POLHUKAM

Aksi Kekerasan Warnai Pemakaman Jurnalis Shireen Abu Aqla, Peti Matinya Hampir Jatuh

Ratusan pelayat mengantarkan jenazah Shireen Abu Aqla ke tempat peristirahatan terakhirnya. (Al Jazeera)
Ratusan pelayat mengantarkan jenazah Shireen Abu Aqla ke tempat peristirahatan terakhirnya. (Al Jazeera)


JAKARTA – Pemakaman jurnalis Al Jazeera yang ditembak mati oleh pasukan Israel di wilayah Tepi Barat yang diduduki, Shireen Abu Aqla, diwarnai dengan kekerasan.

Kasus pembunuhannya mengundang sorot publik dunia pekan ini. Pasalnya, Abu Aqla ditembak di bagian kepala oleh pasukan Israel saat dia sedang bertugas melakukan peliputan di wilayah Tepi Barat. Dia meliput bersama sejumlah rekan jurnalis lainnya dan mengenakan rompi pers. 

Abu Aqla sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawa wanita 51 tahun itu tidak terselamatkan. 

Kematian Abu Aqla mengundang kemarahan dari banyak pihak, termasuk di Palestina sendiri. 

Jasadnya dimakamkan di Yerusalem Timur, namun prosesi pemakamannya, yang dihadiri oleh ratusan orang, diwarnai dengan kekerasan. 


Peti matinya hampir jatuh ketika polisi Israel yang sebagian di antaranya menggunakan tongkat, melakukan kekerasan kepada sejumlah warga Palestina yang berkumpul di sekitar peti mati sang jurnalis. 

Pihak kepolisian Israel mengatakan bahwa mereka bertindak setelah dilempari batu.

Rekaman video yang beredar menunjukkan suasana kacau saat polisi dan warga Palestina yang berkumpul di sekitar peti mati di kompleks rumah sakit, sebelum petugas mendorong kerumunan itu kembali, dengan beberapa aksi pemukulan dan penendang dilakukan oleh polisi kepada pelayat. 

Kasus kematian Abu Aqla menjadi titik kontroversi tersendiri. Otoritas Palestina dan Al Jazeera mengklaim bahwa Abu Aqla ditembak mati oleh pasukan Israel, sementara Israel mengatakan belum menentukan apa yang terjadi dan justru berdalih bahwa bisa saja Abu Aqla terbunuh oleh tembakan Palestina.

Jasad Abu Aqla sendiri dimakamkan di kompleks Presiden Palestina Mahmoud Abbas, di mana peti matinya dibawa terbungkus bendera Palestina. 

Dikabarkan BBC pada Sabtu (14/5/2022), Presiden Abbas memberikan penghormatan kepadanya, menggambarkannya sebagai martir kata bebas yang mengorbankan hidupnya untuk membela perjuangan Palestina.

Dia mengatakan Israel bertanggung jawab penuh atas pembunuhannya dan bahwa dia akan merujuk kasus itu ke Pengadilan Kriminal Internasional, yang menyelidiki potensi kejahatan perang.


Video Terkait:
Diduga, Airlangga Buka Suara Soal Perselingkuhan
Editor: Amelia