EKONOMI

Gara-gara Perang Ukraina, Pariwisata Timur Tengah Bisa Rugi Miliaran Dolar AS

Mesir merupakan salah satu destinasi wisata favorit warga Ukraina. (Net)
Mesir merupakan salah satu destinasi wisata favorit warga Ukraina. (Net)


JAKARTA - Perang yang berkecamuk di Ukraina membawa dampak yang meluas hingga ke sektor pariwisata di kawasan Timur Tengah. 

Kok bisa? 

Pasalnya, sebagai rumah bagi beberapa peradaban tertua dan kota paling mewah di dunia, Timur Tengah adalah salah satu tujuan wisata utamanya. Kota-kota seperti Dubai, Kairo dan Istanbul secara teratur terdaftar di antara sepuluh hotspot pariwisata global teratas.

Namun, karena konflik yang terjadi di Ukraina menyebabkan kekacauan di pasar energi dan makanan serta inflasi yang merajalela di seluruh dunia. Selain itu, konflik tersebut juga memukul industri pariwisata di beberapa negara lebih dari yang lain. 

Menurut lembaga Euromonitor International, pariwisata inbound global akan terkena dampak sebesar 6,9 miliar dolar AS pada tahun 2022 karena Rusia dan Ukraina saat ini terlibat konflik. Sejumlah negara Timur Tengah akan mungkin menghadapi beban.


Pasalnya, Mesir, Turki, dan baru-baru ini Uni Emirat Arab (UEA) adalah tiga tujuan paling populer bagi wisatawan Ukraina dan Rusia. 

Sektor pariwisata di Mesir dan Turki sudah mencatat dampaknya, karena para analis memperkirakan kerugian yang menyakitkan di masa mendatang.

Sebelum pandemi, perjalanan dari Ukraina ke Mesir tumbuh sebesar 49 persen pada 2019 dibandingkan tahun sebelumnya, merujuk pada laporan Colliers International 2020. Data ini menjadikan Ukraina sebagai pasar sumber terbesar kedua untuk Mesir setelah Jerman. 

Bahkan wakil menteri pariwisata Ghada Shalaby menjelaskan, setelah Kairo melanjutkan penerbangan pada Juli 2021 setelah pelonggaran pembatasan terkait Covid-19, warga Ukraina adalah turis pertama yang kembali.

Bukan hanya itu, pada tahun 2021, RUsia juga mencabut larangan enam tahun pada penerbangan charter antara Mesir dan Rusia yang diberlakukan setelah kecelakaan pesawat tahun 2015 yang mematikan. Akibatnya jumlah turis Rusia melonjak, mencapai 700 ribu pengunjung pada tahun 2021.

Namun kini, karena Rusia dan Ukraina sedang terlibat konflik, jumlah wisatawan dari kedua negara itu yang datang ke Mesir pun menurun drastis. 

Shalaby mengatakan kepada CNN, sebagaimana dikutip Sabtu (2/4/2022), bahwa Mesir sedang mencari cara untuk mempertahankan pengunjung Rusia sambil meluncurkan kampanye yang ditujukan ke Eropa Barat dan negara-negara Arab untuk musim mendatang. Dengan kata lain, Mesir berusaha memikat turis asing untuk mengganti menurunnya turis Ukraina dan Rusia.

Namun para analis skeptis tentang kemampuan Mesir untuk mengisi kesenjangan tersebut.

"Penggantian turis yang dramatis dari kedua negara itu mungkin tidak mungkin," kata Timothy Kaldas, seorang ahli kebijakan di Institut Kebijakan Timur Tengah Tahrir.

Hal senada juga dialami oleh Turki. Turki berharap untuk mengangkat kembali ekonominya tahun ini dengan pulihnya industri pariwisata, tetapi krisis Ukraina dan sanksi yang meningkat terhadap Rusia mengancam untuk merobek 34,5 miliar dolar AS yang diharapkan didapatkan oleh Turki melalui sektor wisata tahun ini. 

Di resor tepi laut Antalya di Riviera Turki, pekerja di sektor pariwisata khawatir tentang jumlah wisatawan yang menyusut.

"Rusia adalah pasar yang paling penting bagi kami, dan Ukraina juga berada di urutan ketiga atau keempat," kata Ulkay Atmaca, presiden Asosiasi Manajer Hotel Profesional di Turki.

Kekhawatiran senada juga diungkapkan oleh Nihal Duruk, Manajer Penjualan dan Pemasaran untuk Premier Palace Hotel di Antalya.

"Kami memperkirakan penurunan volume 60 persen hingga 65 persen," jelasnya.

"Bahkan jika solusi ditemukan pada hari ini, kami telah kehilangan 50 persen dari harapan kami untuk musim 2022 mendatang," sambungnya. 

Merujuk pada data dari Kementerian Pariwisata Turki, lebih dari 2 juta turis Ukraina tiba di Turki pada tahun 2021, sementara 4,7 juta lainnya datang dari Rusia.

Bahattin Yucel, mantan menteri ekonomi Turki, melihat kerugian yang akan datang meningkat karena krisis ekonomi yang dipicu oleh sanksi Barat terhadap Rusia diperkirakan akan mempengaruhi warga negara Turki.

"Baik perang maupun krisis ekonomi di Rusia akan mempengaruhi kita," kata Yucel.


Video Terkait:
Trending, Rusia Uji Coba Pesawat dan Gagal
Editor: Amelia