POLHUKAM

PILPRES 2024

Nasdem Resmi Jualan Anies, Andika, Ganjar

Surya Paloh Tahu Diri Sekaligus Cerdik

Ketum Partai Nasdem, Surya Paloh. (Net)
Ketum Partai Nasdem, Surya Paloh. (Net)


JAKARTA - Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh, mengumumkan tiga nama bakal calon presiden yang dipertimbangkan untuk diusung di Pilpres 2024.

Berdasarkan urutan yang dibacakan, ketiganya adalah Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan; Panglima TNI Jenderal Muhammad Andika Perkasa; dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Tiga nama hasil penyaringan aspirasi 34 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) itu diumumkan dalam penutupan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Nasdem di Jakarta Convention Center, tadi malam.

Sebelum dibacakan, surat rekomendasi Rakernas mengenai bakal capres diserahkan langsung ke tangan Surya Paloh oleh Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPP Partai Nasdem sekaligus Ketua Steering Committee Rakernas, Prananda Paloh.

Surya Paloh menekankan bahwa tiga nama bakal capres merupakan hasil musyawarah dalam Rakernas. Dia juga menegaskan bahwa tidak ada nama yang paling unggul atau paling lemah di antara ketiganya.


"Tiga nama ini adalah pilihan saudara-saudara, saya harus mengingatkan tidak ada yang kurang satu sama lain di antara tiga nama ini. Nilainya sama di mata saya sebagai ketua umum DPP. Urutannya boleh satu, dua, tiga, tapi kualifikasinya sama dan itulah komitmen saya, penghargaan saya kepada saudara-saudara di Rakernas," ujar Surya Paloh, Jumat (17/6/2022).

"Pertama, Anies Rasyid Baswedan; kedua, Muhammad Andika Perkasa; ketiga, Ganjar Pranowo," lanjutnya.

Berdasarkan rekapitulasi atas aspirasi 34 DPW, Anies Baswedan mendapat dukungan dari 32 DPW. Hanya DPW Nasdem Papua Barat dan Kalimantan Timur yang tidak merekomendasikan nama mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu. Nama Andika Perkasa diusulkan oleh 15 DPW. Sementara Ganjar Pranowo mendapat rekomendasi dari 29 DPW. Ganjar tidak direkomendasikan oleh DPW Kalimantan Timur, Banten, Kalimantan Selatan, Maluku Utara, dan DKI Jakarta. Selanjutnya, Surya Paloh akan menentukan satu nama final untuk diusung partainya pada Pilpres 2024.

"Dari tiga nama tadi, kursi presiden hanya satu. Seandainya ada tiga (kursi), ketua umum tidak perlu berpikir apa-apa lagi," ucapnya, disambu tawa ribuan pengurus dan kader Nasdem di acara Rakernas.

Konglomerat pemilik Media Group itu berjanji akan menetapkan satu nama capres tanpa tergesa-gesa dan tidak mengikuti desakan pihak lain.

"InsyaAllah kita akan tetapkan satu nama. Waktu dan tempatnya, kita cari hari baik, bulan baik. Bagi kita tidak ada satupun hal yang membuat kita harus terdesak, karena apapun keputusan kita, ingin mencalonkan yang terbaik untuk kepentingan bangsa," tutur Surya.

Sebelumnya, total ada 25 nama yang diusulkan lansung oleh 34 DPW Partai Nasdem dalam acara Rakernas. Lima nama yang mendapat dukungan terbesar Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Erick Thohir (Menteri BUMN), Jenderal Andika Perkasa, dan Rachmat Gobel (kader utama Nasdem yang menjabat Wakil Ketua DPR RI). Namun, Erick Thohir terdepak saat pengerucutan tiga nama meski ia diusulkan 16 DPW. Begitu juga Rachmat Gobel, karena DPP Nasdem memutuskan untuk tidak merekomendasikan nama dari internal.

Tahu Diri

Dia juga mengingatkan bahwa seluruh Partai Nasdem harus ikhlas dalam memperjuangkan tokoh terbaik menjadi capres dan sampai terpilh di 2024. Dia bahkan meminta semua kadernya untuk mempersiapkan kemungkinan terburuknya.

"Seandainya calon yang kita usung terpilih dan lupa sama Nasdem, itu sudah nasib kita. Kita boleh terus menerus membangun kemampuan dan kekuatan yang ada pada kita, yaitu dengan dua aspek sekaligus, pertama berharap pada yang baik, kedua mempersiapkan diri pada hal yang terjelek," terangnya.

Ia mengungkapkan alasan Nasdem sudah mempersiapkan capres untuk Pilpres 2024, padahal pesta demokrasi lima tahunan itu masih dua tahun lagi. Menurut Surya Paloh, Nasdem adalah partai yang tahu diri sehingga tidak bisa menyamakan dirinya dengan partai-partai lain yang lebih senior. Dia mengakui partai yang didirikan pada 2011 itu masih punya banyak kelemahan meski mengantongi suara lumayan besar (9,05 persen atau 59 kursi DPR RI) pada Pemilu 2019.

"Kita tahu kita masih punya banyak kelemahan. Kita tahu kita masih kurang persyaratan (presidential threshold). Kalau kita mau menang bekerjalah dengan kejujuran hati. Karena saya percaya arah angin sejalan dengan keinginan Nasdem. Ini yang harus bisa kita baca. Sebuah tanda-tanda emosi publik yang dekat dengan nuansa cara berpikir Nasdem, itu adalah modal
besar," tegasnya.

Berdampak Positif

Analis politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komaruddin, menilai tiga nama itu sudah menjadi keputusan politik bersama seluruh kader Nasdem. Demokratisasi internal partai terkait Pilpres 2024 sudah berjalan.

"Saya sudah memprediksi kalau tiga nama itu akan muncul," kata Ujang kepada Info Indonesia.

Dia sedikit membedah mengapa Anies, Ganjar dan Andika menjadi tiga nama yang direkomendasikan. Anies mendapat suarat terbanyak karena faktor kedekatannya dengan Nasdem. Anies juga salah satu tokoh yang mendeklarasikan ormas Nasdem. Sementara itu Ganjar Pranowo masuk radar Nasdem karena kedekatan dan dukungan dari Presiden Jokowi.

Sedangkan Andika Perkasa, dipilih karena berlatar militer. Surya Paloh sendiri merupakan tokoh Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI-Polri (FKPPI).

"Dampaknya tentu akan positif kepada Nasdem. Kita tahu Ganjar memiliki elektabilitas bagus, Anies memiliki elektabilitas tinggi. Andika saat ini masih menjadi Panglima TNI. Secara pemberitaan itu akan berdampak bagus bagi Nasdem," kata dia.

Terkait dengan poros politik baru, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) ini belum bisa memprediksinya. Jika Nasdem mampu membangun kekuatan koalisi dengan partai politik lain, tentu akan berdampak positif bagi demokrasi. Yang lebih penting menurut Ujang, Nasdem harus memastikan satu dari tiga nama bakal capres itu bakal laku bila ditawarkan ke parpol-parpol lain.

"Tetapi partai lain juga akan melihat pertimbangan yang rasional atau logis terkait dengan pembentukan koalisi dengan Nasdem. Kita lihat saja perkembangan dinamika ke depan," ujar Ujang.

Andika Plan B

Direktur Executive Partner Politik Indonesia, AB Solissa, mengatakan, keberanian Surya Paloh harus diapresiasi karena telah melakukan penjajakan komunikasi politik secara internal sampai menghasilkan tiga nama bakal capres. Menurutnya, ketiga nama itu akan menjadi magnet elektoral bagi Partai Nasdem dalam melakukan konsolidasi politik menjelang Pilpres 2024 sampai memutuskan satu nama untuk diusung.

"Nasdem akan menjadi sentral pemberitaan dan sekaligus mendapatkan political publicity baik di media mainstream maupun media sosial secara gratis," kata AB.

Anies, Ganjar dan Andika akan menjadi alat tawar politik bagi Surya Paloh dan Nasdem dengan partai-partai lain dalam rangka membentuk mutual understanding atau pemahaman bersama soal kepentingan politik 2024. Yang paling penting menurut AB, Nasdem mempunyai kemampuan untuk membentuk poros baru di luar Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). Potensi ini sangat mungkin karena Surya Paloh bisa berkomunikasi secara sangat baik dengan para pemimpin politik nasional.

"Termasuk hubungan baik dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla dan Prabowo," kata dia.

Khusus soal masuknya nama Jenderal Andika Perkasa dalam bursa capres Nasdem, kata dia bisa dilihat dari perspektif ahli sosiologi Erving Goffman dengan menggunakan teori dramaturginya; panggung belakang (front stage) dan panggung belakang (back stage). Menurutnya, Andika akan dijadikan 'Plan B' bagi Surya Paloh ketika konstelasi politik menemui jalan buntu. Tentu saja Anies dan Ganjar adalah ‘Plan A' yang akan didorong ke partai-partai lain sebagai kandidat capres.

Bisa jadi pula, Nasdem akan menawarkan kombinasi ideal sipil-militer. 

"Semua ini hanyalah spekulasi. Politik itu sangat unpredictable dan dinamis, apapun bisa terjadi," ujar AB.

Tetap di Orbit

Peneliti politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wasisto Jati, berpendapat, tiga nama bakal capres itu menunjukkan strategi Surya Paloh menjaga partainya tetap dalam orbit kekuasaan.

"Saya pikir Nasdem masih dalam upaya pemetaan maupun juga penjaringan awal terhadap beberapa nama populer untuk nanti bisa didefinitifkan sebagai capres," kata Wasisto.

Sementara itu, pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, meyakini Surya Paloh lebih condong mencalonkan Anies Baswedan. Tetapi, Surya Paloh akan melihat dulu reaksi dari masyarakat dan partai politik atas besarnya dukungan DPW Partai Nasdem terhadap Anies. Reaksi dari dua pihak tersebut akan menjadi dasar bagi Surya Paloh untuk memutuskan jadi tidaknya Anies diusung.

Reaksi masyarakat diperlukan karena Surya Paloh ingin capres yang diusungnya mendapat dukungan publik sebesar-besarnya. Di sisi lain, Surya Paloh juga ingin melihat reaksi dari partai politik atas aspirasi DPW Partai Nasdem. Hal itu untuk memastikan apakah partai politik, khususnya calon mitra koalisi, menaruh respek terhadap Anies.

Reaksi masyarakat dan partai politik akan menentukan langkah Surya Paloh selanjutnya, terutama terkait pencalonan Anies Baswedan.

"Kepastian itu diperlukannya agar capres dari partainya memenangkan Pilpres 2024," ujar mantan Dekan Fikom IISIP Jakarta itu.

Artikel ini juga bisa Anda baca di Koran Info Indonesia edisi Sabtu, 18 Juni 2022.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo