POLHUKAM

Senjata Api, Pembunuh Nomor Wahid Anak dan Remaja di AS

Senjata yang disita di sekolah umum New York City ditampilkan pada konferensi pers pada 25 Mei 2022 di New York City. (AFP)
Senjata yang disita di sekolah umum New York City ditampilkan pada konferensi pers pada 25 Mei 2022 di New York City. (AFP)


JAKARTA - Kasus Penembakan di sebuah sekolah dasar di Texas oleh seorang remaja beberapa hari lalu semakin mengundang sorot publik dunia mengenai bahaya penyalahgunaan api di negeri Paman Sam. 

Senjata api sendiri semakin menjadi ancaman serius bagi anak-anak di Amerika Serikat. Bukan tanpa alasan, pasalnya, data terbaru yang dirilis oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menunjukkan bahwa secara keseluruhan, 4.368 anak-anak dan remaja hingga usia 19 tahun meninggal karena senjata api pada tahun 2020.  

Dengan demikian, senjata api telah melampaui kecelakaan kendaraan bermotor sebagai penyebab utama kematian anak-anak di negeri Paman Sam. Sebagai perbandingan, tercatat ada 4.036 kematian terkait dengan kendaraan bermotor.

Sebelumnya, kecelakaan kendaraan bermotor kerap menjadi penyebab utama kematian remaja dan anak-anak di Amerika Serikat. Namun "tren" itu berubah pada tahun 2020 lalu, di mana senjata api menggantikan posisi utama. Hal ini terjadi lantaran langkah-langkah keselamatan jalan telah meningkat selama beberapa dekade. Sehingga angka kecelakaan di jalan pun mulai merosot.

Di sisi lain, penggunaan senjata api diduga semakin meningkat, terutama di tengah pandemi COVID-19. Merujuk pada sebuah temuan yang diidentifikasi dalam sebuah surat kepada New England Journal of Medicine (NEJM) minggu lalu, penulis surat mencatat bahwa data baru konsisten dengan bukti lain bahwa kekerasan senjata meningkat selama pandemi COVID-19, untuk alasan yang tidak sepenuhnya jelas.


Merujuk pada data CDC, sebagaimana dimuat AFP pada Jumat (27/5/2022), kematian secara tidak proporsional akibat senjata api umumnya berdampak pada anak-anak dan remaja kulit hitam. Sedangkan kelompok kedua yang paling terpengaruh oleh senjata adalah orang Indian Amerika, diikuti oleh orang kulit putih Hispanik. Sementara itu, laki-laki enam kali lebih mungkin mati oleh senjata daripada perempuan.

Sementara itu, berdasarkan wilayah, tingkat kematian terkait senjata paling tinggi akibat senjata api terjadi di Washington DC, diikuti oleh negara bagian Louisiana, lalu Alaska. 

"Sejak 1960-an, upaya terus-menerus telah diarahkan untuk mencegah kematian akibat kecelakaan kendaraan bermotor," tulis para penulis surat baru-baru ini kepada NEJM. Mereka membandingkan situasi dengan senjata api, di mana peraturan telah dilonggarkan.

Mereka juga menyoroti bahwa jika terkait keselamatan kendaraan, telah ada Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional yang berperan mengatur dan meminimalisir potensi kecelakaan di jalan. Namun terkait senjata api, tidak ada lembaga setara untuk mengatur keamanan senjata, dan secara historis sangat sedikit dana penelitian pemerintah yang ditugaskan ke daerah tersebut karena penolakan dari Partai Republik.


Video Terkait:
Geo Dipa Dieng Bocor, Satu Tewas, Puluhan Lain Dilarikan ke Rumah Sakit
Editor: Amelia