EKONOMI

Siap-siap Harga Pertamax Naik

Petugas mengisi Pertamax ke kendaraan konsumen di SPBU Abdul Muis, Jakarta. (Antara Foto/Rivan Awal Lingga)
Petugas mengisi Pertamax ke kendaraan konsumen di SPBU Abdul Muis, Jakarta. (Antara Foto/Rivan Awal Lingga)


JAKARTA - Harga minyak dunia yang naik signifikan semakin memberatkan Pertamina. Penyesuaian harga BBM jenis Pertamax dirasa perlu dilakukan demi menjaga keberlangsungan bisnis.

Saat ini, Pertamina tengah mengkaji potensi penyesuaian harga BBM RON 92 itu seiring kenaikan harga minyak mentah dunia beberapa waktu terakhir. Salah satunya diakibatkan konflik antara Rusia dengan Ukraina. 

Pjs Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, SH C&T PT Pertamina, Irto Ginting, mengaku belum bisa merinci lebih jauh berapa besaran kenaikan harga Pertamax. Namun, secara umum penyesuaian harga BBM nonsubsidi senantiasa mempertimbangkan harga minyak dunia, kurs dolar, serta harus sesuai dengan Keputusan Menteri ESDM.

Pria yang juga Sekper Subholding Commercial & Trading Pertamina ini mengatakan, tren konsumsi Pertamax kian meningkat setiap tahunnya. Sebagai gambaran, konsumsi Pertamax mencapai 8 persen dari total konsumsi BBM nasional 2020. Jumlah ini meningkat menjadi 12 persen dari total konsumsi BBM nasional pada 2021. Selain itu, secara rata-rata, konsumsi Pertamax mencapai 13 persen dari total konsumsi BBM nasional.

Sesuaikan Harga Keekonomian
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menyebut, harga Pertamax yang dijual Pertamina saat ini menjadi paling murah di kelasnya. Mengingat harga BBM nonsubsidi ini tidak pernah naik sejak lebih dari dua tahun terakhir. Hingga awal Maret 2022, Pertamax dijual Rp9.000 per liter di sejumlah daerah di Tanah Air, jauh di bawah harga sejenis dari pesaing Pertamina yang berkisar Rp11.900-12.990 per liter.


Komaidi mengatakan, secara regulasi, Pertamina sangat berpeluang menyesuaikan harga Pertamax. Kenaikan harga Pertamax mendekati harga produk sejenis dari perusahaan lain tidak akan menjadi masalah, karena dampak terhadap inflasi seharusnya terkendali.

"Dampak inflasi tidak akan diteruskan karena akan terhenti pada pengguna akhir. Pertamax tidak terkait langsung dengan proses produksi dan distribusi barang dan jasa," ujarnya di Jakarta, Selasa (15/3/2022).

Pengajar di Universitas Trisakti itu mengakui, jika kenaikan harga minyak dunia saat ini kian memberatkan Pertamina. Harga Pertamax yang berlaku masih menggunakan acuan asumsi harga minyak Indonesia atau ICP APBN 2022 yang ditetapkan sebesar USD65 per barel. Padahal, harga minyak dunia terus menunjukkan tren peningkatan jauh di atas asumsi tersebut.

Dari sisi konsumsi, pengguna Pertamax juga terus bertambah. Pemilik kendaraan bermotor banyak yang menggunakan produk Pertamax karena berkualitas dan ramah lingkungan dibandingkan BBM dengan RON di bawahnya.

"Kewenangan penentuan harga BBM nonsubsidi ada pada badan usaha. Namun itu juga bergantung pada pemegang saham," jelas Komaidi.

Dia menambahkan, prasyarat utama bagi Pertamina untuk menyesuaikan harga Pertamax adalah melakukan komunikasi dengan pemerintah. Jika pemerintah memberikan restu, maka Pertamina bisa menaikkan harga Pertamax.

"Tidak menjadi terlalu harus diumumkan seperti BBM subsidi karena pelaku lain juga demikian," ujarnya.

Peneliti pada Center for Economics and Development Studies (CEDS) Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, mengatakan, sebaiknya harga BBM domestik harus mendekati harga internasional, minimal 80-90 persen. Hal ini untuk menjaga keseimbangan agar pasar domestik tetap terjaga. Serta untuk menghindari kelangkaan pasokan karena BBM bisa diselundupkan ke luar negeri.

"Walaupun harga BBM lebih mahal, suplai bisa dijaga daripada harga murah, tetapi berbondong-bondong antre," ujarnya.

Staf pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unpad itu menjelaskan, kebijakan untuk menahan harga Pertamax tidak baik bagi perekonomian. Jika harga BBM yang menjadi kewenangan badan usaha ditahan, akan memberikan cost yang lebih banyak bagi ekonomi.

"Fungsi nilai keekonomisan dari harga ini karena untuk mengurangi impor migas. Sulit untuk mengurangi konsumsi migas, terkecuali dengan menaikkan harga," jelas Yayan.

Artikel ini juga ditayangkan di koran Info Indonesia. 

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo