POLHUKAM

PILPRES 2024

Momentum Terakhir Prabowo Nyapres

Pengamat: Jangan Pilih Puan Jadi Cawapres

Ketum Partai Gerindra, Prabowo Subianto. (Net)
Ketum Partai Gerindra, Prabowo Subianto. (Net)


JAKARTA - Pemilu 2024 akan menjadi momentum Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, untuk menuai hasil positif jika kembali maju sebagai orang nomor satu di negeri ini. Prabowo selama ini sudah bisa memikat hati rakyat dan mampu menarik simpati pendukung Presiden Jokowi. 

"Ketika Menhan RI tersebut memuji kebijakan Presiden Jokowi, masyarakat bisa dibilang surprise dan suka (likeability)," kata Direktur Eksekutif Survei and Polling Indonesia (SPIN), Igor Dirgantara, saat dihubungi Info Indonesia, Rabu (23/3/2022).

Igor mengatakan, Prabowo selama menjadi Menteri Pertahanan sudah bekerja sangat baik. Selain itu, kebijakan yang dikeluarkan selalu mendatangkan dukungan dari publik. Menariknya, Presiden Jokowi tidak pernah protes dan mendukung Prabowo. 

"Artinya, sanjungan dari seseorang yang pernah menjadi lawan itu lebih dalam efeknya, ketimbang pujian dari seorang teman koalisi yang hanya mengekor," jelasnya.

Namun, meski peluangnya menang cukup besar, potensi Prabowo kalah juga tetap ada. Pengamat politik Yusa Farchan mengatakan, meski hasil survei menunjukkan tren positif bagi Prabowo, namun angkanya masih jauh di bawah hasil Pilpres 2019, yaitu 44,55 persen. Belum lagi, peta politik ke depan akan bergerak dinamis. 


Jika pasangan capres dan cawapres telah ditetapkan KPU dan semua mesin politik telah dihidupkan, maka tidak menutup kemungkinan elektabilitas Prabowo bisa disalip tokoh lain. Menurutnya, tokoh lain yang mampu menyalip Prabowo adalah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

"Saya kira Ganjar dan Anies berpotensi menyalip Pak Prabowo ke depan," kata Yusa dalam keterangan kepada wartawan di Jakarta, kemarin.

Akan tetapi, dalam Pilpres 2024, yang tidak ada petahana, peluang Prabowo lebih besar dibanding 2019, kala menghadapi Jokowi. Tetapi, beban politik Prabowo sebagai capres juga besar, mengingat dia sudah dua kali kalah dalam pilpres, yakni 2014 dan 2019. Jadi, jika bicara peluang masih fifty-fifty. Bisa menang, bisa juga kalah, tergantung bagaimana Prabowo memilih cawapres dan menambah ceruk pemilih potensial.

Perlu dicatat juga bahwa dengan bergabungnya Partai Gerindra ke dalam pemerintahan, tentu akan berpengaruh pada basis suara yang ada selama ini. PA 212, kata dia, mungkin akan mempertimbangkan kembali untuk memilih Prabowo, bahkan berpotensi tidak mendukungnya karena dianggap tidak sejalan lagi.

"Nah, di sinilah Pak Prabowo harus agresif lagi untuk berburu suara. Harapannya ada pada NU atau Muhammadiyah untuk menambah basis suara dari kalangan Islam," imbuhnya.

Yusa menyebut, Prabowo sebaiknya tidak berpasangan dengan Ketua DPR, Puan Maharani, pada Pilpres 2024. Belum lagi, PDIP sebagai pemenang pemilu dua kali berturut-turut bakal sulit menerima jika kadernya, yang juga putri dari ketua umum Megawati Soekarnoputri, hanya dijadikan sebagai calon wakil presiden.

"Persoalannya, PDIP mau atau tidak kalau hanya posisi cawapres? Inilah tantangannya," kata Yusa.

Selain itu, jika Prabowo berpasangan dengan Puan hanya akan mendapatkan hasil besar di Jawa Tengah yang merupakan lumbung suara dari PDIP. Namun, di Jawa Timur dan Sumatera, pasangan Prabowo-Puan akan kalah dengan calon lainnya seperti Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo.

Yusa menyarankan, Prabowo harus memilih sosok pendamping yang bisa meningkatkan elektoral dan suara Gerindra. Selain itu, juga harus mendapatkan dukungan dari masyarakat. Menurutnya Ketum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) atau Ketum Golkar Airlangga Hartarto (AH) bisa jadi pertimbangan sebagai pendamping.

"Dalam konteks inilah, AHY dan Airlangga bisa dipertimbangkan untuk diambil sebagai cawapres," kata dia.

Sementara itu, berdasarkan survei elektabilitas Pilpres 2024, Prabowo bukan lagi calon terkuat menjadi presiden. Posisinya digantikan Anies Baswedan. Itu berdasar hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO).

Survei ini memotret bahwa Prabowo memiliki elektabilitas tertinggi dibanding tokoh lainnya mengenai Pilpres. Hanya saja, jika dilakukan pertanyaan tertutup kepada koresponden terhadap 40 nama tokoh lainnya, Anies menjadi yang pertama.

Direktur eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah, menjelaskan, perubahan respons publik itu berkaitan dengan popularitas Prabowo yang memuncaki persentase. Ketika koresponden tidak diberi lembar bantuan jawaban dalam memilih presiden, Prabowo menjadi tokoh paling banyak dipilih. 

"Ketika surveyor menyodorkan 40 nama yang harus dipilih oleh koresponden, posisi teratas Anies Baswedan dengan 21,4 persen. Hal ini menandai jika Prabowo dipilih karena faktor popularitas," kata Dedi dalam keterangannya, kemarin.

Artikel ini juga bisa Anda baca di Koran Info Indonesia edisi Kamis, 24 Maret 2022.


Video Terkait:
Prabowo Ajukan Anggaran Alutsista Sebesar 1.700 Triliun
Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo