POLHUKAM

Anak Omicron Bikin Ramadan Ketat Lagi

Jubir Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito. (Humas BNPB)
Jubir Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito. (Humas BNPB)


JAKARTA - Satuan Tugas Penanganan COVID-19 mencatat penyebaran varian Omicron BA.2 di Indonesia yang telah terdeteksi di 19 provinsi.

"Berdasarkan data dari GISAID, sejak awal tahun 2022 mulai terlihat kenaikan Omicron BA.2 dan jumlahnya telah mencapai 8.302 sequence Indonesia. Saat ini varian ini telah terdeteksi di 19 provinsi di Indonesia," kata Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, Selasa (15/3/2022).

Pemerintah juga mengantisipasi penyebaran varian BKA yang terindikasi merupakan pencampuran genetik varian Delta dengan Omicron atau disebut Deltacron. Varian ini disebut telah terdeteksi di sejumlah negara di Eropa.

"Penamaan resmi varian ini belum ditetapkan oleh WHO. Sampai saat ini data terkait karakteristik varian tersebut masih sangat terbatas dan WHO dalam media briefing pada tanggal 10 Maret 2002 menyebutkan bahwa dari hasil pertemuan grup penasehat teknis terkait reproduksi virus yang terdiri dari para pakar virus di dunia, dampak varian ini terhadap indikator epidemiologi maupun tingkat keparahan gejala belum dapat dipastikan dan masih terus diteliti," papar Wiku.

Menurut dia, penting untuk dipahami bahwa selama COVID-19 masih beredar, apalagi dalam tingkat penularan yang tinggi, potensi terjadinya mutasi akan semakin besar. Sebab, perubahan virus dapat terjadi melalui berbagai mekanisme, salah satunya rekombinasi seperti yang terjadi pada BA.2.


"Rekombinasi virus bukan merupakan hal yang baru dan sudah banyak terjadi pada berbagai virus lainnya. Untuk itu, demi menghindari masuknya varian baru maupun pembentukan varian baru di dalam negeri, jangan sampai kita memberi ruang bagi virus untuk menular," ujar Wiku.

Terbaru, Kementerian Kesehatan menyatakan bakal memperketat aturan terkait pembatasan aktivitas masyarakat pada awal Ramadan nanti. Apabila kasus SARS-CoV-2 B.1.1.529 Omicron BA.2 yang disebut sebagai Son of Omicron mengalami peningkatan di Indonesia.

Sekretaris Ditjen Kesehatan Masyarakat, Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan, upaya itu dilakukan sebagai imbas karakteristik BA.2 yang lebih cepat menular dari subvarian sebelumnya. Dia menyebut, mayoritas negara lain yang mencatat keberadaan BA.2 juga ikut mengalami kenaikan kasus COVID-19 harian.

"Kalau BA.2 terus meningkat, potensi peningkatan laju penularan juga bisa banyak ya. Mungkin kita akan melakukan restriction sedikit di awal-awal bulan Ramadan supaya menjaga jangan sampai pada saat Idul Fitri kita risikonya terlalu besar," kata Nadia dalam konferensi pers daring, Kamis (17/3/2022).

Nadia meminta masyarakat tidak berspekulasi bahwa pemerintah sengaja menakut-nakuti ataupun memilih momentum saat mendekati perayaan keagamaan. Menurut dia, virus akan terus bermutasi dan menciptakan varian baru dengan karakteristik bisa melemah atau menguat.

Dia menerangkan, Indonesia saat ini sudah mendeteksi tiga subvarian Omicron yakni BA.1, BA.1.1 dan BA.2. Mayoritas memang BA.1, namun BA.2 tengah mengalami peningkatan dan lebih dikhawatirkan lantaran sifat penularannya. Saat ini Kemenkes sudah mendeteksi sebanyak 668 kasus BA.2 di Indonesia.

Laju penularan BA.2 diketahui lebih tinggi dari BA.1. Sementara saat BA.1 melanda beberapa bulan terakhir ini, Indonesia bahkan mencatat rekor tertinggi penambahan kasus COVID-19 sebanyak 64.718 pada 16 Februari 2022 lalu.

"BA2 doubling time-nya jauh lebih tinggi dari BA.1. Sementara kita tahu BA.1 kita sudah alami itu kondisinya seperti apa tapi tingkat keparahan, rawat inap sama dengan BA.1. Artinya hanya 15-20 persen dari kasus. Tapi kalau jumlah kasus banyak otomatis secara absolut akan banyak juga yang membutuhkan perawatan di rumah sakit," jelas Nadia.

Sementara itu, Ketua DPR, Puan Maharani, meminta semua pihak mewaspadai penularan Omicron BA.2 karena berpotensi menyebabkan lonjakan baru kasus COVID-19 di Indonesia.

"Kita harus mengantisipasi penyebaran Omicron BA.2. Subvarian virus ini telah menyebabkan lonjakan kasus COVID-19 di sejumlah negara, termasuk yang saat ini terjadi di Hong Kong," katanya melalui keterangan resmi.

Puan mengingatkan agar pemerintah mengantisipasi berbagai skenario yang mungkin terjadi akibat varian baru Omicron tersebut. Ancaman subvarian BA.2 disebut lebih tinggi dibandingkan Omicron BA.1. Bahkan studi menemukan tingkat keparahan varian tersebut serupa varian Delta.

"Pastikan seluruh infrastruktur kesehatan siap. Jangan ada celah dalam penanganan COVID-19, termasuk terus mengkaji berbagai kebijakan terkait pandemi," jelas politisi PDIP itu.

Dia mengatakan, para pakar juga sudah mengingatkan pentingnya jangkar pengamanan untuk menghambat penyebaran COVID-19, termasuk varian Omicron BA.2. Kerja sama seluruh elemen dapat membantu agar virus ini tidak terus berkembang.

"Tingkatkan screening. Pelaksanaan 3T (testing, tracing, treatment), khususnya tracing harus makin diupayakan dengan maksimal. Karena dengan tracing yang baik, penyebaran virus dapat diperkecil," ujar Puan.

Kemudian, pemerintah harus meningkatkan cakupan vaksinasi, baik dosis primer maupun dosis penguat atau booster. Puan mendorong kerja sama instansi dan kelompok atau organisasi masyarakat untuk membantu Pemerintah dengan menyelenggarakan vaksinasi massal.

"Teman-teman dari TNI dan Polri juga bisa membantu memberi pelayanan vaksinasi door to door untuk mereka yang tidak bisa datang ke pusat layanan vaksin. Masyarakat harus dilindungi vaksinasi agar imunitas semakin lebih banyak terbentuk," katanya.

Peran serta masyarakat dalam mengatasi penyebaran virus juga sangat penting, dengan menjaga kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan.

"Saat beraktivitas, pastikan konsisten menerapkan 3M, mencuci tangan, memakai hand sanitizer, memakai masker dan menjaga jarak. Sebisa mungkin juga jauhi kerumunan dan kurangi mobilitas," Puan berpesan.

Artikel ini juga ditayangkan di Koran Info Indonesia.

 


Video Terkait:
Keluarga Tak Penuhi Wasiat Syekh Ali Jaber
Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo