POLHUKAM

Jokowi: Ibu Megawati Seperti Ibu Saya Sendiri

Pengamat Tetap Yakin Hubungan Retak Karena Isu Reshuffle dan Pencalonan Ganjar

Presiden Joko Widodo tampak berbincang hangat dengan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, di tengah peresmian Masjid At-Taufiq di Lenteng Agung, Jakarta, Rabu (8/6/2022). (IG/Puan Maharani)
Presiden Joko Widodo tampak berbincang hangat dengan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, di tengah peresmian Masjid At-Taufiq di Lenteng Agung, Jakarta, Rabu (8/6/2022). (IG/Puan Maharani)


JAKARTA - Presiden Jokowi membuktikan dirinya bukan kacang lupa kulit. Di sela agenda kunjungan kerja ke Jawa Tengah dan Sulawesi Tenggara, ia menyempatkan hadir dalam acara yang sangat penting bagi Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

Sejak Rabu pagi, Jokowi mengunjungi Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Jawa Tengah. Selepas siang, Jokowi kembali terbang ke Jakarta khusus untuk memenuhi undangan Megawati yang sudah disampaikan dari tiga bulan lalu.

"Saya sangat senang. Yang pertama karena sudah tiga bulan lalu saya janjian dengan Ibu Megawati untuk hadir di sini, kemudian dua bulan lalu diingatkan lagi oleh Ibu Puan Maharani (putri Megawati). Hari Minggu kemarin, di Ancol, diingatkan lagi oleh Ibu Puan Maharani," kata Jokowi saat meresmikan Masjid At-Taufiq di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta, Rabu (8/6/2022).

Nama masjid itu diambil dari mendiang suami Megawati, Taufiq Kiemas, yang wafat 8 Juni 2013. 

"Saya hadir di Masjid At-Taufiq ini untuk mengenang jasa Almarhum Bapak Taufiq Kiemas, yang berperan besar dalam sejarah perpolitikan Indonesia," kata Presiden.


Menurut Jokowi, Taufiq Kiemas merupakan sosok nasionalis dan religius yang tumbuh dari keluarga taat beragama, sekaligus memiliki latar belakang nasionalisme sangat kokoh. Di dunia politik, lanjut Jokowi, Taufiq Kiemas mampu bersikap tepat atas karakternya yang memiliki pergaulan sangat luas.

"Pak Taufiq Kiemas adalah politisi dengan jejaring pergaulan yang sangat luas, komunikator yang baik, pemersatu, dan mampu merangkul perbedaan-perbedaan yang ada," katanya.

Peresmian Masjid At-Taufiq, yang berlokasi di Sekolah Partai PDI Perjuangan tersebut, diikuti dengan acara pengajian untuk mengenang sembilan tahun wafatnya Taufiq Kiemas.

Hubungan Batin
Saat berpidato, Jokowi mengungkapkan betapa dekatnya hubungan dirinya dengan Megawati, yang juga Presiden ke-5 RI itu.

"Ibu Mega itu seperti ibu saya sendiri, saya sangat, sangat, sangat menghormati beliau," kata Jokowi.

Menurutnya, hubungan anak dan ibu tersebut tidak berbeda dengan hubungan batin.

"Saya sangat hormat kepada beliau yang selalu penuh dengan rasa kepercayaan yang tidak pernah berubah," lanjutnya.

Meski sedalam hubungan batin, Jokowi mengakui bahwa terkadang ada perbedaan pendapat antara dirinya dengan Megawati. Namun, ia tegaskan bahwa hal itu sangat wajar.

"Kadang-kadang ada perbedaan antara anak dan Ibu itu wajar-wajar saja, biasa," ucapnya.

Usai peresmian, Jokowi secara langsung membantah rumor politik yang menyebut hubungannya dengan Megawati Soekarnoputri merenggang akhir-akhir ini. Isu keretakan hubungan Presiden Jokowi dengan ketua umumnya itu makin menjadi-jadi belakangan. Rumor itu dikaitkan dengan perbedaan pilihan politik keduanya soal figur yang akan diusung sebagai calon presiden di 2024.

Sekilas isu keretakan itu ada benarnya. Akhir-akhir ini semakin sering kader PDIP di parlemen blak-blakan mengkritik Jokowi, dari menyasar sisi kebijakan pemerintah sampai pribadi sang presiden.

"Siapa bilang renggang? Saya dengan Ibu Megawati sudah seperti keluarga besar. Jelas kan?" kata Presiden kepada wartawan yang meliput kegiatan.

Anak Nakal
Jokowi mengatakan, dalam perjalanannya ada kala seorang anak menjadi nakal. Namun, itu adalah hal yang biasa.

"Bahwa dalam perjalanan, anak kadang ada yang bandel, ada yang nakal, biasa. Itu wajar. Jangan ditarik kemana-mana," tambahnya.

Megawati juga ikut angkat suara. Dia yang berdiri di samping Presiden Jokowi dan Ibu Negara menegaskan hal serupa, bahwa relasinya dengan mantan wali kota Solo yang juga kader PDIP itu bagaikan keluarga sendiri.

"Ini ada Pak Jokowi, ada Ibu (Iriana) juga. Kami dari dulu kekeluargaan. Jadi, kalau mau, istilahnya 'digoreng-goreng’ (isu kerenggangan) itu, kan begitulah," jelas Megawati di hadapan para wartawan.

Mega malah meminta para wartawan mengedepankan kode etik jurnalistik dalam memberikan informasi ke masyarakat. Menurutnya, media massa saat ini terkesan meminggirkan etika sehingga bisa muncul berita yang tidak benar soal hubungannya dengan Jokowi.

"Ini koreksi, kalau mau ditulis silakan. Adik ini jangan kalah sama wartawan zaman Ayah saya. Meskipun ada perbedaan, (wartawan harus) selalu mematuhi kode etik jurnalistik," tegas Megawati.

Terlepas dari kabar bohong itu, Megawati mengaku dirinya sangat berbahagia dengan kehadiran Jokowi dalam acara peresmian Masjid At-Taufiq. 'Ya senang banget," ujar Megawati.

Panggung Depan-Belakang
Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, mengatakan, peta politik tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

"Panggung depan bisa beda dengan panggung belakang, tergantung orang memaknainya," jelasnya kepada Info Indonesia, kemarin malam.

Pangi menilai awal isu keretakan hubungan Jokowi-Megawati adalah persoalan reshuffle kabinet yang tidak kunjung diputuskan sang presiden.

"Sementara Megawati mungkin meminta ada menteri yang diganti karena terlalu percaya diri atau malampaui batas saat menjadi menteri," katanya.

Pangi menganalisa sejumlah menteri yang mendapat nilai jelek dari Megawati. Pertama adalah Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, yang gagal menangani kisruh minyak goreng. Lalu, Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, yang terlalu sibuk dengan urusan Partai Golkar.

Bisa juga Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, yang makin menunjukkan 'kegenitan politik’ karena ambisi menjadi kandidat Pilpres 2024. Terakhir adalah Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, yang terlalu mendominasi pemerintahan.

"Kalau misalnya selama dua pekan ke depan tidak ada reshuffle, kita tidak tahu bagaimana reaksinya Megawati terhadap Jokowi," kata dia.

Namun, dia mengajak semua pihak untuk tidak berprasangka terhadap Jokowi dan Megawati. Lagipula, tidak ada yang pasti di dalam dunia politik.

"Omongan politisi bisa berbalik. Hari ini A, besok bisa B. Hari ini ngomong A tapi memiliki makna B. Bahasa politik itu tidak bisa kita pegang. Harus kita sisakan ruang ketidakpercayaan 20 persen," kata Pangi.

Sementara Direktur Executive Partner Politik Indonesia, AB Solissa, meyakini ada keretakan hubungan Jokowi-Megawati lantaran perbedaan pilihan terkait capres 2024.

"Jokowi dan kubu Istana lebih cenderung memilih Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Sedangkan Megawati dan elite PDIP lebih setuju tiket diberikan ke Puan Maharani," kata AB.

Dia melihat kemesraan Megawati dan Jokowi saat acara pelantikan pimpinan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Istana Negara dan di acara peresmian Masjid At-Taufiq adalah bagian dari upaya menurunkan tensi politik.

"Satu-satunya cara adalah dengan bertemunya Jokowi dan Megawati," kata dia.

Senada, pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Zaki Mubarak, menilai, keretakan hubungan Jokowi-Megawati sudah terbuka ke publik. Cukup jelas sinyal Jokowi ingin Ganjar Pranowo jadi Capres 2024. Sementara PDIP makin tegas akan mengusung Puan Maharani.

"Bahwa di panggung politik keduanya mencitradirikan sangat kompak, ya bisa saja, tapi di belakang kan semuanya tahu. Sudah sangat terbuka perbedaannya," kata Zaki.

Dia juga memprediksi Jokowi akan bermain dua kaki. Sebagai kader PDIP mengamini Puan dimajukan sebagai capres, tetapi juga memberi restu Ganjar diusung parpol lain. Jika skenarionya begitu, sangat mungkin Ganjar untuk pindah partai

"Apakah skenario Jokowi dan Megawati yang mengusung calon berbeda akan berjalan mulus atau bakal memunculkan gesekan-gesekan, kita tunggu perkembangannya," ujar Zaki.

Artikel ini juga bisa Anda baca di Koran Info Indonesia edisi Kamis, 9 Juni 2022.


Video Terkait:
Presiden Tidak Bisa Mengubah Isi UUD 45
Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo