WARNA-WARNI

Asal Usul COVID-19 Dikabarkan Karena Kurang Data dari China

Ilustrasi. (Net)
Ilustrasi. (Net)


JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa penyelidikan terbarunya tentang asal-usul COVID-19 tidak dapat disimpulkan, terutama karena ada sejumlah data dari China hilang. 

Hal itu disampaikan oleh panel ahli WHO dalam laporannya yang dirilis pada Kamis (9/6/2022). Dalam laporan tersebut, dijelaskan bahwa semua data yang tersedia menunjukkan bahwa virus corona baru penyebab COVID-19 kemungkinan berasal dari hewan, kemungkinan adalah kelelawar.

Kesimpulan ini serupa dengan kesimpulan yang dibuat oleh badan PBB sebelumnya tentang topik tersebut pada tahun 2021 yang mengikuti perjalanan ke China.

Tim panel WHO yang dikenal sebagai Kelompok Penasihat Ilmiah untuk Asal Usul Patogen Novel (SAGO), mengatakan dalam laporan terbaru bahwa tidak mungkin melakukan penyelidikan mendalam karena kurangnya data.

“Semakin lama, semakin sulit jadinya,” Maria Van Kerkhove, pejabat senior WHO di sekretariat SAGO, mengatakan dalam pengarahan.


"Kami berutang pada diri kami sendiri, kami berutang kepada jutaan orang yang meninggal dan miliaran orang yang terinfeksi," sambungnya, seperti dimuat Channel News Asia pada Jumat (10/6/2022). 

Dia menambahkan, data yang hilang, terutama dari China, di mana kasus pertama dilaporkan pada Desember 2019, berarti tidak mungkin untuk mengidentifikasi secara pasti bagaimana virus pertama kali ditularkan ke manusia.

Temuan ini kemungkinan akan menambah keraguan tentang kemungkinan untuk menentukan bagaimana dan di mana virus itu muncul.

Dalam laporan yang sama dijelaskan bahwa Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus telah menulis surat kepada pemerintah China sebanyak dua kali pada Februari tahun ini untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai penyelidikan asal mula virus itu. Kendati demikian, hasilnya juga belum maksimal karena kurangnya data. 


Video Terkait:
Indonesia Lewati Puncak Covid 19
Editor: Amelia