WARNA-WARNI

Mengenal Lebih Dekat Buya Syafii Maarif dan Warisan Intelektualnya

Buya Syafii Maarif. (Net)
Buya Syafii Maarif. (Net)


YOGYAKARTA - Indonesia kembali kehilangan tokoh bangsa pada hari ini, Jumat (27/5/2022). Buya Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif menghembuskan napas terakhirnya pada usia 86 tahun. Almarhum meninggal dunia pukul 10.15 WIB di RS PKU Muhammadiyah Gamping.

Semasa hidupnya, Buya Syafi'i dikenal sebagai seorang ulama dan cendekiawan Indonesia yang rendah hati, bersahaja dan sederhana. Padahal, jika menengok rekam jejaknya, dia layak merupakan tokoh yang memberikan kontribusi nyata bagi bangsa. 

Ibarat pepatah "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama", demikian dengan Buya Syafii Maarif. Kepergiannya meninggalkan nama harum bagi bangsa Indonesia. 

Meski hayat tidak lagi dikandung badan, namun warisan ketokohan dan intelektualitasnya masih bisa dirasakan hingga saat ini. 

Pria kelahiran 31 Mei 1935 ini pernah menjabat Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP). Dia juga sekaligus merupakan pendiri Maarif Institute.


Semasa muda, dia sempat menggeluti beberapa pekerjaan untuk melangsungkan hidupnya. Dia pernah menjadi guru mengaji dan buruh sebelum diterima sebagai pelayan toko kain pada 1958. Setelah kurang lebih setahun bekerja sebagai pelayan toko, dia membuka dagang kecil-kecilan bersama temannya. Selain itu, Buya Syafii juga sempat menjadi guru honorer di Baturetno dan Solo.

Tidak sampai di situ, dia pun sempat menjadi redaktur Suara Muhammadiyah dan anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Kendati begitu, dia tetap berkontribusi sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam. Ketertarikannya pada ilmu sejarah membawanya menekuni Program Master di Departemen Sejarah Universitas Ohio, Amerika Serikat. Sementara gelar doktornya diperoleh dari Program Studi Bahasa dan Peradaban Timur Dekat, Universitas Chicago, Amerika Serikat. 

Selama di Chicago inilah, anak bungsu dari empat bersaudara ini, terlibat secara intensif melakukan pengkajian terhadap Al-Quran, dengan bimbingan dari seorang tokoh pembaharu pemikiran Islam, Fazlur Rahman. Di sana pula, dia kerap terlibat diskusi intensif dengan Nurcholish Madjid dan Amien Rais yang sedang mengikuti pendidikan doktornya.

Sepak terjang dan pemikirannya masih bisa kita nikmati hingga saat ini, karena almarhum aktif menuangkan pemikirannya kepada tulisan. Dia kerap menulis buku bertemakan islam, politik, humanisme dan juga kebhinekaan. 

Seperti bikinya berjudul "Fikih Kebhinekaan" tahun 2015, "Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah" tahun 2009, "Membumikan Islam" tahun 1995 dan lusinan buku lainnya hasil gagasan dan buah pikiran sang cedekiawan. 

Selamat Jalan Buya Syafii. Ragam boleh mati, namun pemikiran tetap hidup, tidak termakan waktu.

Editor: Amelia