POLHUKAM

Tiga Pemicu Kenaikan Kasus COVID-19

Jubir Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito. (Biro Pers Setpres/Lukas)
Jubir Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito. (Biro Pers Setpres/Lukas)


JAKARTA - Satuan Tugas Penanganan COVID-19 mengidentifikasi sejumlah situasi yang diduga menjadi faktor pemicu kenaikan laju kasus positif dan aktif COVID-19 di Indonesia dalam beberapa pekan terakhir.

"Sampai saat ini belum bisa disimpulkan kenaikan kasus positif dan kasus aktif di Indonesia, tapi beberapa potensinya diidentifikasi," kata Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, dalam konferensi pers virtual Perkembangan Penanganan Kasus COVID-19 Nasional yang ditayangkan Youtube BNPB di Jakarta, Selasa (14/6/2022).

Dia menjelaskan, situasi pertama berkaitan dengan mobilitas penduduk yang saat ini terus meningkat jika dibandingkan situasi 2021. Pelandaian kasus COVID-19 berpotensi meningkatkan interaksi masyarakat dari satu tempat ke tempat lain.

Wiku mengatakan, aktivitas masyarakat yang sudah kembali normal di tempat publik maupun kegiatan berskala besar yang dihadiri banyak orang, berpotensi meningkatkan interaksi antarmasyarakat yang dapat meningkatkan potensi penularan SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

Situasi lainnya yang juga diidentifikasi oleh satgas adalah kedisiplinan pada protokol kesehatan (prokes) yang terlihat longgar di masyarakat, seiring dengan pelandaian kasus.


"Penggunaan masker di lingkungan pemukiman dan tempat umum mulai longgar," kata Wiku.

Faktor lainnya yang diduga menyebabkan angka kenaikan kasus adalah ancaman mutasi virus baru berupa subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 yang sudah masuk di Indonesia.

"Varian ini dilaporkan di Indonesia 6 Juni 2022," ujar Wiku.

Diketahui, dalam beberapa pekan terakhir terjadi kenaikan kasus mingguan COVID-19 dari 1.800 kasus di akhir Mei 2022 menjadi 3.600 kasus pada pekan lalu. Kasus aktif juga mengalami peningkatan dari 2.900 kasus per akhir Mei 2022 menjadi 4.900 kasus per 13 Juni 2022.

Meski demikian, jumlah kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Indonesia berjumlah 574 kasus per 11 Juni 2022 bisa dikatakan lebih rendah jika dibandingkan sejumlah negara tetangga. Malaysia 1.709 kasus, Thailand 2.474 kasus, Singapura 3.128 kasus, India 8.582 kasus, Australia 16.393 kasus.

"Jumlah kasus harian di Indonesia masih relatif rendah bila dibandingkan jumlah populasi yang sangat besar," kata Wiku.

Kementerian Kesehatan melaporkan jumlah kasus terbaru subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di Tanah Air hingga Selasa siang berjumlah 20 kasus.

"Sampai hari ini ada 20 subvarian Omicron yang terdiri atas dua kasus BA.4 dan 18 kasus BA.5," kata Juru Bicara Kemenkes, Mohammad Syahril.

Dengan begitu, dia mengatakan, laju kasus subvarian Omicron tersebut bertambah 12 kasus dari laporan sebelumnya yang berjumlah delapan kasus.

Sementara itu, Direktur Pasca-Sarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama, mengatakan, laju penularan BA.4 dan BA.5 di Indonesia diperkirakan naik lima kali lipat dalam beberapa hari terakhir.

Informasi terbaru dari European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) per Senin (13/6/2022) menyebutkan BA.4 dan BA.5 kali pertama ditemukan di Afrika Selatan pada Januari dan Februari 2022.

Menurut Tjandra, BA.4 dan BA.5 adalah bagian dari Omicron clade (B.1.1.529). ECDC meningkatkan klasifikasi BA.4 and BA.5 dari Variants of Interest menjadi Variants of Concern (VOC) pada 12 Mei 2022.

"Diperkirakan akan menjadi dominan di Eropa dalam minggu-minggu mendatang," ujarnya.

Tjandra yang juga mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu mengatakan bahwa potensi peningkatan kasus tergantung pada proteksi imunitas yang berkaitan dengan cakupan dan kapan waktu vaksinasi sebelumnya.

"Untuk tenaga kesehatan kita sudah di-booster lebih dari enam bulan yang lalu. Kenaikan kasus juga dipengaruhi landscape dari gelombang yang lalu," jelasnya.

Secara umum, tidak ada bukti ilmiah yang menyebutkan subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 menimbulkan sakit yang lebih parah dari varian pendahulunya. 

"Tapi harus amat diwaspadai peningkatan hospitalisasi pada mereka yang berusia di atas 60 atau 65 tahun," kata Tjandra.

ECDC sendiri hingga kini masih mengumpulkan data tentang efektivitas obat monoclonal antibodies (mAb) pada pasien BA.4 dan BA.5. 

"Tetapi sejauh ini nampaknya efeknya sedikit menurun atau tetap saja," demikian Tjandra.

Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di Indonesia bermula dari laporan empat kasus di Bali pada 6 Juni 2022 dan bertambah empat kasus lagi di Jakarta dalam beberapa hari kemudian.

Artikel ini juga bisa Anda baca di Koran Info Indonesia edisi Rabu, 15 Juni 2022.

 

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo