DAERAH

MUDIK LEBARAN

Ancaman Gunung Anak Krakatau, Merak-Bakauheni Perlu Perhatian Serius

Situasi Gunung Anak Krakatau yang terpantau melalui aplikasi, Kamis (28/4/2022). (Info Indonesia)
Situasi Gunung Anak Krakatau yang terpantau melalui aplikasi, Kamis (28/4/2022). (Info Indonesia)


JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sudah mengeluarkan peringatan tentang meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, dan berpotensi berdampak pada kelancaran dan keselamatan di penyeberangan Merak-Bakauheni.

Anggota Komisi V DPR RI, Sigit Sosiantomo meminta agar penyeberangan Merak-Bakauheni mendaptkan perhatian serius selama periode mudik Lebaran 2022.

Perhatian serius itu, kata dia, perlu diantisipasi bukan hanya soal kemacetan akibat padatnya pemudik, tapi juga kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana kalau terjadi letusan gunung Anak Krakatau.

Sigit pun meminta masyarakat dan pemudik mewaspadai potensi bencana di malam hari akibat erupsi Anak Krakatau. Sigit menganjurkan pemudik untuk melakukan penyeberangan di siang hari.

Sementara itu, untuk mengatasi kemacetan di Bakauheni, Sigit berharap Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan ASDP berkoordinasi untuk membahas kemungkinan penambahan jadwal penyeberangan dengan menambah armada kapal feri yang melayani penyeberangan di Selat Sunda itu.


"Jumlah kapal yang dioperasikan PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Merak berjumlah 27 kapal dari 68 kapal yang siaga atau naik 17 persen dari 2019. Sementara, di Selasa lalu saja pemudik dengan kendaraan pribadi sudah melonjak lebih dari 42 persen," kata Sigit Sosiantomo dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (28/4/2022).

Hal itu, menurut dia artinya antrean mendapat kapal untuk menyeberang akan panjang dan macet.

"Untuk tiket Kamis ini saja sudah habis terjual dan baru tersedia untuk keesokan harinya. Karena itu, ini harus menjadi perhatian," kata Sigit.

Sebelumnya, status Gunung Anak Krakatau saat ini berada di level 3 atau siaga. Badan Geologi Kementerian ESDM menaikkan status ini sejak hari, Minggu (24/4/2022), pukul 18.00 WIB.

Dalam update status yang disampaikan di aplikasi Magma Indonesia, pada periode pengamatan pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, teramati asap kawah Gunung Anak Krakatau berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang.

Merujuk pada Permen ESDM Nomor 15 Tahun 2011, tingkat aktivitas gunung api terjadi menjadi 4 level, yakni normal, waspada, siaga dan awas, berikut penjelasan setiap level;

Level I (normal):

  • Hasil Pengamatan: tidak ada perubahan aktivitas signifikan baik secara visual, seismik, dan kejadian vulkanik serta tidak ada letusan hingga kurun waktu tertentu.
  • Ancaman bahaya: gas beracun di sekitar kawah (pada gunung api tertentu).

Level II (waspada):

  • Hasil Pengamatan: mulai memperlihatkan peningkatan aktivitas seismik. Pada beberapa gunung api dapat terjadi erupsi. Pada status ini juga mulai terlihat perubahan visual di sekitar kawah. Mulai terjadi gangguan magmatik, tektonik, atau hidrotermal, namun diperkirakan tak terjadi erupsi dalam jangka waktu tertentu.
  • Ancaman bahaya: berada di sekitar kawasan.

Level III (Siaga):

  • Hasil Pengamatan: memperlihatkan peningkatan aktivitas yang semakin nyata. Berdasarkan analisis data observasi, kondisi itu akan diikuti dengan letusan utama. Artinya, jika peningkatan kegiatan gunung api terus berlanjut, kemungkinan erupsi besar mungkin terjadi dalam kurun dua pekan.
  • Ancaman bahaya erupsi bisa meluas tapi tidak mengancam permukiman penduduk.

Level IV (Awas):

  • Hasil Pengamatan: teramati mengalami peningkatan aktivitas yang semakin nyata atau gunung api paling memungkinkan mengalami erupsi. Status Awas merujuk letusan utama yang dilanjutkan dengan letusan awal, diikuti semburan abu dan uap. Setelah itu akan diikuti dengan erupsi besar. Dalam kondisi ini, kemungkinan erupsi besar akan berlangsung dalam kurun 24 jam.
  • Ancaman bahaya erupsi bisa meluas dan mengancam pemukiman penduduk. 

Video Terkait:
Warga Masih Boleh Mudik Dengan SIKM
Editor: Saeful Anwar