POLHUKAM

IDI Berhentikan Dokter Terawan Dari Keanggotaan

Dokter Terawan Agus Putranto. (Dok. Jawa Pos)
Dokter Terawan Agus Putranto. (Dok. Jawa Pos)


JAKARTA - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memberhentikan mantan Menteri Kesehatan, Prof Dr dr Terawan Agus Putranto, Sp.Rad, dari keanggotaannya. 

Pemberhentian berdasarkan hasil keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Ikatan Dokter Indonesia (MKEK IDI) yang dibacakan dalam Muktamar ke-31 IDI di Banda Aceh, Jumat (25/3/2022).

"Memutuskan pemberhentian permanen sejawat Dr dr Terawan Agus Putranto sebagai anggota IDI. Pemberhentian dilaksanakan oleh PB IDI selambat-lambatnya 28 hari kerja," bunyi Surat Penyampaian Hasil Keputusan MKEK tentang Dr dr Terawan Agus Putranto. 

Surat penyampaian hasil keputusan MKEK tentang pemberhentian dr. Terawan, yang fotonya diterima redaksi, bertanggal 8 Februari 2022.

Disebutkan dalam surat tersebut, bahwa MKEK telah menetapkan SK MKEK No. 009320/PB/MKEK-Keputusan/02/2018 tertanggal 12 Februari 2018 terhadap Terawan.

Hasil Muktamar IDI XXX tahun 2018 menyatakan: "khusus menyangkut dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad agar Muktamar menguatkan putusan MKEK tersebut dan menyatakan bahwa dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad telah melakukan pelanggaran etik berat (serious ethical misconduct) dan agar Ketua PB IDI segera melakukan penegakan keputusan MKEK yang ditunda demi menjaga kemuliaan dan kehormatan profesi luhur kedokteran bila tidak dijumpai itikad baik dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad maka Muktamar memerintahkan pengurus besar IDI untuk melakukan pemecatan tetap sebagai anggota IDI."


Surat yang diteken Ketua MKEK, Dr. Pukovisa Prawiroharjo, itu menyatakan juga bahwa didapatkan dugaan tidak dijumpainya itikad baik dari Terawan sepanjang tahun 2018-2022.

"Yang bersangkutan belum menyerahkan bukti telah menjalankan sanksi etik sesuai SK MKEK No. 009320/PB/MKEK-Keputusan/02/2018 tertanggal 12 Februari 2018 hingga hari ini," demikian bunyi poin a surat itu.

Di poin b, MKEK juga mengikutkan persoalan Vaksinasi Nusantara untuk memperkuat pemberhentian terhadap Terawan.

"Yang bersangkutan melakukan promosi kepada masyarakat luas tentang Vaksin Nusantara sebelum penelitiannya selesai," demikian poin b.

Surat penyampaian hasil keputusan yang dibacakan dalam Muktamar 2022 juga menyertakan sejumlah tuduhan lain yang memperkuat pemecatan atas Terawan.

Terawan memang pernah dipecat melalui sidang MKEK PB IDI tahun 2018, yang berlaku selama 12 bulan dari 26 Februari 2018- 25 Februari 2019.

Ia dijatuhi sanksi pemecatan karena dianggap melakukan pelanggaran etik serius terkait metode terapi penderita stroke yang dikenal umum sebagai praktik "cuci otak".

Metode cuci otak sebetulnya modifikasi Terawan dari metode DSA (Digital Subtraction Angiography). DSA merupakan metode pemeriksaan kesehatan yang bertujuan memberi gambaran dari dalam pembuluh darah yang erat kaitannya dengan penyakit stroke.

Ketua Panitia Muktamar ke-31 IDI, dr Nasrul Musadir Alsa, membenarkan pemberhentian Dokter Terawan tersebut. 

"Keputusannya memang begitu," katanya dikutip MNC.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo