DAERAH

Airin Rachmi Diany: Membangun Kota Tidak Mudah, Problem Utamanya Kemiskinan

Mantan Wali Kota Tangsel, Airin Rachmi Diany. (Tagar/Nurul Yaqin)
Mantan Wali Kota Tangsel, Airin Rachmi Diany. (Tagar/Nurul Yaqin)


JAKARTA - Membangun sebuah kota bukanlah hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. 

Mantan Wali Kota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany, mengungkapkan, saat dirinya memimpin Tangsel banyak dihadapkan problematika dan tantangan.

Dia menerangkan, Tangsel miliki luas wilayah 164,85 kilometer persegi, paling kecil di antara empat kabupaten dan tiga kota yang ada di Provinsi Banten. Tangsel terdiri dari tujuh kecamatan, 54 kelurahan dan berbatasan dengan Kabupaten Tangerang, DKI Jakarta serta Kota Tangerang.

Menurut Airin, saat pertama kali memimpin Tangsel, jumlah penduduk kota dengan slogan "Cerdas, Modern, Religius" itu sekitar 1,3 juta jiwa. Di akhir masa baktinya pada tahun 2021, penduduk Tangsel meningkat mencapai 1,6 juta jiwa. 

"Itu yang ber-KTP, di luar KTP harusnya lebih dari 1,6 juta," katanya dalam diskusi daring bertajuk "Dua Dekade Otonomi Daerah: Problematika, Tantangan, Peluang Menuju 2045," Rabu (6/4/2022).


Airin menyampaikan, dalam membangun sebuah kota, banyak hal yang harus diperhatikan, mulai dari sumber daya manusia hingga pertumbuhan ekonomi. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Tangsel berada di poin 81,60 pada tahun 2021. Rata-rata pertumbuhan PDRB di angka 7, namun sempat turun menjadi minus pada 2020 akibat pandemi COVID-19 dan tahun 2021 berhasil naik di angka 4,77. Sementara itu, laju pertumbuhan ekonomi Tangsel dari tahun 2018 hingga 2019 poin rata-ratanya di angka 7,4 dan kembali minus pada tahun 2020. 

"Angka 7,4 tertinggi, di atas rata-rata nasional tetapi di 2020 mengalami minus. Sekarang pun kita bangkit kembali dan PDRB per kapita dari 44 juta di 2018 dan di tahun 2021 mencapai 64 juta," jelasnya.

Menurut Wali Kota Tangsel dua periode itu, problematika bagi pembangunan sebuah kota adalah angka kemiskinan yang sangat sulit ditekan. Garis kemiskinan di Tangsel pada 2018 mencapai 549.150 orang dan tahun 2021 ada peningkatan cukup signifikan hingga 665.610 orang. Airin menyampaikan bahwa besarnya angka kemiskinan disebabkan urbanisasi. 

"Dan pekerjaan rumah kami kemiskinan ini. Orang datang ke Tangerang Selatan tanpa memiliki kompetensi dan kemampuan. Ini PR kami bersama-sama, tentu agar walaupun kami meyakini tidak mungkin bisa nol persen untuk angka kemiskinan tapi terus bagaimana kita intervensi angka kemiskinan bisa terus menurun," tandas Airin.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo