POLHUKAM

Soal Dugaan Pelecehan Seksual di Kampus, PPMI Desak Kementerian Agama Hadir

Majalah Lintas yang menerbitkan edisi khusus kekerasan seksual. (Antara)
Majalah Lintas yang menerbitkan edisi khusus kekerasan seksual. (Antara)


JAKARTA – Kementerian Agama harus hadir dalam upaya untuk mencegah, mengatasi dan memberi perhatian lebih pada dugaan kasus-kasus kekerasan seksual di lembaga pendidikan tinggi di bawah naungannya seperti  STAIN, IAIN, dan UIN di Indonesia.

Begitu desakan yang dikeluarkan oleh Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Nasional pada akhir pekan ini. 

“Dalam beberapa tahun belakangan, kekerasan seksual memang menjadi kasus yang meresahkan dan ada di hampir banyak perguruan tinggi negeri di bawah naungan Kementerian Agama,” kata Sekjen PPMI Nasional, Primo Rajendra Prayoga dalam keterangannya pada Sabtu (19/3/2022). 

Hal ini dikaitkan dengan pembredelan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Lintas Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, karena memberitakan dugaan pelecehan seksual di kampus.

Ia mengatakan bahwa selain LPM Lintas, sejak 2020-2022 ada sembilan LPM di Indonesia tang mengalami tindak pengekangan, mulai dari pembredelan, hingga intimidasi.


“Di tahun 2020 ada enam kasus pembredelan, sementara itu di tahun 2022 ada tiga LPM. Seperti dari UPPM UMI, LPM Nuansa, dan terakhir dari LPM Lintas,” ujarnya.

Menurutnya, rata-rata pembredelan terhadap LPM ketika LPM tersebut membahas isu sensitif atau hal yang menjadi aib di kampus.

“Ini juga sebagai bentuk pembungkaman sikap kritis mahasiswa, utamanya pers mahasiswa,” ujarnya.

Selain pembredalan LPM, kata Primo, ada juga bentuk ancaman lain kepada anggota seperti dikeluarkan (drop out) dari kampus, hingga mendapatkan nilai yang jelek di beberapa mata kuliah.

“Itu membuat resah para mahasiswa yang tergabung sebagai pers mahasiswa dan memadamkan semangat para persma (pers mahasiswa). Ini akan menjadi PR tersendiri untuk menumbuhkan semangat kembali,” kata Primo.

Hal ini dikaitkan dengan Majalah Lintas yang menerbitkan edisi khusus kekerasan seksual. Dalam publikasinya itu, diungkapkan bahwa ada 32 orang mengaku mendapat pelecehan seksual di IAIN Ambon. Korban terdiri dari 25 perempuan dan 7 laki-laki.

Sementara jumlah pelaku perundungan seksual 14 orang. Di antaranya 8 dosen, 3 pegawai, 2 mahasiswa, dan 1 alumni. Liputan pelecehan ini ditelusuri sejak 2017. Kasus itu berlangsung sejak 2015-2021.


Video Terkait:
DPR-Kemenag Rapat Bahas Haji, Jamaah Indonesia Batal Haji?
Editor: Amelia