POLHUKAM

Soal APBA Untuk Muktamar IDI, Pengamat Jangan Asal Bunyi!

Kepala Pusat Jejaring Relawan EMT IDI, Zulfahmi Ramli (Kanan). (Net)
Kepala Pusat Jejaring Relawan EMT IDI, Zulfahmi Ramli (Kanan). (Net)


JAKARTA - Pelaksanaan Muktamar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ke-XXXI di Banda Aceh pada 22-25 Maret 2022 merupakan sebuah berkah tersendiri bagi untuk masyarakat Aceh pada umumnya, dan sejawat dokter pada khususnya.

Pertemuan akbar sebuah organisasi profesi terhormat yang sudah memberikan sumbangsih mereka sejak zaman pra-kemerdekaan Indonesia.

Terutama di masa pandemi COVID-19 seperti saat ini, para dokter berada di barisan terdepan dalam menyelamatkan nyawa manusia bahkan terkadang tanpa mempedulikan nyawa mereka sendiri.

Ratusan relawan dokter Indonesia yang menangani pasien COVID-19 juga kemudian terpapar dan menjadi korban pandemi itu sendiri. 

Dimakamkan secara sederhana sesuai protokol kesehatan COVID-19. Jauh dari keriuhan dan gegap gempita, seperti pemakamam seorang pahlawan yang gugur di medan tugas membela bangsa dan negara. 


Penggunaan dana Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA)  sebesar Rp2 miliar seharusnya tidak perlu dikait-kaitkan dengan masalah empati sebuah organisasi profesi.

Hal tersebut ditegaskan Kepala Pusat Jejaring Relawan EMT IDI, Zulfahmi Ramli menanggapi kritik seorang pengamat ekonomi politik Aceh, belum lama ini, terkait alokasi APBD Aceh dalam penyelenggaraan Muktamar XXXI IDI. 

Fahmi, begitu ia biasa disapa, menilai pernyataan itu terkesan asal bunyi dan mencari panggung. 

"Justru pernyataan asal bunyi itu yang tidak memiliki rasa empati terhadap sebuah organisasi yang para anggotanya sudah berkorban jiwa-raga untuk bangsa ini," ujar Fahmi yang juga hadir dalam Muktamar IDI di Banda Aceh. 

Fahmi menekankan, alokasi dana APBA adalah ranah kebijakan Pemda Aceh, dan bukan keputusan IDI.

"Saya sebagai masyarakat umum, relawan bencana yang kebetulan beristrikan seorang dokter, menganggap pernyataan pengamat ekonomi yang memancing polemik tersebut terkesan asal bunyi saja," tambah Fahmi. 

Ia menyayangkan hal itu mengingat para sejawat dokter ini sudah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan bahkan nyawa mereka untuk kemaslahatan umat, demi bangsa, tanah air dan negara. 

"Jadi tidak elok dan tidak pantas jika kemudian ada pihak-pihak yang berpolemik terkait urusan dana penyelenggaraan Muktamar, apalagi membawa-bawa masalah empati kepada rakyat Aceh," tandas Fahmi yang juga sekjen Federasi Mountaineering Indonesia.


Video Terkait:
DPR Minta Maafkan Saja Keluarga Akidi Tio
Editor: Amelia