WARNA-WARNI

Pesawat China Eastern Airlines Kecelakaan, Apa Kabar Pesanan 737 MAX?

Pesawat China Eastern Airlines. (Net)
Pesawat China Eastern Airlines. (Net)


JAKARTA - Kecelakaan maut China Eastern Airlines yang melibatkan pesawat Boeing 737-800 dapat menghambat upaya Boeing untuk mendapatkan kembali landasan di pasar pesawat China, yang merupakan terbesar di dunia. Kecelakaan itu juga berpotensi menghambat pengiriman lebih dari 140 pesawat jenis teranyar Boeing, 737 MAX, yang sudah dibuat untuk pelanggan China.

Pesawat yang jatuh di wilayah Otonomi Guangxi Zhuang, China pada Senin sore (21/3/2022) merupakan jenis Boeing 737-800. Ini adalah armada maskapai andalan di seluruh dunia dengan catatan keselamatan yang kuat.

737-800 sendiri adalah model lama. Beberapa maskapai penerbangan telah beralih menggunakan versi 737-MAX, pesawat berbadan sempit yang lebih baru keluara Boeing. 

Namun 737-Max dikritik secara luas setelah jatuh empat tahun lalu. Kasus pertama adalah pesawat yang digunakan oleh Lion Air di Indonesia yang jatuh pada akhir 2018. 

Kasus kedua adalah yang digunakan oleh Ethiopian Airlines yang jatuh pada Maret 2019. 


Setelah kecelakaan kedua itu, 737-Max dilarang terbang di seluruh dunia. Boeing pun akhirnya membuat serangkaian perubahan pada pesawat sebelum disetujui lagi untuk layanan komersial di sebagian besar negara, 20 bulan kemudian.

Memang pesawat yang jatuh dalam kecelakaan terbaru di China berbeda dari pesawat yang jatuh di Indonesia dan Ethiopia, lebih dari tiga tahun yang lalu itu. Namun sejumlah analis menilai, hal itu kemungkinan tidak membuat perbedaan bagi penumpang China dan regulator nasional yang dikenal dengan persyaratan keselamatan yang ketat.

China adalah negara pertama yang mengandangkan 737 MAX setelah kecelakaan fatal di Indonesia dan Ethiopia lebih dari tiga tahun lalu, dan merupakan satu-satunya pasar utama di mana MAX belum melanjutkan penerbangan komersial.

Sementara itu, terkait kecelakaan terbaru, pihak China Eastern Airlines sendiri mengatakan penyebab kecelakaan itu sedang diselidiki. Kecelakaan semacam itu biasanya melibatkan banyak faktor, dan para ahli memperingatkan masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan tentang penyebab potensial.

Analis ekuitas senior di CFRA Research, Colin Scarola mengatakan bahwa ia tidak akan terkejut jika kecelakaan itu semakin menunda kembalinya MAX di China, di mana regulator penerbangan dikenal sangat teliti dalam masalah keselamatan.

Reuters juga merujuk sumber industri aviasi anonim yang dekat dengan informasi, yang mengatakan bahwa maskapai penerbangan China tidak membutuhkan pesawat MAX baru karena permintaan turun menyusul pandemi COVID-19 yang terjadi dua tahun terakhir di China. 

Namun Amerika Serikat telah memiliki lebih dari 140 jet MAX yang sudah dibuat untuk pelanggan China yang menunggu untuk dikirim, begitu pesawat tersebut mendapatkan lampu hijau untuk kembali menjalankan penerbangan komersial di China. 

Sementara itu, menurut perusahaan konsultan penerbangan IBA, 737-800 yang jatuh adalah model sebelumnya dengan catatan keselamatan yang kuat dan ada hampir 1.200 dalam pelayanan di China. Angka ini menjadikan China sebagai pasar terbesar di dunia untuk pesawat itu.

Tidak lama setelah kecelakaan terbaru itu, China Eastern telah mengandangkan armada 737-800-nya. 

Namun menurut analis Jefferies, regulator penerbangan China tidak mungkin mengandangkan armada 737-800 kecuali secara khusus mencurigai kegagalan teknis sebagai akar penyebab. Pasalnya, akan ada konsekuensi operasional dari mengandangkan lebih dari 1.000 pesawat di pasar penerbangan domestik terbesar kedua di dunia itu. 

Kendati begitu, Analis Cowen bernama Cai von Rumohr  menilai bahwa ada kekhawatiran bahwa publik China dapat menghindari terbang dengan 737-800 sampai penyebab kecelakaan ditentukan, mengingat masalah reputasi yang lebih luas dengan keluarga 737 yang disebabkan oleh MAX. 

"Oleh karena itu, mengisolasi penyebab kecelakaan akan sangat penting," tambahnya, mencatat penyebab utama kecelakaan transportasi udara komersial cenderung masalah pemeliharaan, kesalahan pilot atau sabotase, daripada masalah manufaktur atau desain.

Meski begitu, belum ada penjelasan resmi dari otoritas terkait mengenai hal tersebut.


Video Terkait:
Trending, Rusia Uji Coba Pesawat dan Gagal
Editor: Amelia