EKONOMI

Pawang Hujan MotoGP Viral, Pawang Minyak Goreng Masih Dicari

Warga antre membeli minyak goreng curah di toko pengecer, Jalan Veteran Utara, Makassar, Jumat (18/3/2022). (Antara/Darwin Fatir)
Warga antre membeli minyak goreng curah di toko pengecer, Jalan Veteran Utara, Makassar, Jumat (18/3/2022). (Antara/Darwin Fatir)


JAKARTA - Banyak peristiwa menarik di balik kesuksesan Indonesia menggelar MotoGP 2022 di Mandalika, Lombok, NTB. Salah satunya adalah keberadaan pawang hujan yang dibahas netizen lokal sampai media asing.

Aksi pawang hujan bernama Rara Istiani Wulandari di MotoGP Mandalika, Minggu (20/3/2022), mendapat kagum dari para penggemar balapan motor terhebring di dunia itu. Bak sihir, entah kebetulan atau memang manjur, ritual yang dilakoninya disusul hujan mereda sehingga balapan kelas utama MotoGP bisa berjalan kemarin sore.

Sontak Rara menjadi viral di media sosial. Wanita yang mengaku direkomendasikan langsung oleh Menteri BUMN, Erick Thohir, itu jadi polemik, mendapat pujian dan hujatan dari netizen Indonesia. Menariknya, keusilan para netizen sampai mengaitkan fenomena sang pawang hujan dengan situasi kekinian di dalam negeri. Misalnya, sejumlah netizen mempertanyakan mengapa Indonesia bisa memiliki pawang hujan sehebat Rara tetapi begitu susah untuk mendapat 'pawang' krisis minyak goreng. Ada-ada saja.

Pemerintah memang belum berhasil menuntaskan krisis bahan kebutuhan pokok rakyat itu. Kebijakan terbaru melepas harga minyak goreng kemasan ke mekanisme pasar dan hanya menyubsidi minyak goreng curah tak ampuh juga memberi kelegaan pada masyarakat.
Harga minyak goreng kemasan melambung tinggi sementara stok minyak goreng curah malah jadi langka di pasar-pasar tradisional.

Walau krisis ini berlarut-larut, Presiden Joko Widodo belum menindak Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, yang di hadapan DPR RI pekan lalu, mengaku gagal mengendalikan stok dan harga, juga kalah melawan kuasa mafia yang rakus dan jahat. Boro-boro ada sinyak Lutfi bakal diganti. Ditegur pun tidak.


Terkait itu, Direktur Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie, mensinyalir permasalahan minyak goreng adalah bagian dari skenario untuk menggolkan kepentingan kelompok yang ingin mempertahankan kuasa.

"Saya menduga, permasalahan minyak goreng sengaja dipelihara agar menimbulkan kekacauan. Lalu, hal itu akan dijadikan dalih dan alasan untuk kepentingan tertentu," kata Jerry kepada Info Indonesia, Minggu (20/3/2022).

Ia mengatakan, pemerintahan saat ini tengah disetir oleh oligarki sehingga suara di parlemen dan Istana Presiden saling bertentangan. Jerry juga menduga kekuatan mafia minyak goreng telah mengendalikan Menteri Lutfi, tapi sang menteri pura-pura tidak menyadarinya.

Berawal Dari Presiden
Diwawancara terpisah, Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, menilai, momentum reshuffle kabinet sebetulnya terbuka lebar. Paling tidak, ada dua alasan kuat bagi Presiden Jokowi untuk memecat Lutfi.

Pertama, buruknya kinerja Mendag sangat mempengaruhi daya tahan ekonomi masyarakat kelas bawah. Kontrol atas pasokan dan harga sama sekali tidak berdampak positif buat rakyat. Hal kedua adalah kehadiran Partai Amanat Nasional (PAN) yang sampai saat ini masih menunggu jatah di kabinet.

"Dua hal ini sedang terjadi. Kalau tidak ada respons juga dari presiden maka besar kemungkinan Lutfi punya relasi politik cukup kuat di kabinet saat ini," kata Dedi.

Menurutnya, seharusnya sangat mudah untuk presiden memecat pembantunya yang terbukti gagal menjalankan tugas. Namun, jika presiden tidak melakukan tindakan maka bisa jadi presiden sendiri yang menjadi penyebab kegagalan pemerintah menyejahterakan rakyat.

"Meskipun kesulitan masyarakat bertambah, elite akan tetap dengan kekuasaan tanpa kepekaan," kata dia.

Sementara itu, analis komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, mengatakan, Mendag Lutfi sudah gagal dalam mengendalikan distribusi minyak goreng dan harganya. Seperti pengakuannya sendiri, Lutfi tidak berdaya menghadapi mafia minyak goreng. Permintaan maaf Lutfi di depan anggota parlemen hanya membuktikan dirinya lemah dalam kinerja. Wajarnya, Presiden Jokowi segera mencari penggantinya. Memang yang jadi masalah selanjutnya adalah apakah ada orang profesional yang mampu melawan mafia pangan.

"Pertanyaan itu menjadi penting mengingat mafia minyak goreng terkesan dekat dengan penguasa. Pemecatan kepada Lutfi baru akan bermanfaat jika pemerintah tidak tunduk kepada mafia. Jika masih tunduk maka siapa pun Mendag-nya tidak akan berdaya menghadapi penjahat yang merugikan rakyat kecil," ujarnya.

Menurut Jamiluddin, yang harus dilakukan presiden adalah memutus kedekatan lingkaran dalamnya dengan mafia pangan. Hanya dengan langkah itulah Mendag dan para menteri terkait, siapapun orangnya, dapat bekerja maksimal.

"Tanpa itu, pemecatan terhadap Mendag sia-sia belaka," katanya.

Artikel ini juga bisa Anda baca di Koran Info Indonesia edisi 21 Maret 2022.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo