WARNA-WARNI

Waspada Pemerasan Berkedok Penyadapan WhatsApp, Ini Penjelasan Pakar Keamanan Siber

WhatsApp. (Net)
WhatsApp. (Net)


JAKARTA – Aplikasi perpesanan populer WhatsApp (WA) dinilai memiliki tingkat keamanan siber yang tinggi. Meski begitu, kehati-hatian tetap diperlukan bagi setiap pengguna agar terhindar dari tindak kriminal, termasuk pemerasan. 

Pakar Keamanan Siber dari Vaksincom Alfons Tanujaya mengingatkan kepada seluruh pengguna WhatsApp untuk bijak menggunakan aplikasi tersebut. Dia menjelaskan, demi menjaga privasi penggunanya, WhatsApp menerapkan enkripsi end to end yang unik untuk setiap percakapan. Sehingga kunci untuk membuka percakapan yang dienkripsi hanyalah perangkat pengguna WhatsApp.

“Jadi jika ada yang mengatakan bisa menyadap WhatsApp, Signal atau Instagram yang sudah dienkripsi, anda perlu langsung curiga dan jangan percaya,” kata Alfons dalam keterangannya yang diterima Info Indonesia, Jumat (13/5/2022).

Dia mengatakan, secara teknis melakukan penyedapan bisa dilakukan, jika hacker alias peretas maupun pengguna WhatsApp berada dalam jaringan Wifi yang sama. Jadi, hacker bisa melakukan penyadapan melalui ISP yang digunakan korban. 

Akan tetapi, membaca hasil sadapan tidak akan bisa, karena hasil enkripsi dan kunci dekripsinya hanya disimpan di aplikasi perangkat pengguna WhatsApp. 


Selain itu, sambungnya, server WhatsApp sekalipun tidak memiliki kunci untuk membuka enkripsi tersebut.

Namun, kata dia, beberapa oknum ingin menyadap isi pembicaraan Whatsapp orang lain, apakah itu kompetitor bisnisnya, mantan, pasangannya yang terkadang dekat di Whatsapp tapi jauh di hati atau alasan lainnya.

“Keinginan ini dimanfaatkan dengan baik oleh penipu untuk mendapatkan keuntungan finansial dari orang yang ingin menyadap komunikasi WhatsApp dengan mengaku mampu menyadap Whatsapp,” katanya.

Disampaikan Alfons, hacker itu ibarat dukun santet jaman modern. Alih-alih berhasil menyadap percakapan WhatsApp dari korban yang di incarnya. Malah, ia menjadi korban penipuan dengan berbagai rekayasa sosial. Dan, kata Alfons, pada akhirnya bukan hasil sadapan yang didapatkan, melainkan aksi pemerasan.

"Jika korban tidak membayarkan sejumlah uang yang diklaim untuk menyadap, maka aksi penyadapan ini akan dilaporkan kepada pemilik nomor yang akan disadap,” pungkasnya.


Video Terkait:
Ibu Jual Anak Kandungnya Rp 400 Ribu Sekali Kencan
Editor: Amelia