OPINI

Haedar Nashir Figur Alternatif yang Bisa Memimpin Indonesia

Haedar Nashir. (Net)
Haedar Nashir. (Net)


MEMANG tukang survei tidak pernah memasukkan namanya dalam jajaran orang-orang yang mesti ditanyakan kepada masyarakat perihal siapa sosok yang layak memimpin Indonesia pasca Jokowi sebagai presiden.

Padahal, dalam berbagai aspek tentang kriteria kepemimpinan sosok Haedar Nashir adalah figur yang pada dirinya terintegrasi semua aspek yang dipersyaratkan bagi seorang pemimpin. Pemikiran-pemikirannya tentang masalah kebangsaan dan keummatan tersebar diberbagai media nasional setidaknya dalam 20 tahun terakhir dapat Anda temukan. Bukan sekedar disampaikan secara teoritikal, namun juga telah dibuktikannya dalam tindak dan laku beliau, terutama semenjak beliau memimpin PP Muhammadiyah. Sebuah organisasi yang memayungi puluhan ribu sekolah, ratusan rumah sakit, ribuan badan usaha yang terus maju dan berkembang tanpa banyak terpengaruh oleh pergantian kepemimpinan nasional. Menunjukkan bahwa "sistem nilai yang berkemajuan" benar-benar "hidup" di dalamnya.

Nuansa ajaran Islam yang sejuk, toleran, membawa kedamaian bagi semua menjadi ciri dari watak keberislaman di dalam organisasi yang dibangun dengan penuh kesabaran dan ketakwaan oleh para founding fathers organisasi itu semenjak Republik belum berdaulat. Jika Anda mencari sosok pemimpin, berarti Anda sedang mencari seseorang yang dapat menjadi panutan. Sosok seperti ini begitu langka dewasa ini. Tidak dibutuhkan hasil survei dan kajian yang berbelit-belit untuk menetapkan bahwa sosok Haedar Nashir salah satu dari 'sedikit' putra-putri terbaik bangsa yang memenuhi kriteria yang patut dijadikan panutan itu.

Saya tidak menampik bahwa banyak sosok yang tampil dan sedang menjadi perbincangan halayak, terutama karena telah dimasukkan oleh para tukang survei dalam polling maupun survei yang mereka lakukan. Para figur yang digadang-gadang itu menemui Haedar Nashir meminta semacam restu dan dukungan, agar warga Muhammadiyah khususnya dan umat Islam pada umumnya "melihat" mereka.

Bagi orang yang mau sedikit menggunakan akalnya, tentu tidak sulit untuk mengatakan bahwa para figur yang mau nyapres itu, mengakui keutamaan Prof. Haedar Nashir. Hati nurani mereka berkata, kami perlu minta nasehat kepada Prof Haedar Nashir, karena beliau sosok yang layak untuk diteladani. So, jika benar demikian, apa tidak sekalian saja Prof Haedar Nashir itu yang dimintai kesediaannya untuk tampil memimpin Indonesia?


Kenapa mesti dimintai kesediaannya? Karena sosok mumpuni, tentu tidak akan menawar-nawarkan diri maju sebagai "imam" jika umat tidak memintanya.

Jika saja para pemimpin partai politik memiliki sikap kenegarawanan, tentu mereka akan mencari figur terbaik untuk dimintai kesediaannya tampil mengemban amanah, agar mau tampil memimpin bangsanya ke arah yang membawa kemajuan bagi negara. Tentu saja pemikiran mengedepankan kepentingan bangsa dan negara itu seharusnya ada di kepala para pemimpin partai politik.
Pak SBY dan Ibu Megawati misalnya, dua mantan Presiden Indonesia itu tentu memiliki sikap kenegarawanan yang tidak kita ragukan. Meskipun keduanya memiliki putra dan putri yang saat ini nampaknya punya ambisi juga untuk menjadi calon presiden.

Catatan ini kami dimaksudkan untuk mengingatkan kepada kita sebagai warga bangsa, bahwa di tengah situasi kompleksitas tantangan kebangsaan yang sedang kita hadapi, mari kita mengedepankan kepentingan negara diatas kepentingan keluarga, kelompok dan status apapun; sembari mencari titik temu bagi kemajuan bersama warga bangsa. Salah satu kunci mengatasi berbagai tantangan itu, adalah menemukan figur yang tepat untuk memimpin Indonesia ke arah yang lebih baik.

Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada nama-nama yang telah digadang-gadang oleh para tukang survei untuk maju pada pilpres 2024, seperti Mbak Puan, AHY, Prabowo, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, Mahfud MD, Syahrul Yasin Limpo, Tito Karnavian, Gatot Nurmantyo, Airlangga, Muhaimin, La Nyalla atau nama lain yang tidak kami sebutkan, kami berpandangan bahwa para sesepuh bangsa utamanya, Ibu Megawati, Pak SBY, Surya Paloh, perlu bicara dari hati ke hati, untuk benar-benar memperhatikan pentingnya kehadiran figur yang tepat untuk kemajuan bangsa dan negara.

Dengan rendah hati, kami ajukan dan mohonkan supaya Prof. Haedar Nashir dipertimbangkan sebagai calon alternatif di antara sekian nama-nama yang telah mengemuka di ruang publik.

Selanjutnya, hanya kepada Allah kami berserah diri, dan bermohon semoga bangsa dan negara Indonesia tercinta ini, tidak semakin terpuruk, semakin menjauh dari cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Hasanuddin
(Ketua Umum PBHMI 2003-2005)

Artikel ini juga bisa Anda baca di Koran Info Indonesia edisi Senin, 9 Mei 2022.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo