POLHUKAM

Jokowi-Megawati Semakin Mesra

Enggak Mikir Copras-capres, Enggak Mempan Adu Domba



JAKARTA - Isu keretakan hubungan Presiden Jokowi dengan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, semakin menjadi-jadi.

Belakangan rumor itu dikaitkan dengan perbedaan pilihan politik keduanya soal figur yang akan diusung sebagai calon presiden di 2024.

Sekilas isu keretakan itu ada benarnya. Masyarakat bisa melihat sendiri bahwa akhir-akhir ini semakin sering kader PDIP di parlemen yang blak-blakan mengkritik Jokowi, dari menyasar sisi kebijakan pemerintah sampai pribadi presiden. Di sisi lain, kuat pula dugaan bahwa kabar pecah kongsinya Jokowi dengan Megawati sengaja ditiupkan untuk tujuan politik tertentu. Bisa jadi untuk merusak konsentrasi pemerintah yang sedang bekerja memulihkan ekonomi, menjatuhkan elektabilitas PDIP menjelang Pemilu 2024, atau sekadar untuk mengaburkan peta politik.

Faktanya, beberapa hari setelah Lebaran kemarin, Jokowi menemui Megawati di kediaman pribadi Presiden ke-5 RI itu, Jalan Teuku Umar, Jakarta. Pertemuan tersebut diumumkan oleh putri Megawati, Puan Maharani, melalui akun Instagram pribadi (Sabtu, 7/5/2022). 

Menurut Puan, ibunya dan sang presiden sempat membahas masalah strategis kebangsaan.


"Silaturahim Ibu Megawati Soekarnoputri dan Presiden Jokowi di kediaman Teuku Umar dalam suasana Hari Raya Idul Fitri, pertemuan juga membahas hal-hal strategis bagi kemajuan bangsa dan negara Indonesia," tulis Puan.

Namun, pertemuan tersebut tidak mempan meredam isu perpecahan yang terlanjur bergulir. Terutama setelah Presiden Jokowi menghadiri Rakernas V organisasi relawan Projo di Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (21/5/2022). Orasi Jokowi dalam acara Projo ditafsirkan sebagai dukungan terselubung kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Prabowo, yang turut hadir di acara, untuk mencalonkan diri pada 2024. 

Kalangan pengamat menyebut Jokowi semakin menunjukkan perlawanan kepada partainya sendiri yang tampaknya lebih ingin mencalonkan Puan Maharani.

Bantahan kembali datang dari kubu banteng. Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, memastikan Megawati dan Presiden Jokowi akan bertemu kembali untuk mendiskusikan siapa sosok yang pantas diusung untuk Pilpres mendatang. Menurut Hasto, selain karena Jokowi masih kader PDIP, mantan Wali Kota Solo itu adalah produk kaderisasi kepemimpinan yang dilahirkan oleh Megawati.

"Megawati sosok pemimpin yang melahirkan banyak pemimpin, proses kaderisasi dilakukan secara terus menerus. Pak Jokowi sebagai kader PDIP tentu saja secara periodik bertemu dengan Bu Mega," kata Hasto di Kompleks GBK, Senayan, Jakarta, Jumat (27/5/2022).

Hasto mengungkapkan, pertemuan terakhir kedua tokoh itu beberapa hari setelah Lebaran adalah pertemuan empat mata yang membahas hal-hal strategis. 

"Pertemuan empat mata dan yang dibahas adalah hal-hal yang strategis," ujarnya.

Hasto tidak memastikan kapan keduanya akan bertemu lagi. Menurutnya perlu ada tempat khusus untuk membahas calon presiden dan wakil presiden mendatang.

"Tidak bisa dilakukan di pinggir jalan. Itu harus dilakukan di tempat hening. Sehingga bisa berkontemplasi untuk melihat secara jernih terhadap apa yang dimaksudkan oleh Bung Karno dengan amanat penderitaan rakyat," ucapnya.

Analisis Dangkal
Politikus senior PDIP, Hendrawan Supratikno, meyakini ada upaya pihak tertentu untuk menjatuhkan PDIP menjelang tahapan Pemilu. Caranya dengan memainkan isu keretakan hubungan Megawati dengan Presiden Jokowi yang notabene kadernya sendiri. Hal itu dianggapnya sebagai kewajaran dalam dinamika politik. Namun, Hendrawan tegaskan isu itu tidak akan bisa menjatuhkan PDIP.

"Dalam rivalitas demokrasi, tak jarang semua bentuk spekulasi diusung. Etika demokrasi sangat penting dipegang teguh," kata Hendrawan saat diwawancara Info Indonesia, Senin (30/5/2022).

Dengan nada santai anggota DPR asal Jawa Tengah itu memastikan partainya tidak memusingkan "isu murahan" tersebut. PDIP tengah fokus mempersiapkan diri untuk Pemilu dan tidak akan mengikuti arus atau terjerumus dalam isu-isu yang tidak jelas.

"Jadi, tenang-tenang saja. Ulas hal-hal yang lebih substantif, yang mencerahkan, yang memperkuat modal sosial kita. Jangan tergoda menabuh genderang pertikaian atas dasar ilmu otak-atik gathuk," terangnya.

Dia menambahkan, seharusnya Pemilu Serentak 2024 dapat menjadi momentum bagi seluruh rakyat Indonesia untuk memilih calon pemimpin sebaik mungkin. Dia juga mengimbau pihak-pihak yang berusaha menjatuhkan PDIP untuk berhenti menggiring opini sesat di masyarakat.

"Demokrasi membuka ruang bagi imajinasi, aneka narasi dan spekulasi. Kita jangan dibuat gagap. Sebentar-sebentar, hal-hal yang sering ngawur, analisis dangkal, menyita energi kita. Kita yang dibuat gegar budaya demokrasi," ujarnya.

Terpisah, politikus PDIP di DPR, Muhammad Rifqinizamy Karsayuda, menegaskan bahwa hubungan ketua umunya dengan presiden sangat baik. Rifqi juga mengungkapkan bahwa semua kader PDIP sangat solid, satu komando menunggu arahan Megawati Soekarnoputri. Soal siapa calon presiden yang bakal diusung, kader menyerahkan sepenuhnya kepada ketua umum.

"Pak Jokowi adalah kader partai. Ibu Mega adalah ketua umum kami. Semua masih dalam satu komando, satu rampak barisan di bawah Ibu Ketua Umum PDI Perjuangan," katanya kepada Info Indonesia

Dibesar-besarkan
Sementara itu, peneliti politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wasisto Jati, mengatakan, friksi adalah hal biasa terjadi dalam dunia politik. Yang penting adalah mengelolanya agar pertikaian tidak melebar. Meski begitu, dia menilai isu konflik Jokowi dan Megawati sengaja dibesar-besarkan untuk menimbulkan kesan pemerintahan rapuh.

"Padahal, faktanya justru berbicara sebaliknya," kata Wasisto kepada Info Indonesia, Senin (30/5/2022).

Dia berharap masyarakat tidak hanyut dalam narasi-narasi yang mengadu domba. Publik cukup mengawal jalannya pemerintahan saat ini agar sukses sampai 2024.

Sedikit berbeda, Dosen FISIP Universitas Surakarta (UNSA), Djoko Sutanto, menyebut fenomena hubungan PDIP dengan Presiden Jokowi mengindikasikan perbedaan kepentingan partai dengan pemerintah. Kata dia, pemerintahan Jokowi ditopang koalisi yang berisi macam-macam kepentingan parpol. Namun, hal itu sangat wajar. Beda kepentingan itu menimbulkan ‘gangguan' yang tidak signifikan.

"Saya kira tidak ada yang memanas-manasi hubungan antara Jokowi dengan Megawati, hanya saja perbedaan pandangan tentang sosok yang pantas dicapreskan pada 2024 yang menjadikan hubungan Jokowi dengan Mega seakan-akan panas," kata Djoko.

Menurutnya, sikap keras sejumlah kader PDIP terhadap Jokowi dan pemerintahannya bukanlah taktik politik melainkan lebih pada konteks mengelola konflik. Ibarat menaruh kerupuk pada sebuah wadah, hanya perlu menggoyang-goyangkan wadah maka kerupuk akan tertata rapi dengan sendirinya.

"Sehingga 'pertikaian' antara kader PDIP dengan Jokowi ibarat goyangan yang akan menjadikan masing-masing menempati tempatnya sesuai peran dan fungsinya," ujar Djoko.

Artikel ini juga bisa Anda baca di Koran Info Indonesia edisi Selasa, 31 Mei 2022.


Video Terkait:
Inilah Sinyal Jokowi Tiga Periode
Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo