EKONOMI

Orang Tua Tak Usah Cemas, Siaran TV Digital Lebih Ramah Anak

Ilustrasi parental lock/freepik
Ilustrasi parental lock/freepik


JAKARTA - Siaran televisi terestrial digital akan lebih ramah bagi anak-anak karean dilengkapi dengan fitur kontrol orang tua. 

Direktur Penyiaran Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Geryantika Kurnia menjelaskan, fitur kontrol orang tua (parental lock) ini mengizinkan orang tua mengatur program siaran apa saja yang bisa ditonton anak. Dengan dilengkapi teknologi electronic program guidance (EPG), orang tua tak perlu khawatir ketika anak-anak secara tidak disengaja melihat tayangan-tayangan yang masuk kategori tidak layak ditonton kalangan di bawah usia. 

"Jadi orang tua lihat dulu EPG dan lihat apakah acara televisi cocok atau tidak dengan anak. Kalau dirasa tidak cocok tinggal di-lock," jelas dalam acara Bimtek Penggunaan Set Top Box dalam Pelaksanaan Analog Switch Off (ASO), baru-baru ini. 

Fitur ramah anak ini hanya salah satu keunggulan yang ditawarkan oleh siaran televisi terestrial digital. Siaran TV digital juga menjanjikan fitur peringatan dini jika terjadi bencana alam seperti gempa bumi, tsunami atau letusan gunung berapi.

Secara otomatis, tayangan televisi digital akan berhenti ketika di suatu daerah terjadi bencana-bencana seperti yang disebutkan di atas.


"Jadi TV-nya akan diberhentikan dan ada pemberitahuan bahwa daerah tersebut ada gempa jadi masyarakat sudah siap-siap, jadi ke depan banyak fitur-fitur interaktif," ungkapnya.

Bagi masyarakat yang memiliki televisi di rumah tetapi tidak support untuk tayangan digital secara otomatis, maka Geryantika menyarankan agar segera membeli STB.

Dia memprediksi, penjualan STB akan benar-benar melonjak tajam seiring dengan program ASO 2022 yang ditargetkan rampung pada 2 November mendatang.

Geryantika berharap, masyarakat mampu yang tidak masuk kategori penerima STB gratis untuk tidak mengabaikan pentingnya persiapan dini beralih dari tayangan TV analog ke siaran digital.

"Jangan sampai nanti pada saat siaran analog dihentikan masyarakat berbondong-bondong cari STB di pasaran, takutnya kehabisan. Dari sekarang dorong agar masyarakat beli STB yang belum punya tv digital," tandasnya.
Sementara itu Staf Khusus Menkominfo, Rosarita Niken Widiastuti menjelaskan kegunaan STB ini untuk mendukung Digital Video Broadcasting-Second Generation Terrestrial (DVB-T2).

"Jadi kalau TV Bapak Ibu masih TV tabung atau TV analog, TV layar data tapi yang lama, itu bisa digunakan dengan STB ini," ujar Rosarita.

Masih menurut Niken, penggunaan STB yang terhubung di TV analog tidak lantas membuat antena UHF menjadi tidak berfungsi. “Bila masyarakat sudah memasang STB tersebut yang terhubung ke TV analog, maka tidak perlu mengganti antena parabola. Sebab, antena lama yang berupa UHF masih bisa dimanfaatkan,” pungkasnya.

Anggota Pokja Komunikasi Publik Gugus Tugas Migrasi TV Digital, Apni Jaya Putra menyampaikan setidaknya ada 87 juta anak di Indonesia yang menonton televisi.

“Lama menonton televisi rata-rata masyarakat Indonesia 5 jam hingga 18 jam. Semasa pandemi terjadi kenaikan jumlah penonton televisi, yaitu sekitar 12 persen ke 15 persen,” kata Apni.

Bila saatnya era televisi digital sudah sepenuhnya hadir di Indonesia, menurut Apni, proses memilih dan menyeleksi tayangan sangat diperlukan.

Komisioner Bidang Kelembagaan KPI Pusat, Hardly Stefano Fenelon Pariela memandang kehadiran siaran TV digital membawa angin segar untuk menyeleksi tontonan ramah anak melalui fitur EPG.

“Dengan EPG bisa melihat sinopsis sebelum menonton, berikutnya ada siaran apa saja. Klasifikasi siarannya sudah dapat terlihat. Ini yang menjadi fitur tambahan, menjadikan televisi sebagai sumber informasi yang berkualitas maupun hiburan yang sehat kepada keluarga di rumah,” kata Hardly, dikutip dari laman siarandigital.kominfo.go.id.

#ASO #AnalogSwitchOff #TVdigital #SiaranDigitalIndonesia #ASO2022


Video Terkait:
Iko Uwais Bakal Jadi Penjahat di The Expendables 4
Editor: Widya Victoria