EKONOMI

Jaminan Keanggotaan Golf BPJS Ketenagakerjaan Dibeli Dari Iuran Masyarakat

Ilustrasi. (Net)
Ilustrasi. (Net)


JAKARTA - Jaminan keanggotaan golf senilai Rp3 miliar yang tertuang dalam laporan keuangan BPJS Ketenagakerjaan dibeli dengan uang iuran peserta.

Begitu dikatakan Anggota Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan periode 2016-2021 dari unsur tokoh masyarakat, Poempida Hidayatulloh, saat berbincang dengan Info Indonesia, Kamis (24/2/2022).

"Lah iyalah. Itu sudah jadi catatan kita pada saat itu," katanya.

Menurut mantan politisi Partai Golkar itu, anggaran senilai Rp3.107.810.580 yang digunakan untuk jaminan keanggotaan golf disebut sebagai aset investasi. Ia menduga program itu juga dimanfaatkan oleh sejumlah pihak berkuasa di BPJS Ketenagakerjaan.

"Mungkin itu dipakai oleh beberapa orang yang suka main golf di BPJS. Nah itu harus ditanya, tapi siapa yang pakai karena memang boleh dipakai, membership kan memang boleh dipakai. Yang jelas kita suka ada yang suka main golf lah. Saya enggak tahu tuh, harus ditanya ke sekretariat badan, dia yang paham," papar Poempida.


Ia menjelaskan bahwa anggaran tersebut merupakan harga awal yang dibeli untuk membayar jaminan keanggotaan golf di tujuh lokasi padang golf. Meskipun disebut sebagai aset investasi, Poempida sama sekali tidak mengetahui bagaimana perkembangan harga aset tersebut.

"Itu yang saya tidak bisa hitung karena susah. Harusnya lebih mahal. Itu harga perolehan zaman dulu, itu harga beli," tukasnya.

Disampaikan Poempida sebelumnya bahwa jaminan keanggotan golf itu sudah dibeli sejak sebelum tahun 2014. Masih tercatat sebagai aset BPJS Ketenagakerjaan hingga saat ini karena dianggap sudah tidak laku di pasaran, bahkan ia sendiri menyebut aset tersebut sebagai barang busuk di BPJS Ketenagakerjaan.

"Waktu itu kalau pun mau ditutupi secara pembukuan, saya bilang jual saja ke anak perusahaan supaya enggak ada di bukunya BPJS, nanti anak perusahaan kan cuma memindahkan barang saja. Memang ini barang busuk sebenarnya, ini adalah keputusan investasi yang istilahnya barang busuk, benar-benar sudah enggak bisa diapa-apakan," jelasnya.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo