DAERAH

Dua Raptor Kembali ke Habitatnya di Hutan Gunungkidul

BKSDA Yogyakarta dan Kejari Gunungkidul melepasliarkan Elang Ular Bido dan Elang Brontok hasil rehabilitasi. (KLHK)
BKSDA Yogyakarta dan Kejari Gunungkidul melepasliarkan Elang Ular Bido dan Elang Brontok hasil rehabilitasi. (KLHK)


YOGYAKARTA - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta bersama Kejaksaan Negeri Gunungkidul melepasliarkan dua burung pemangsa (raptor) yaitu Elang Ular Bido (Spilornis cheela) dan Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus).

Pelepasliaran dilakukan di Komplek Stasiun Flora Fauna (SFF) yang termasuk bagian kawasan Taman Hutan Raya Bunder Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Selasa (25/1/2022).

Elang Ular Bido tersebut merupakan hasil serahan warga Sleman pada Januari 2019, sementara Elang Brontok merupakan serahan pada Juni 2013. Burung pemangsa tersebut sebelumnya menjalani rangkaian assesment dan rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Raptor- SFF Bunder di bawah pengelolaan BKSDA Yogyakarta.

Setelah melalui assesment dan diobservasi dari aspek kesehatan dan perilakunya, akhirnya satwa tersebut dinyatakan siap untuk kembali ke habitatnya. Tak lupa pada tahap terakhir sebelum pelepasliaran telah dipasang wing maker dalam upaya memudahkan pemantauan.

Kepala BKSDA Yogyakarta, M Wahyudi, mengapresiasi keterlibatan Kejari Gunungkidul pada pelepasliaran satwa kali ini. 


"Kegiatan pelepasliaran satwa burung pemangsa ini menggandeng Kejaksaan Negeri Gunungkidul sebagai salah satu wujud apresiasi aparat penegak hukum yang telah membantu dalam upaya penegakan hukum di bidang tindak pidana kehutanan selama ini," jelasnya.

Turut hadir dalam pelepasliaran satwa tersebut Kepala Kejari Gunungkidul, Ismaya Herawati Wardanie, beserta jajaran. Ia menyatakan mendukung penuh upaya penegakan hukum di bidang kehutanan. 

"Kami juga telah menyelesaikan beberapa kasus peredaran satwa dilindungi hingga inkrah pada tahun 2021," kata Ismaya.

M Wahyudi juga menyampaikan bahwa tujuan utama dari rehabilitasi satwa adalah pengembalian satwa liar ke habitat aslinya. 

"Ini salah satu harapan dari kegiatan konservasi satwa liar bahwa satwa dapat kembali lagi ke alam," ujarnya.

Lebih lanjut, M Wahyudi mengungkapkan bahwa kegiatan pelepasliaran satwa merupakan agenda rutin dari BKSDA Yogyakarta, baik dilakukan di lingkungan SFF Bunder, di dalam maupun luar wilayah Yogyakarta.

"Kami tegaskan pula bahwa kegiatan ini juga sesuai dengan arahan Dirjen KSDAE KLHK untuk mempercepat proses pelepasliaran satwa yang masih terdapat di pusat rehabilitasi satwa. Dengan dilepaskannya burung pemangsa ini selanjutnya kandangnya dapat diisi kembali oleh burung pemangsa lainnya untuk proses persiapan lepas liar berikutnya," jelasnya.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo