkan agar tidak mengulangi perbuatannya.

Begitupun dengan Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar. Ia terbukti bersalah karena melanggar etik terkait komunikasinya dengan  Wali Kota Tanjungbalai, Syahrial, yang kala itu sedang berperkara di KPK. Lili pun diganjar dengan sanksi cukup berat berupa pemotongan gaji pokok sebesar 40 persen selama satu tahun.

Jauh sebelum itu, juga ada bekas penyidik KPK Stepanus Robin Pattuju yang man terlibat dalam kasus suap dalam suatu perkara korupsi. Karena telah terbukti bersalah, Robin divonis 11 tahun penjara dan denda 500 juta subsidair 6 bulan kurungan.


Video Terkait:
Usai Dipecat Firli, Eks Pegawai KPK Jadi Tukang Nasgor
Editor: Saeful Anwar