EKONOMI

Kementan Tingkatkan Produksi Beras Lewat Revitalisasi RMU dan Inovasi Dryer

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Suwandi (kiri) dan Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan, Gatut Sumbogodjati (kanan). (Dok. Kementan RI)
Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Suwandi (kiri) dan Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan, Gatut Sumbogodjati (kanan). (Dok. Kementan RI)


JAKARTA - Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) terus melakukan terobosan untuk meningkatkan produksi beras, sebagai komoditas utama yang dibutuhkan masyarakat dan juga menguatkan peran sektor pertanian dalam stabilitas ekonomi makro. 

Salah satunya dengan melakukan revitalisasi mesin penggilingan atau rice milling unit (RMU) dan inovasi alat pengering (dryer) padi.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan, Gatut Sumbogodjati mengatakan, penyediaan pangan menjadi sebuah tantangan dalam memenuhi kebutuhan seluruh penduduk Indonesia.

"Maka dari itu perlu adanya strategi untuk peningkatan produksi pangan khususnya beras agar kebutuhan bisa terpenuhi, salah satunya dengan revitalisasi penggilingan padi sekaligus menginovasi dryer padi untuk meningkatkan kualitas dan nilai jual gabah atau beras petani,” kata dia dalam keterangan kepada wartawan, di Jakarta, Kamis (12/5/2022).

Gatut menyampaikan, untuk meremajakan mesin penggilingan padi, pelaku penggilingan padi kecil maupun menengah agar mampu menggunakan fasilitas dana Kredit Usaha Rakyat (KUR). Akses KUR untuk pengadaan penggilingan dan dryer akan menguntungkan semua pihak. 


“Seperti, pengusaha penggilingan akan diuntungkan karena memiliki penggilingan dan dryer yang berkualitas, terutama disaat cuaca tidak bersahabat,” kata dia.

Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi mengatakan sesuai arahan kebijakan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, ada 5 strategi cara bertindak yang harus diikuti untuk mewujudkan pertanian maju mandiri modern. Diantaranya meningkatkan kapasitas produksi, terutama padi. 

Suwandi mengatakan, sejak 2019 hingga kini, Indonesia tidak melakukan impor beras umum. Karena, kata dia, Pemerintah terus berupaya memperbaiki kualitas mutu produksi beras di dalam negeri. 

"Salah satunya dengan membenahi penggilingan padi skala kecil. Saya mengapresiasi jika ada kelompok tani yang mampu membuat bed dryer sebagai salah satu kelengkapan RMU. Misalnya yang dilakukan Sutrisno, Ketua Gapoktan Tani Makmur, Ngawi dan Edi Narwanto, pemilik UD Sari Agung, Sragen,” kata dia.

Selain itu, Suwandi menambahkan, hilirisasi padi ini tidak hanya beras. Namun, masih banyak produk turunan dari padi yang bisa diolah seperti dedak, tepung atau menir yang bisa menjadi bahan baku untuk diproses ulang. 

“Untuk menguatkan cadangan beras ke depannya, arahan Bapak Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo seluruh penggilingan itu harus naik kelas. Nah, jangan sampai menir pun kita ambil dari tempat lain. Cintai produk dalam negeri."

Editor: Saeful Anwar