EKONOMI

Gandeng Perusahaan Swasta Genjot Inovasi Energi Terbarukan

Kolaborasi penandatanganan naskah pengaturan pelaksanaan program Renewable Energy Skills Development (RESD), Rabu (2/3/2022). (Sumber foto: Kemendikbudristek)
Kolaborasi penandatanganan naskah pengaturan pelaksanaan program Renewable Energy Skills Development (RESD), Rabu (2/3/2022). (Sumber foto: Kemendikbudristek)


JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) meningkatkan kolaborasi melalui penandatanganan naskah pengaturan pelaksanaan program Renewable Energy Skills Development (RESD).

Kolaboratif itu dilaksanakan oleh The Swiss State Secretariat for Economic Affairs (SECO) melalui GFA Consulting Group dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang menggabungkan antara pendidikan tinggi vokasi baik dengan perguruan tinggi, industri, kementerian/lembaga maupun nonkementerian/lembaga ini. Adapun targetnya yakni diharapkan dapat melahirkan berbagai inovasi yang menjadi solusi alternatif bagi kebutuhan energi di masa depan.

“Kolaborasi dapat membuka ruang lebih besar untuk berkarya dan berdaya saing, tanpa adanya kerja sama, ide-ide inovasi akan memiliki sekat dan terbatas. Kerja sama melalui sinergi penyelenggaraan pendidikan tinggi, diharapkan dapat mendukung kekuatan ekonomi nasional,” tutur Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi), Kemendikbudristek, Wikan Sakarinto  ketika menyaksikan penandatanganan di Jakarta, dikutip, Jumat (4/3/2022).

Wikan menuturkan, kebijakan pemerintah saat ini berfokus pada pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup  (green economy) dan pembangunan yang mengembangkan sumber daya laut (blue economy). Wikan juga menyatakan dukungan penuh pertumbuhan inovasi yang dikonsentrasikan pada energi terbarukan melalui skema kolaborasi di dalam negeri.

“Pembukaan program studi baru dan dukungan dalam join research tentang energi terbarukan terus dilakukan untuk meningkatkan inovasi di bidang energi baru. Dukungan terhadap rencana program Renewable Energy Skills Development (RESD) yang diinisiasi oleh pihak SECO merupakan salah satu wujud konkret, dan diharapkan animo calon peserta didik terhadap bidang ini akan terus bertambah,” ungkap Wikan.

Selain itu, Kemendikbudristek sebagai anggota komite pengarah program, melihat bahwa ikhtiar yang dilaksanakan bersama dengan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) ini dapat memperkuat peran perguruan tinggi sebagai mitra pendidikan dan penelitian di bidang energi.

“Ditjen Pendidikan Vokasi siap untuk bersama-sama mendorong terpenuhinya lulusan yang siap kerja di bidang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pembangkit listrik hybrid surya diesel, dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA),” tegasnya.

Pembelajaran berbasis projek (project-based learning) yang dimiliki pada jenjang diploma empat di program ini, kata Wikan, merupakan pilihan tepat dalam melahirkan talenta terbaik yang mampu bekerja, berwirausaha, serta menciptakan kreativitas dan inovasi. Program studi jenjang diploma empat yang akan menghasilkan sarjana terapan, tidak hanya menghasilkan lulusan terampil dalam hal praktis namun juga memiliki jiwa kepemimpinan (leadership) dan kemampuan nonteknis (soft skills) yang tinggi.

“Jalur penerimaan mahasiswa untuk program D4 Konsentrasi Energi Terbarukan nantinya dapat dilakukan melalui jalur alih jenjang, dan jalur mandiri di masing-masing Politeknik terpilih mulai bulan Maret tahun ini,” tambah Direktur Akademik Pendidikan Tinggi Vokasi, Kemendikbudristek, Beny Bandanadjaja.    

Dalam kolaborasi ini, pihak SECO mengalokasikan bantuan dana sebesar Rp5 miliar untuk pelaksanaan program yang dimulai tahun ini sampai dengan tahun 2025 untuk pengembangan pendidikan tinggi vokasi khususnya pada bidang bidang energi terbarukan solar, hidro, dan energi gabungan/hibrida (hybrid) di Indonesia.

 

Beberapa politeknik penerima manfaat di lingkup Kemendikbudristek, yaitu Politeknik Negeri Bali (PNB), Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP), Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), dan Politeknik Negeri Manado (Polimdo), termasuk untuk Politeknik Energi dan Mineral (PEM) Akamigas di bawah lingkup Kementerian ESDM. Program ini menargetkan 450 lulusan Diploma 4 dengan gelar Sarjana Terapan Teknik Energi Terbarukan, khususnya bidang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

“Pelaksanaan program diperkuat dengan pendampingan dari lembaga pendidikan di Swiss termasuk Swiss University of applied sciences dan Swiss Federal Institute for Vocational Education untuk memberikan masukan praktik baik di bidang vokasi dan kerja sama industri,” ujar Martin Stottele selaku pimpinan pelaksana program Renewable Energy Skills Development (RESD).

Sementara itu Direktur Politeknik Negeri Ujung Pandang, Muhammad Anshar menyatakan antusias atas keterlibatan lembaganya dalam program ini. Terlebih, pengelolaan energi terbarukan menjadi solusi atas biaya yang besar untuk menyediakan kebutuhan energi saat ini khususnya di wilayah timur Indonesia.


“Kami menyambut baik kerja sama ini, harapannya dengan adanya program ini bisa percepat penciptaan sumber energi terbarukan di Ujung Pandang,” kata dia.  

Wikan juga merespons dengan menyampaikan ucapan terima kasih atas agenda pendanaan yang diberikan. Ia pun meminta pepada para pemimpin perguruan tinggi untuk dapat merumuskan keunggulan program studi sesuai dengan potensi sumber daya di daerah yang dimiliki, sekaligus mendukung inovasi dalam kurikulum melalui pengembangan bahan ajar, pertukaran mahasiswa, maupun kegiatan riset yang dapat membuahkan karya nyata untuk bangsa.
 

Tujuan utama dari program RESD sendiri yaitu menciptakan tenaga kerja yang kompeten di bidang perencanaan, desain, pembangunan dan pemasangan, inspeksi dan pengujuan operasional secara riil (commissioning), supervisi, pengoperasian dan pemeliharaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pembangkit listrik secara hibrida (hybrid) yakni surya diesel, dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).  

Program ini dilakukan melalui penciptaan program D4 konsentrasi energi terbarukan di lima politeknik negeri, kemudian peluncuran program pelatihan energi terbarukan di lima lembaga pelatihan kerja, dan yang terakhir yaitu penguatan pertukaran informasi dan komunikasi di sektor energi terbarukan di Indonesia.

Editor: Aprilia Rahapit