POLHUKAM

Waspada Terjadi Bersamaan Banjir-Longsor-Panas

Banjir rob di Kota Semarang, Jawa Tengah, akhir Mei 2022. (JPNN/Wisnu Indra Kusuma)
Banjir rob di Kota Semarang, Jawa Tengah, akhir Mei 2022. (JPNN/Wisnu Indra Kusuma)


JAKARTA - Masyarakat perlu mewaspadai potensi terjadinya banjir dan longsor serta hari-hari dengan suhu panas pada 2022. Pasalnya, tahun ini ada peningkatan dua kejadian bencana bisa terjadi secara bersamaan, cuacanya panas ditambah dengan banjir, longsor dan sebagainya karena hujannya ekstrem. 

Peneliti ahli madya di Pusat Riset dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, menuturkan, terhadap potensi bencana tersebut, masyarakat dan pemerintah harus mengantisipasi, membangun kesiapsiagaan dan melakukan mitigasi sejak Juni 2022.

Anomali iklim global yang terjadi saat ini berupa La Nina, Dipol Samudra Hindia atau Indian Ocean Dipole (IOD) negatif, Osilasi Dekadal Pasifik (Pacific Decadal Oscillation (PDO) negatif, peningkatan suhu permukaan di selatan Indonesia, memberikan dampak terhadap peningkatan hujan selama musim kemarau basah. Sehingga kejadian banjir dan longsor juga dapat meningkat secara signifikan sepanjang 2022.

Selain itu, Erma menuturkan hujan dan angin ekstrem serta hari-hari panas berpotensi terjadi secara bersamaan di Indonesia pada 2022.

IOD merupakan fenomena antara lautan dan atmosfer yang terjadi di daerah ekuator Samudera Hindia. Memberikan dampak kekeringan ataupun peningkatan intensitas curah hujan.


IOD negatif berdampak pada peningkatan curah hujan di Indonesia. Kombinasi antara La Nina dan IOD negatif menyebabkan curah hujan semakin tinggi pada musim ini.

Puncak musim kemarau di Indonesia pada 2022 diprediksi terjadi di Agustus 2022. Namun, pada saat itu, perlu waspada terhadap potensi kejadian banjir dan longsor. Sebab, pada Agustus 2022, IOD negatif sangat kuat atau mencapai intensitas maksimum, sehingga meningkatkan curah hujan di Indonesia.

"Ada potensi La Nina, ada IOD negatif yang puncaknya akan mendekati Agustus 2022. Mungkin tahun ini kita bebas dari kebakaran hutan dan lahan karena basah sekali, bahkan di beberapa wilayah itu musim kemaraunya hilang. Tapi di sisi lain kita harus siap-siap dengan banjir dan longsor," ujar Erma, Kamis (2/6/2022).

Erma juga menuturkan perlu mewaspadai peningkatan suhu permukaan yang menyebabkan hari-hari panas, khususnya di selatan Indonesia.

"Di anomali bulanan itu sampai September, Oktober, November dari sekarang bulan Juni kita mengalami anomali suhu permukaan yang lebih tinggi dari biasanya, khususnya di selatan Indonesia. Sehingga wajar ketika orang merasa gerah, cuaca panas," tuturnya.

Peneliti ahli utama di Pusat Riset dan Atmosfer BRIN, Thomas Djamaluddin, menuturkan, kondisi ekstrem banjir rob dapat terjadi ketika dipicu oleh gelombang tinggi di laut yang disebabkan angin kencang.

Faktor astronomis dari efek gravitasi Bulan dan Matahari berpotensi banjir rob saat bulan baru atau purnama yang menyebabkan pasang maksimum. Efeknya akan meningkat bila bersamaan dengan kondisi perige atau titik terdekat Bulan terhadap Bumi.

Namun, umumnya fenomena astronomis tersebut hanya menimbulkan genangan biasa dan itu sesuatu yang rutin terjadi tiap bulan.

Hal yang perlu diwaspadai adalah kondisi ekstrem banjir rob yang umumnya dipicu oleh gelombang tinggi di laut. Fenomena banjir rob yang dipicu gelombang tinggi di laut karena angin kencang melanda Semarang dan sekitarnya pada 23 Mei 2022.

Hasil analisis Tim Reaksi dan Analisis Kebencanaan (Treak) Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN menunjukkan, dinamika atmosfer di sekitar Laut Jawa menyebabkan angin kencang lebih dari 10 meter per detik. Memicu kenaikan gelombang di Laut Jawa dekat pesisir utara Pulau Jawa dan berkontribusi mengakibatkan banjir rob di Pantai Utara Jawa pada 23 Mei 2022, termasuk di Semarang dan sekitarnya.

Menurut informasi dari Stasiun Meteorologi Maritim, banjir rob yang melimpas ke daratan dengan ketinggian dua meter lebih melanda kawasan pesisir kota Semarang, khususnya sekitar Pelabuhan Tanjung Emas.

Berdasarkan informasi yang dikutip ANTARA dari laman resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hampir seluruh wilayah kabupaten dan kota di sepanjang pesisir Pantai Utara Jawa Tengah dilanda banjir rob dan gelombang pasang.

Wilayah terdampak, antara lain Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, Kota Tegal, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Kendal, Kota Semarang, dan Kabupaten Demak.

Menurutnya, banjir rob di Semarang dan sekitarnya itu bukan disebabkan faktor astronomis, seperti bulan baru, bulan purnama, atau perige. Pada 23 Mei 2022, jarak Bulan ke Bumi 375.000 kilometer (km), mendekati jarak rata-rata 384.000 km. 

Hal itu menunjukkan pada saat tersebut, posisi Bulan bukan pada perige. Perige terjadi pada 17 Mei 2022 pada jarak 360.000 km, sehingga tidak ada pengaruh perige pada fenomena banjir rob tersebut.

Selain itu, fase bulan pada saat itu pada posisi perbani akhir, yang terjadi setelah fase bulan purnama. Sementara purnama terjadi pada 16 Mei 2022, sehingga pasang karena gravitasi bulan diperlemah oleh gravitasi matahari.

Pasang air laut yang disebabkan oleh faktor astronomis bersifat normal. Dengan demikian, banjir rob pada 23 Mei 2022 bukan karena faktor astronomis.

"Sempat di media disebutkan banjir rob di Semarang dan sekitarnya karena perige itu sama sekali tidak benar. Jadi bukan pada saat maksimum karena purnama dan juga bukan karena ada tambahan gaya gravitasi karena perigenya. Tentu ada faktor lain," ujarnya.

Artikel ini juga bisa Anda baca di Koran Info Indonesia edisi Jumat, 3 Juni 2022.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo