DAERAH

Ketua KPK Puji Upaya Pemprov Sumsel Dalam Pencegahan Korupsi

Gubernur Sumsel, Herman Deru, bersama Ketua KPK, Firli Bahuri, usai Rakor Program Pemberantasan Korupsi Terintegrasi Wilayah Sumsel 2022 di Palembang, Kamis (19/5/2022).
Gubernur Sumsel, Herman Deru, bersama Ketua KPK, Firli Bahuri, usai Rakor Program Pemberantasan Korupsi Terintegrasi Wilayah Sumsel 2022 di Palembang, Kamis (19/5/2022).


PALEMBANG - Komisi Pemberantasan Korupsi menilai upaya pencegahan korupsi yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan yang dikomandoi Gubernur Herman Deru cukup baik. Hal itu terlihat dari rekam jejak yang dipantau KPK melalui sistem Monitoring Centre for Prevention (MCP).

Ketua KPK, Firli Bahuri, memuji langkah serius yang dilakukan Pemprov Sumsel dalam pencegahan tindak pidana korupsi. Di mana, berdasarkan rekam jejak yang tercatat di MCP, upaya pencegahan yang dilakukan Pemprov Sumsel mencapai 78,5 persen.

"Rekam jejak itu tidak bisa kita bantah. Upaya Pemprov Sumsel dalam mencegah terjadinya korupsi sebesar 78,5 persen. Angka itu tentu lebih tinggi dari target yang hanya sebesar 70 persen. Keseriusan Sumsel dalam mencegah terjadinya tindak pidana korupsi ini tentu kita apresiasi," kata Firli dalam Rapat Koordinasi Program Pemberantasan Korupsi Terintegrasi Wilayah Sumsel Tahun 2022 di Griya Agung Palembang, Kamis (19/5/2022).

Tidak hanya itu, hasil survei penilaian integritas di Sumsel juga melampaui target yang ditetapkan. Pada Survei penilaian integritas tersebut, Sumsel memperoleh angka 70,65 persen.

"Penilaian ini sangat penting untuk mengetahui sejauhmana upaya yang telah kita lakukan. Karena pencegahan dan pemberantasan korupsi ini tidak bisa dilakukan oleh KPK sendiri tapi dilakukan secara bersama-sama. Sejauh ini Sumsel sendiri telah berkontribusi dalam hal tersebut," terang Firli.


Menurut dia, tindakan korupsi terjadi karena lemahnya pengawasan dan buruknya sistem. Serta minimnya integritas para pemangku kepentingan.

"Sebab itu perbaikan sistem harus terus dilakukan untuk mempersempit ruang gerak terjadinya pidana korupsi. Jika tidak, artinya kita membuka peluang terjadinya pidana korupsi tersebut," ujar Firli.

Termasuk juga melakukan pembenahan perpolitikan serta memberikan edukasi kepada partai politik.

Firli mengungkapkan, edukasi dan pembenahan politik dalam upaya pencegahan tindak pidana korupsi dinilai sangat penting dilakukan. Hal itu mengingat, politik menguasai suara rakyat, melahirkan wakil rakyat, menghasilkan pemimpin serta menyusun seluruh regulasi.

"Kita harus benahi sistem politik dan partai politik yang ada. Karena korupsi juga bisa terjadi kerena bertemunya kekuasaan dan minusnya integritas dari penguasa yang dipilih," kata Firli.

Gencarnya pencegahan dan pemberantasan korupsi yang dilakukan KPK tersebut guna membangun budaya antikorupsi, sehingga tercapainya kesejahteraan umum.

"Ini langkah kita untuk menghentikan aksi korupsi. Kita memantau program pemerintah dengan memperbaiki sistem. Jadi sistem yang ramah dengan korupsi akan kita tinggalkan," ujar Firli.

Dengan upaya itu, dia berharap tujuh indikator kesejahteraan yakni penurunan angka kemiskinan, penurunan angka pengangguran, minimnya angka kematian ibu melahirkan, minimnya angka kematian bayi, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia, pendapatan perkapita dan angka gini rasio dapat terlaksana dengan baik.

"Seperti di Sumsel, angka kemiskinannya masih 12,56 persen sedangkan angka pengangguran sebesar 3,86 persen lebih rendah dari nasional. Tapi antara angka kemiskinan dan penggunaan itu tidak berbanding lurus. Ini harus kita cermati sehingga kemiskinan dapat ditekan," jelas Firli.

Dia juga menyampaikan bahwa dalam upaya pengentasan kemiskinan tentu harus melihat permasalahan yang terjadi, sehingga kemiskinan tersebut dapat diatasi.

"Angka kemiskinan di Sumsel ini merupakan akumulasi dari kabupaten dan kota di dalamnya. Artinya, angka yang ada di pemerintah provinsi merupakan kontribusi dari kabupaten dan kota. Sebab itu, kabupaten dan kota harus berupaya agar kemiskinan tersebut dapat ditekan semaksimal mungkin," imbuh Firli.

Rapat Koordinasi Program Pemberantasan Korupsi Terintegrasi Wilayah Sumsel Tahun 2022 dibuka langsung oleh Gubernur Sumsel, Herman Deru.

Rakor tersebut bertujuan untuk melihat sejauhmana rencana aksi yang telah dilakukan serta progres yang telah dicapai

"Kita berharap hal ini dapat menyatukan langkah mewujudkan pemerintahan yang baik dan bebas korupsi khususnya di Sumsel," kata Herman Deru.

Herman Deru sejak lama terus mendengungkan aksi pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi.

Berbagai upaya juga sudah dilakukan dalam rangka pencegahan dan pemberantasan korupsi tersebut.

"Kita terus melakukan perbaikan tata kelola keuangan, penentuan kebijakan, serta transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan dan aset negara," jelasnya.

Dengan sinergitas dan transparansi dalam pengelolaan keuangan tersebut, Herman Deru berharap dapat menutup ruang gerak korupsi dan praktik korupsi dapat diminimalisir.

"Sinergitas memang harus dibangun dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi ini. Semua harus terlibat dalam pemberantasannya," tegasnya.

Upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi tidak hanya melibatkan kepala daerah tapi juga menggandeng Inspektorat Jenderal Kemendagri dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

 Turut hadir dalam rakor tersebut antara lain Irjen Kemendagri, Tumpak Haposan Simanjuntak; Direktur Pengawasan Akuntabilitas Keuangan Daerah BPKP, Edi Mulia; Plt Deputi Bidang Koordinasi dan Supervisi KPK, Yudhiawan; Kasatgas Lampung, Sumsel dan Kepulauan Babel, Andy Purwana. Kemudian PIC KPK Wilayah Sumsel, Alfi Rachman Waluyo; Ketua DPRD Sumsel, RA Anita Noeringhati; Kapolda Sumsel, Irjen Toni Harmanto; Plt Kajati Sumsel, Muhammad Naim; Ketua Pengadilan Tinggi Agama Palembang, H.R.M Zaini; unsur forkopimda serta sejumlah bupati/wali kota di Sumsel.


Video Terkait:
Wali Kota Palembang Ajak Ganjar-Deru Nikmati Sungai Sekanak Lambidaro
Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo