POLHUKAM

Panas Dingin Cak Imin-Gus Yahya, Elektabilitas PKB Bisa Merosot tajam

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. (Net)
Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. (Net)


JAKARTA – Peluang Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin untuk mencoba peruntungan dalam kontestasi sebagai calon presiden (capres) semakin meredup.

Begitu pandangan Pengamat Politik dari Citra Institute, Efriza saat diwawancara Info Indonesia, Sabtu (21/5/2022).

“Cak Imin semakin membawa dirinya dalam pusaran konflik antara PKB dengan Nahdlatul Ulama (NU). Dampaknya adalah PKB bukan saja dapat kehilangan simpati dari warga Nahdliyin dan elektabilitas PKB dapat merosot tajam,” katanya.

Efriza menjelaskan, perseteruan antara Cak Imin dan Ketua Umum PNBU Yahya Cholil Staquf atau dikenal juga sebagai Gus Yahya itu ditengarai kebijakan PBNU yang ingin menjauhi NU dari politik.

Konsekuensi dari kebijakan itu sama saja memberikan pilihan kepada warga Nahdliyin untuk memilih partai politik selain PKB.


“Pernyataan ini menunjukkan bahwa PKB sebagai kendaraan politik tidak lagi dapat dipersonalisasikan sebagai wadahnya warga Nahdiliyin dalam berpolitik maupun sebagai konstituen semata,” terangnya.

Disampaikan Efriza, Cak Imin merasa bahwa kebijakan dan perilaku tegas Gus Yahya menyulitkan ruang geraknya ketika bersafari dalam mensosialisasikan dirinya kepada Kiai maupun pondok pesantren.

Tindakan tegas Gus Yahya yang menegur anggotanya yang memberikan dukungan kepada Cak Imin juga membuat orang nomor satu di PKB itu jengkel.

“Hal itu amat merisaukan hati Muhaimin,” imbuhnya.

Akibatnya perseteruan antara keduanya ternyata semakin meluas. Bahkan, hingga saat ini belum ada tanda-tanda yang menunjukkan hubungan Cak Imin dan Gus Yahya itu membaik.

Lebih lanjut Efriza menilai, Cak Imin saat ini ibarat sedang dikepung. Dia seperti diletakkan sebagai musuh bersama, dari perseteruan institusi PKB dengan institusi konstituennya yakni NU.

“Saat ini, NU memperoleh persepsi positif, sebaliknya berbeda dengan Cak Imin," tandasnya.

Menurut Efriza, protes terhadap tingkah Cak Imin yang dianggap arogan terus berdatangan. Cak Imin dianggap tidak memberikan contoh dalam sikapnya yang penuh adab.

Editor: Amelia