POLHUKAM

Bangsa Kita Mudah Tersulut Emosi

Kisruh IDI vs Terawan

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin. (Net)
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin. (Net)


JAKARTA - Pemberhentian mantan Menteri Kesehatan, dokter Terawan Agus Putranto dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menuai pro kontra. 

Dalam konferensi pers virtual, kemarin, Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, meminta semua tenaga kesehatan dan juga dokter untuk tidak berlarut-larut mencurahkan emosi pada polemik tersebut. Sebab menurutnya, perjalanan transisi Indonesia dari pandemi menuju endemi masih panjang dan banyak hal yang harus dibenahi.

Untuk itulah, ia menegaskan, Kemenkes akan membantu proses mediasi untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi antara IDI dengan para anggotanya agar terbangun komunikasi yang baik.   

"Sehingga situasi yang terbangun akan kondusif dan kita bisa kembali menyalurkan energi, waktu kita, dedikasi kita, kegiatan-kegiatan yang memprioritaskan untuk membangun masyarakat Indonesia yang lebih sehat," jelas Menkes Budi.

Budi melanjutkan, Kemenkes memahami masing-masing organisasi memiliki anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan anggotanya yang perlu diatur. Serta memahami bahwa IDI sebagai organisasi profesi berhak untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap anggotanya. 


"Saya sangat mengharapkan agar diskusi komunikasi hubungan antara IDI dan seluruh anggotanya bisa terjalin dengan baik," jelasnya. 

Budi mengingatkan, saat ini masih terdapat banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama-sama pasca pandemi COVID-19. Ia menyebut seperti tantangan menurunkan Angka Kematian Bayi dan Angka Kematian Ibu, penyakit tak menular seperti diabetes dan hipertensi, HIV, TBC, hinga permasalahan kesehatan lainnya. 

"Kami percaya bahwa banyak PR yang membutuhkan tenaga dan waktu kita untuk membereskan dan membangun masyarakat Indonesia yang lebih sehat," terangnya.

Budi pun menganalogikan penduduk Indonesia yang saat ini mencapai 270 juta jiwa sempat dijajah oleh negara Eropa yang berpenduduk 17 juta jiwa. 

"Secara militer itu agak mustahil, kita belajar dari sejarah, bangsa kita, kita mudah diadu domba, mudah disulut, mudah emosi. Kita lupa kalau kita hidup sebagai saudara, kalau kita hidup bersama-bersama merajut sebagai bangsa, Indonesia keluar sebagai negara paling berhasil, itu bisa terjadi karena kita mau bekerja sama," bebernya. 

Ia juga tak ingin terjadi perselisihan akibat masalah pemecatan Terawan dari keanggotaan IDI. 

Kabar pemecatan dr Terawan pertama kali diketahui dari surat edaran yang tersebar di media sosial, berisi tentang hasil keputusan Majelis Kode Etik Kedokteran (MKEK) pasca Rapat Pleno MKEK Pusat IDI pada 8 Februari 2022 yang merekomendasikan pemecatan Terawan secara permanen.

Dalam surat yang beredar tersebut, oleh MKEK IDI, Terawan dinilai melakukan pelanggaran etik berat (serious ethical misconduct), serta tidak melakukan itikad baik sepanjang 2018-2022.

Kabar pemecatan mantan orang nomor satu di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta itu juga tak lupt dari sorotan publik. Petisi berjudul Save dr. Terawan dari Sanksi pemecatan di laman Change.org kembali ramai. Petisi dibuat oleh Mirna Lestari pada tahun 2018. 

Di keterangan petisi, Mirna mengatakan bahwa apa yang dikerjakan dokter Terawan di dunia kesehatan Indonesia sangat berharga dan sudah menyelamatkan banyak nyawa.

"Metode briliannya (terapi cuci otak) sudah menyelamatkan hidup banyak orang, termasuk saya," tulis Mirna yang mengaku sebagai salah seorang pasien Terawan yang berhasil disembuhkan. "Ya, metode cuci otak Terawan adalah terapi kesehatan paling kontroversial,"  imbuhnya. 

Di dunia Twitter pun, tagar #savedrterawan sempat menjadi trending topik. Banyak warganet menyayangkan IDI mengeluarkan keputusan untuk memecat Terawan dari keanggotaan IDI.

Sebelum kabar pemecatan permanen mencuat, pada 2018 Terawan juga sempat dijatuhi sanksi pemecatan sementara per 26 Februari 2018 hingga 25 Februari 2019.

Artikel ini juga bisa Anda baca di Koran Info Indonesia edisi Selasa, 29 Maret 2022.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo