WARNA-WARNI

ULASAN RAMADAN

Memaknai Disabilitas Dalam Islam

Pendakwah Ustazah Dr. Ina Salma Febriany, M.A (Ilustrasi Info Indonesia)
Pendakwah Ustazah Dr. Ina Salma Febriany, M.A (Ilustrasi Info Indonesia)


JAKARTA - Sebagai agama yang menjunjung tinggi keadilan universal dan empati sosial, Islam secara tegas menegakkan nilai-nilai tersebut dalam sekian banyak ayatnya. 

Begitu kata pendakwah Ustazah Dr. Ina Salma Febriany, M.A dalam tulisannya yang dimuat di Cari Ustadz baru-baru ini. 

Dia menjelaskan, nilai-nilai universal yang dijunjung tinggi dalam Islam antara lain adalah al-musawa yang bermakna kesetaraan atau equality yang tertuang dalam Quran Surat Al-Hujurat: 13. 

Nilai lainnya adalah al-‘adalah atau keadilan, justice yang teruang dalam Quran Surat An-Nisa’/4: 135 dan Al-Maidah/5: 8

Selain itu ada juga nilai al-hurriyyah atau kebebasan, freedom yang tertuang dalam Quran Surat At-Taubah/9: 105. 


Salah satu dari empat ayat yang telah disebutkan, mewakili isyarat kesetaraan (derajat) manusia di hadapan Allah.

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS. al-Hujurat/ 49: 13)

Ustazah Ina menjelaskan, ayat yang tertulis di atas adalah penekanan dari ayat-ayat yang berbunyi sebelumnya yakni tentang penegasan bahwa semua orang mukmin adalah bersaudara (ikhwah).

"Selain itu juga tertuang mengenai larangan untuk melontarkan kata-kata yang kurang elok seperti menghina, mencaci maki, verbal bullying antar satu kaum dengan kaum lain, antara satu perempuan dengan perempuan lain, larangan mencela, larangan memanggil dengan panggilan yang buruk, pada ayat 11," jelasnya. 

Berikutnya, pada ayat 12, Allah melanjutkan tuntunan-Nya mengenai larangan untuk berprasangka, mencari-cari kesalahan orang lain, dan menggunjing sesama. 

"Akhir ayat 12 ini Allah tegaskan pula bahwa semua dosa yang tersebut di atas, diumpamakan seperti perilaku seseorang yang buruk memakan daging saudaranya sendiri yang tentu kita semua merasa jijik terhadapnya," jelasnya.

Pada ayat selanjutnya, Allah kembali memberikan informasi bahwa semua manusia baik laki-laki dan perempuan, Allah ciptakan dengan sangat banyak, berkembang biak, beranak pinak, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar bisa saling mengenal satu sama lain dan bukan merasa paling mulia atau lebih unggul di banding yang lain.

"Melalui penciptaan tersebut dengan segala perbedaan yang ada, tak lantas membuat manusia merasa lebih superior (unggul) dari pada yang lain baik karena jabatan, harta, kedudukan, warna kulit, derajat, kasta, strata sosial atau sifat-sifat materil lainnya. Mengapa? Sebab Allah menginginkan manusia setara di hadapan-Nya. Hanya satu tolok ukur yang membedakan manusia satu dengan lainnya, bukan sifat-sifat materil lagi melainkan derajat ketakwaan merekalah yang menjadi jaminan kemuliaan seseorang," terangnya.

Dia menambahkan, tuntunan surah al-Hujurat/49: 10-13 ini menjadi dasar bahwa Islam sungguh menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, kesetaraan, empati sosial kepada siapapun terlebih pada mereka yang terlahir dengan keistimewaan yang tidak dimiliki manusia pada umumnya.

"Mereka yang diuji keterbatasan fisik, mentalnya namun tetap harus berjuang untuk survive melanjutkan kehidupan," terangnya. 

Mereka yang dimaksudkan di sini adalah para penyandang disabilitas.

Dia pun mengajak kita untuk menciptakan lingkungan yang ramah dan inklusi terhadap para penyandang disabilitas; sesuai tuntunan Quran dalam Surat An-Nur; 61. 

“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu, dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, dirumah saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya atau dirumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian."


Video Terkait:
Permintaan Maaf McDanny Usai Hina Habib Rizieq
Editor: Amelia