POLHUKAM

Sinergitas Densus 88 dan Komnas HAM Patut Diacungi Jempol

Densus 88 Antiteror Polri. (Net)
Densus 88 Antiteror Polri. (Net)


JAKARTA - Banyaknya terduga teroris yang ditangkap Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri, membuktikan bahwa penyebaran radikal semakin masif di tanah air.

"Masifnya penangkapan para entitas kelompok jaringan terorisme di seluruh wilayah nusantara oleh Densus 88 sejak awal 2022 telah membuktikan jaringan trans-ideologi radikal telah tumbuh subur di negara ini," kata peneliti Jaringan Muslim Madani (JMM) Lukman Hakim, dalam keterangannya, Jumat malam (18/3/2022).

Apalagi paham radikal sudah menyebar di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN). IA menguraikan, berdasarkan catatan yang dimiliki JMM, sejak 2010 densus 88 telah menangkap 31 ASN yang terdiri dari 8 personel Polri, 5 prajurit TNI dan 18 ASN dari berbagai sektor.

Untuk mengantisipasi polemik kemanusiaan, Densus 88 dianggap secara terbuka membuka semua data dan bukti penetapan tersangka serta peristiwa penembakan tersangka kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) sesuai dengan prosedur dan tidak melanggar HAM.

Langkah yang dilakukan Densus 88 untuk bersinergitas dengan Komnas HAM itu patut diapresiasi. Sinergitas densus 88 dan Komnas HAM sangat penting, agar penangkapan para tersangka teroris sesuai prosedur dan tidak melanggar hak asasi manusia. Sehingga tidak menjadi polemik negatif di masyarakat.


“Sikap transparan densus 88 terhadap Komnas HAM sangat positif, menandakan sinergitas kedua institusi bersama-sama berjuang pada hak asasi manusia," jelasnya.

Lukman menilai, sinergitas antara Densus 88 dan Komnas HAM merupakan suatu langkah positif bagi penegakan hukum di Indonesia dan masyarakat bisa mendapatkan informasi secara detail atas kronologi kejadian. 

"Sehingga masyarakat paham semua kronologi kejadian Densus 88 sesuai prosedur dan tidak melanggar hak asasi manusia," ucapnya.

Lukman menambahkan, masifnya penangkapan yang dilakukan densus 88 terhadap pelaku teroris sesuai dengan instruksi pemerintah dalam menjaga keamanan negeri ini.

Apalagi, pemerintah bakal menggelar event besar seperti MotoGP maupun menjadi tua rumah negara-negara kelompok ekonomi besar dunia G20.

Jadi, keamanan bangsa ini harus menjadi perhatian bangsa Indonesia serta aparat penegak hukum.

"Kamanan adalah prioritas utama negara saat ini. Ingat pada G20 pada 2017 di Jerman, Indonesia mendorong peran negara-negara G20 untuk bersatu perangi terorisme," tutupnya.


Video Terkait:
Densus 88 Tembak Mati Terduga Teror Makassar
Editor: Amelia