POLHUKAM

Said Aqil: Kejujuran Masih Jadi Masalah Besar Bangsa Indonesia

KH Said Aqil Siroj. (Detikcom)
KH Said Aqil Siroj. (Detikcom)


JAKARTA - Salah satu tantangan terbesar dalam berbangsa dan bernegara yang dihadapi oleh Indonesia dewasa ini adalah rendahnya karakter kejujuran.  

Hal itu sebagaimana disampaikan Ketua Dewan Pembina Islam Nusantara Foundation, Said Aqil Siroj, dalam kesempatan buka puasa bersama di Jakarta, Senin (25/4/2022). 

"Masalah di Indonesia ini tidak ada siddiq (kejujuran), terus terang saja. Dari pusat sampai ke bawah, dari pemimpin sampai rakyat, dari yang pintar sampai yang bodoh, dari yang konglomerat sampai yang miskin. Tidak ada sifat siddiq atau kejujuran," katanya.

Padahal, menurut Said Aqil bahwa modal utama keimanan seseorang adalah sifat jujur. Hal itu dibuktikan dengan salah satunya ajaran puasa yang menjadi pendidikan kejujuran. 

"Tanpa diawasi oleh orang lain, kita tetap tidak makan dan tidak minum. Itulah pendidikan kejujuran," ujarnya.


Lebih jauh, dia mengatakan, nilai pendidikan kejujuran dalam berpuasa tidak dimiliki oleh ibadah lain. 

"Kalau salat masih bisa riya (pamer), zakat juga demikian. Tapi puasa tidak bisa pamer, sebab tidak kelihatan," jelas Said Aqil. 

Baginya, masalah berbangsa dan bernegara yang sedang dialami Indonesia belakangan ini adalah terutama dikarenakan hilangnya sifat siddiq yang seharusnya dimiliki dan menjadi karakter bangsa. 

"Masalah kelangkaan minyak goreng, langkanya Solar itu disebabkan hilangnya sifat siddiq atau kejujuran. Ironis sekali, Indonesia sebagai negara penanam sawit nomor satu di dunia, minyak goreng bisa tidak ada. Itu ironis sekali. Ini karena tidak adanya karakter kejujuran," pungkas Said Aqil yang juga mantan Ketua Umum PBNU.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo