POLHUKAM

China 'Turun Gunung', Semua Pihak Diminta Tetap Tenang

Ketegangan di Perbatasan Ukraina-Rusia Harus Diselesaikan Secepatnya

Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan (kiri) bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi (kanan) di kota Tengchong, Provinsi Yunnan Tiongkok barat daya. (Istimewa)
Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan (kiri) bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi (kanan) di kota Tengchong, Provinsi Yunnan Tiongkok barat daya. (Istimewa)


JAKARTA - Pemerintah China buka suara soal eskalasi militer yang terjadi antara blok NATO pimpinan Amerika Serikat (AS) dan Rusia di wilayah Ukraina.

Melalui sambungan telepon pada hari, Rabu (26/1/2022) malam waktu setempat, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi menyampaikan kepada Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken jika permasalahan tersebut harus diselesaikan secepatnya.

Namun, dirinya meminta semua pihak untuk tetap tenang dan menahan diri dari melakukan hal-hal yang memicu ketegangan, dan memicu krisis.

Wang, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (27/1/2022), menyebut jika masalah keamanan yang melibatkan Rusia merupakan sesuatu sangat serius. Maka dari itu pihaknya meminta agar negeri Paman Sam tidak membesarkan dominasi militernya di sana.

Russian army service members are seen next to an armoured personnel carrier BTR-82 during drills at the Kuzminsky range in the southern Rostov region, Russia. (26/1/2022). (Reuters)


Pada wilayah Ukraina Timur ketengangan NATO dan Rusia cukup panas. Keduanya sama-sama mengerahkan kekuatan militer dengan jumlah yang cukup besar.

Eskalasi ini memuncak setelah beberapa wilayah Ukraina seperti Krimea, Donbass, dan Donetsk direbut oleh pasukan milisi separatis pro-Kremlin. Hal ini membuat Kiev meradang dan memanggil pasukan NATO untuk membantu.

NATO yang notabenenya rival pertahanan Rusia di kawasan Eropa, merespons permintaan Kiev dengan menerjunkan armada tempurnya ke sekitar wilayah itu. Salah satunya adalah kapal perang canggih yang diturunkan AS, Inggris, dan Belanda.

Hal ini pun mengundang reaksi keras dari Rusia yang menolak kehadiran angkatan bersenjata NATO. Moskow pun melakukan mobilisasi pasukan besar-besaran ke sekitar wilayah itu.

Sejauh ini belum ada kepastian antara negara-negara tersebut. Terbaru, dilaporkan Moskow dan Kiev mengatakan akan mematuhi gencatan senjata di perbatasan. Meski begitu, ancaman serangan bersenjata ke depan belum disinggung secara pasti.


Video Terkait:
PERANG HYBRID PUTIN #Hari ke 2
Editor: Saeful Anwar