POLHUKAM

Pemecatan Dokter Terawan Berbahaya Bagi Masa Depan Kedokteran Tanah Air

Mantan Menteri Kesehatan RI, Prof Dr dr Terawan Agus Putranto, Sp.Rad. (Net)
Mantan Menteri Kesehatan RI, Prof Dr dr Terawan Agus Putranto, Sp.Rad. (Net)


JAKARTA - Keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Ikatan Dokter Indonesia (MKEK IDI) yang memecat mantan Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto sebagai anggota IDI, berbahaya bagi masa depan kedokteran Tanah Air.

Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad menjelaskan, keputusan MKEK IDI berbahaya karena dirinya khawatir akan menjadi yurisprudensi bagi masalah serupa di masa yang akan datang. Sehingga, menyebabkan para dokter takut untuk mencoba dan berinovasi dengan berbagai riset-risetnya.

Dasco mengatakan, sebagai organisasi profesi yang diberi kewenangan dalam UU Praktik Kedokteran, harusnya IDI bisa lebih mengayomi dan membina para anggotanya serta terbuka dengan berbagai inovasi di bidang kesehatan, farmasi, dan kedokteran.

Untuk itu, Ketua Harian DPP Partai Gerindra ini meminta Kemenkes menaruh perhatian dan mengkaji rekomendasi MKEK IDI tersebut, utamanya dari aspek hukum dan peraturan perundang-undangan.

"Saya tegaskan bahwa ini bukan hanya soal Pak Terawan ya. Tetapi ini tentang masa depan dunia kedokteran kita, masa depan dunia farmasi kita, agar lebih mandiri dan berdikari. Jangan sampai sebuah inovasi atau prestasi yang harusnya diapresiasi ini malah diganjar dengan sanksi," kata Dasco dalam keterangan yang diterima wartawan, Sabtu (26/3/2022) kemarin.


Dirinya juga akan meminta kepada Komisi IX DPR RI untuk merevisi dan mengkaji secara komprehensif terkait dengan UU Praktik Kedokteran dan UU Pendidikan Kedokteran, agar UU terkait itu lebih relevan dengan situasi, kondisi dan kebutuhan dari masyarakat saat ini.

"Saya pikir, evaluasi dan penyesuaian dari sebuah UU adalah hal yang biasa ya," ujar Dasco. 

Kemudian, evaluasi juga akan dilakukan bagi organisasi profesi kedokteran yang ada dalam UU terkait, agar sesuai dengan aspirasi dan masukan dari masyarakat. Sehingga IDI dan juga organisasi profesi kedokteran lainnya itu tidak terkesan super-body dan super-power.

Sebelumnya, IDI memberhentikan Prof Dr dr Terawan Agus Putranto, Sp.Rad, dari keanggotaannya. Pemberhentian berdasarkan hasil keputusan MKEK IDI yang dibacakan dalam Muktamar ke-31 IDI di Banda Aceh, Jumat (25/3/2022).

"Memutuskan pemberhentian permanen sejawat Dr dr Terawan Agus Putranto sebagai anggota IDI. Pemberhentian dilaksanakan oleh PB IDI selambat-lambatnya 28 hari kerja," bunyi Surat Penyampaian Hasil Keputusan MKEK tentang Dr dr Terawan Agus Putranto. 

Surat penyampaian hasil keputusan MKEK tentang pemberhentian dr. Terawan, yang fotonya diterima redaksi, bertanggal 8 Februari 2022.

Terawan dan IDI memiliki hubungan panas dingin sejak munculnya terapi 'cuci otak'.

Editor: Saeful Anwar