WARNA-WARNI

ULASAN RAMADAN

Hal yang Diwaspadai Oleh Nabi Muhammad Saat Berpuasa

Pendakwan Ustadz Adi Hidayat (Ilustrasi Info Indonesia)
Pendakwan Ustadz Adi Hidayat (Ilustrasi Info Indonesia)


JAKARTA – Ibadah puasa ramadan menyimpan banyak kemuliaan dan keberkahan dari Allah SWT. Karena itulah, pada bulan ramadan, banyak umat muslim yang berlomba-lomba menggali keberkahan ramadan tersebut. 

Begitu mulianya bulan ramadan, sampai-sampai Nabi Muhammad SAW juga memberikan perhatian tinggi pada bulan suci ini dengan berharap bahwa insan yang beriman dapat meraihkan keutamaan puasa ramadan serta pahala yang sempurna dan mendapatkan nilai takwa di hadapan Allah SWT. 

Pendakwan Ustadz Adi Hidayat dalam tausiyahnya di saluran YouTubenya baru-baru ini mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW dalam beberapa hadist kerap memberikan pesan kepada insan yang beriman agar jangan sampai terjebak pada hal-hal yang mampu merusak kualitas puasanya.

"Menariknya urutan-urutan hadits-hadits Nabi Muhammad SAW dimaksud tidak menekankan pada aspek yang langsung membatalkan puasa, berupa hal-hal konsumtif seperti makan, minum, atau bahkan hubungan seksual biologis," jelasnya. 

Nabi Muhammad SAW justru menekankan kepada beberapa hal yang berpotensi merusak kualitas puasa seorang muslim, mengurangi atau bahkan menghilangkan pahala yang berpotensi diraih oleh setiap insan yang berpuasa.


"Bahkan bila kita merujuk pada keterangan beberapa kitab-kitab hadis otoritatif khususnya hadist shahih Al Bukhari, misalnya, kita dapat
temukan bahwa Nabi mengingatkan dengan sangat kuat kepada setiap umat beliau yang tengah berpuasa agar meninggalkan dan waspada kepada hal-hal yang dapat merusak puasanya khususnya bahkan ada di antara yang merusak itu dianggap langsung oleh Nabi memberikan nilai puasanya abai di hadapan Allah. Dengan bahasa singkat, Allah tidak memedulikan puasanya," jelasnya. 

Sebagaimana juga disebutkan dalam kitab Imam Al Bukhari yang mengingatkan tentang orang yang tidak berusaha meninggalkan
perkataan-perkataan dusta yang kotor dan disengaja karena ada niat buruk di dalamnya.

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1903 mengenai bab siapa saja yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan berbuat dusta ketika puasa. 

  حَدَّثَنَا آدَمُ بۡنُ أَبِي إِيَاسٍ: حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي ذِئۡبٍ: حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الۡمَقۡبُرِيُّ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: 
(مَنۡ لَمۡ يَدَعۡ قَوۡلَ الزُّورِ وَالۡعَمَلَ بِهِ، فَلَيۡسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِي أَنۡ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ).

Artinya: Adam bin Abu Iyas telah menceritakan kepada kami: Ibnu Abu Dzi`b menceritakan kepada kami: Sa’id Al-Maqburi menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan berbuat dusta, maka Allah tidak hiraukan amalannya menahan makan dan minum.”

Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa hadist ini mengingatkan bahwa setiap perkataan yang kotor yang bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran bisa jadi dusta.

"Ini bisa jadi berupa sumpah atau memberikan keterangan palsu, bisa saja berupa hoaks, atau menampilkan sesuatu yang tidak benar, sengaja dipublikasikan dengan niat tertentu dan itu bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran dan bertentangan dengan aspek-aspek kemuliaan," jelasnya.

Dengan demikian, ada perilaku yang diperingatkan oleh Nabi berpotensi bukan hanya merusak tapi juga mampu membatalkan puasa seseorang, bahkan dalam konteks dia tidak mengkonsumsi hal yang sekiranya bersifat materi seperti makan atau minum. Melainkan karena perbuatannya itu bisa menghancurkan amalan dan pahala seketika serta dinilai Allah kontradiktif dengan kegiatan puasanya untuk mencegah dia dari perbuatan keji dan munkar.

"Puasa adalah upaya untuk melatih ketahanan emosional kita dan membentuk karakter moral yang baik. Karena inti kehidupan manusia itu terletak pada karakter moral, yang pada keadaan jiwanya dan pada niatnya," jelasnya. 

Karena itu Nabi Muhammad SAW menyampaikan dalam hadist: 

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Innamal A’malu Binniat Wa Innama Likullimriin Ma Nawa

Artinya: Perbuatan itu bergantung pada niatnya.Niat baik maka wujud perbuatannya baik. Niat buruk wujud kinerja nya akan buruk.

"Jadi ada karakter moral yang terakumulasi di dalam jiwa itu akan memberikan instruksi, dorongan kepada fisik dan jasmani kita untuk melakukan tindakan tertentu dalam bentuk karakter dan kinerja," jelas Ustadz Adi Hidayat.

Editor: Amelia