EKONOMI

IHSG Loyo, Kripto Bergairah di Senin Sore

Ilustrasi. (Net)
Ilustrasi. (Net)


JAKARTA - Awal pekan ini IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) terlihat kurang bertenaga atau bisa juga disebut agak loyo. IHSG menutup sesi perdagangan hari ini, Senin (6/6/2022), di level 7.096,58 poin atau ambles 1,2 persen jika dibandingkan dengan penutupan akhir pekan lalu, yakni pada hari, Jumat (3/6/2022).

Sejak pembukaan perdagangan pagi hari tadi, IHSG sudah "berenang" di zona merah. Kondisi itu disebabkan sentimen eksternal dan domestik.

Dari sisi eksternal, pelaku pasar nampak ragu untuk "belanja" lantaran khawatir bank sentral Amerika Serikat, The Fed, bakal mengerek suku bunga acuannya 50 basis poin di rapat FOMC bulan ini dan bulan depan.

Kecemasan itu muncul setelah data ketenagakerjaan negara Abang Sam (Non-Farm Payroll) menunjukkan bahwa dunia usaha AS menyerap tenaga kerja lebih tinggi dari estimasi. Penyerapannya pada bulan Mei mencapai 390.000 tenaga kerja, sedangkan estimasi analis 325.000 tenaga kerja. Data tersebut mengindikasikan bahwa ekonomi AS masih tetap kuat, sehingga The Fed diramal bakal tetap pede melancarkan aksi moneter yang agresif.

Sedangkan dari sisi domestik, lesunya didorong oleh profit taking (aksi ambil untung) perusahaan manajemen investasi dalam negeri. Mereka melakukan redemption atas saham-saham yang dianggap sudah cuan sekaligus memanfaatkan momen reli IHSG yang tumbuh 4,2 persen sepanjang pekan lalu.


Akan tetapi, meski IHSG ke arah negatif, pelaku pasar asing masih getol melakukan aksi beli. Melihat net foreign buy, belanja asing sepanjang hari ini mencapai Rp220,29 miliar.

Asing terlihat paling banyak memborong saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar Rp288,6 miliar. Kemudian melahap saham PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) masing-masing Rp133,6 miliar dan Rp53,5 miliar.

Namun, pada waktu yang sama, asing justru melepas paling banyak saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp231 miliar. Selain itu, asing juga melepas saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) sebesar Rp46,4 miliar, dan PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP) Rp37 miliar.


Kripto Bergairah
Awal pekan berbeda justru terjadi di pasar kripto yang tampak bergairah sore hari ini. Melansir Coinmarketcap 10 aset kripto berkapitalisasi pasar jumbo masih bertahan di zona hijau dalam 24 jam terakhir.

Kondisi "langit" kripto hari ini sedang dipenuhi optimisme. Menurut beberapa sumber, penyebab utamanya adalah laju Bitcoin (BTC) yang akhirnya berhasil finish di zona hijau pekan lalu setelah sembilan pekan lamanya "berenang" di zona negatif.

Pelaku pasar menganggap sinyal ini sebagai tanda reversal, alias kondisi di mana laju kripto mulai putar balik dari fase bearish ke bullish. Dengan itu, tidak heran jika pelaku pasar berbondong-bondong menyerbu pasar kripto Senin sore ini.

Selain itu, aksi akumulasi bandar kripto (whales) pun mendorong harga aset kripto. Data Santiment terbaru menunjukkan, jumlah pelaku pasar yang memiliki kelolaan antara 10.000 hingga 100.000 BTC kini menggenggam 12 persen dari seluruh suplai BTC, naik 12,8 persen dibanding lima bulan sebelumnya.

Sentimen positif lainnya berasal dari sisi jaringan. Pertumbuhan nilai Cardano (ADA) paling bersinar di antara jajaran aset kripto utama lainnya setelah jaringan mengumumkan akan meluncurkan Vasil hard fork. Jaringan berharap, pengguna Cardano bisa membayar biaya transaksi lebih murah setelah upgrade tersebut dilakukan.

Namun demikian, kekhawatiran masih membayangi. Bahkan, pasar kripto masih terlihat cukup suram, akibat ketidakpastian makroekonomi ke depan.

Editor: Saeful Anwar