EKONOMI

Ekspor Batu Bara Tambal Defisit Negara

Pengamat Ekonomi dan Energi UGM, Fahmy Radhi. (Net)
Pengamat Ekonomi dan Energi UGM, Fahmy Radhi. (Net)


JAKARTA - Pemerintah dinilai dapat memanfaatkan momentum tingginya harga batu bara dunia untuk menekan besarnya defisit yang harus dibayarkan dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak domestik. 

Pengamat ekonomi dan energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menyebut, peningkatan ekspor batu bara dengan memanfaatkan momentum tingginya harga bisa dijadikan solusi jangka pendek. Pemerintah bisa menambal kebutuhan dana untuk memenuhi kebutuhan energi dan bahan bakar minyak di dalam negeri. 

Menurutnya, di tengah situasi kenaikan harga batu bara dunia yang makin meningkat saat terjadi konflik geopolitik di Eropa akibat serangan Rusia terhadap Ukraina, pemerintah bisa memperbesar angka ekspor batu bara ke pasar Asia, sekaligus mengupayakan perluasan pasar di luar Asia Pasifik. 

"Di tengah tingginya harga minyak mentah dunia yang berkontribusi pada tingginya defisit produk migas, maka industri batu bara ini bisa sangat membantu. Momentum ini perlu dimanfaatkan," ujar Fahmy lewat keterangan tertulis, Sabtu (2/4/2022).

Fahmy menambahkan, saat ini, industri batu bara berkontribusi pada peningkatan devisa dari ekspor, PNBP, termasuk meningkatkan pendapatan dari perusahaan yang pada akhirnya ikut mengerek perekonomian masyarakat dan tenaga kerja yang bergantung pada sektor minerba. 


"Khususnya batu bara, apalagi saat ini harganya tengah meroket akibat konflik geopolitik Rusia dan Ukraina," katanya. 

Belum lama ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam acara Peluncuran SIMBARA dan Penandatanganan MoU Sistem Terintegrasi dari Kegiatan Usaha Hulu Migas, Selasa (8/3/2022), menyebutkan, penerimaan negara dari sektor pertambangan mineral dan batubara mencetak angka Rp124,4 triliun pada 2021, yang mencakup pajak, bea keluar, hingga Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Fahmy mengatakan, upaya pemerintah memanfaatkan momentum tingginya harga batu bara dengan cara mengekspor dengan volume lebih besar, nantinya juga akan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. 

"Kalau penghasilan negara dari batu bara dan komoditi lain meningkat, negara tentunya punya dana cukup untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan," ujarnya. 

Secara umum, peningkatan produksi di tengah tingginya harga akan meningkatkan royalti yang diterima oleh pemerintah daerah. Dana dari royalti ini, kata dia, bisa dimanfaatkan oleh pemerintah daerah untuk pembangunan infrastruktur, seperti pengaspalan jalan dan pembangunan jembatan yang pada ujungnya bisa membantu akselerasi aktivitas ekonomi publik, khususnya di daerah terkait. Salah satunya juga bisa digunakan untuk membangun kantor pelayanan publik. 

Dia menjelaskan, pendapatan dari royalti batu bara tersebut juga bisa dijadikan substitusi pendapatan yang belum maksimal bertumbuh di tengah pandemi, akibat penerapan pembatasan aktivitas publik. Bagi sebuah daerah dengan perekonomian yang bertumpu pada sektor pertambangan, maka peningkatan produksi batu bara bisa berimplikasi pada peningkatan pendapatan perkapita di daerah tersebut. 

"Tingginya ekspor batu bara, maka akan ada implikasi positif berupa peningkatan pendapatan perkapita," ujarnya. 

Dampak positif lain yang dapat diperoleh dari tingginya harga batu bara saat ini adalah perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan dapat memberikan kontribusi lebih banyak dari sebelumnya. Sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan dan mengembangkan program Corporate Social Responsibility (CSR) mereka bagi masyarakat sekitarnya.

Artikel ini juga bisa Anda baca di Koran Info Indonesia edisi Senin, 4 April 2022.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo