EKONOMI

Apakah Migrasi TV Digital Bisa Nonton Youtube? Ini Penjelasannya

Ilustrasi (Antara)
Ilustrasi (Antara)


JAKARTA - Masyarakat Indonesia kini didorong bermigrasi dari siaran televisi analog ke televisi digital. 

Siaran analog ini akan ditinggalkan sepenuhnya karena dinilai sudah usang dengan kemajuan zaman.

Menyandang nama digital, lantas apakah otomasi pakai kuota internet? 

Dilansir dari laman resmi siaran digital Kominfo, indonesiabaik.id, migrasi siaran televisi teresterial dari analog ke digital (analog switch off/ASO) akan memberikan manfaat di berbagai sektor. Salah satunya yaitu menyuguhkan internet berkecepatan tinggi. Kok bisa?

Untuk diketahui siaran televisi analog saat ini menggunakan pita frekuensi 700MHz, menghabiskan alokasi 328MHz pada frekuensi tersebut. Sedangkan, siaran televisi digital hanya membutuhkan 176MHz sehingga akan ada dividen digital sebesar 112MHz.


Selain itu, berdasarkan speed Test Index Januari 2021 bahwa kecepatan internet Indonesia di peringkat 115, kecepatan unduh 23.77 Mbps dan unggah 13.60 Mbps. Kecepatan internet (mobile) di Indonesia pada urutan 121, kecepatan unduh 17.33 Mbps, kecepatan unggah 11.27 Mbps.

Jaringan 5G akan menambah rata-rata kecepatan internet di Indonesia. 5G memiliki kecepatan hingga 20Gbps atau kira-kira 20x lipat dari 4G. Kemudian, jaringan 5G menggunakan pita frekuensi 700Mhz yang juga digunakan oleh TV analog. 

Dengan beralih ke TV digital, maka makin banyak frekuensi yang digunakan untuk internet. Komisioner KPI Pusat Hardly Stefano Fenelon mengatakan, siaran TV digital bukan seperti layanan siaran online atau streaming yang biasa diakses menggunakan koneksi internet. 

"Jadi, masyarakat tidak membutuhkan paket data internet atau pulsa untuk bisa mengakses siaran digital di TV digital," jelasnya. 

Selain itu, layanan siaran TV digital merupakan free to air (FTA) atau siaran yang bebas diakses tanpa pungutan biaya. 

Selayaknya siaran TV yang sudah berjalan, masyarakat bisa menikmati siaran digital tanpa harus berlangganan seperti pada layanan video on demand yang ada di internet.

Namun, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menegaskan siaran TV digital pada televisi di rumah tidak lantas membuatnya bisa dipakai untuk menonton YouTube atau streaming lewat smartphone dan komputer.


"Memang ada juga televisi yang sudah dilengkapi dengan kemampuan berinternet. Bila televisi di rumah tergolong televisi yang pintar seperti itu, tentu tidak usah menambahkan Set Top Box (STB) untuk menonton siaran digital. Penambahan STB hanya untuk televisi model lama," kata Tim Komunikasi Publik Migrasi TV Digital Kementerian Kominfo, Wenda Parwitasari.

Sementara untuk pesawat televisi yang lama masih bisa dipakai maupun yang model tabung perlu dilakukan penyesuaian dengan memasang STB. Kendati begitu, untuk antena lama tetap bisa dipakai karena itu penting untuk menjaring sinyal.

"Televisi yang sudah ditambahkan STB tetap menjadi televisi penerima siaran hasil pancaran stasiun-stasiun televisi yang menggunakan teknologi digital. Tentunya, gambarnya bersih dan suaranya jernih karena menggunakan teknologi digital. Sama dengan sebelumnya, menonton siaran digital ini tetap gratis. Ya gratis, karena penyiaran yang dipancarkan itu FTA (Free To Air)," terangnya.

FTA menjadi pembeda siaran TV digital pada TV dengan laptop dan gadget. Gawai dan laptop dapat dipakai untuk menonton tayangan YouTube karena pemancarannya menggunakan internet. Sementara internet bukanlah FTA.

Lebih lanjut Kominfo menjelaskan, berkat teknologi sinyal digital yang tidak ada di siaran TV analog adalah nantinya masyarakat bisa menonton tayangan dengan gambar yang lebih bersih dan tajam. Di televisi digital juga akan ada tambahan layanan. Salah satu yang disiapkan adalah program peringatan kebencanaan.

"Dalam perjalanan waktu, akan ada banyak tambahan layanan juga. Inilah nilai lebih migrasi ke televisi digital. TV makin terasa canggih. Ayo dukung migrasi televisi digital. Bersih, jernih, canggih," tandasnya.

Hal senada disampaikan Staf Ahli Bidang Hukum Kementerian Kominfo Henri Subiakto. “Program analog switch off (ASO) hampir sama dengan televisi yang digunakan saat ini,” tuturnya, baru-baru ini.

Namun, lanjutnya, ASO membutuhkan perangkat TV yang mendukung siaran digital. Jika tidak memilikinya, bisa dengan menambahkan STB yang dipasang ke televisi lama dan perangkat tersebut cukup mudah didapatkan di pasaran.

"TV analog terestrial ketika dipindahkan tidak perlu internet tetapi butuh set top box untuk perangkat tv yang lama. Kalau perangkat tv baru dan siap digital tinggal search siaran tv digitalnya," katanya.

Proses penghentian siaran TV analog ini dilakukan dalam tiga tahap. ASO Tahap 1 pada 30 April di 56 wilayah siaran mencakup 166 kabupaten/kota, ASO Tahap 2 pada 25 Agustus 2022 mencakup 31 wilayah siaran di 110 kabupaten/kota, dan ASO Tahap 3 pada 2 November mencakup 25 wilayah siaran di 63 kabupaten/kota.

 

#ASO
#TVDigital
#AnalogSwitchOff
#SiaranDigitalIndonesia
#ASO2022


Video Terkait:
Iko Uwais Bakal Jadi Penjahat di The Expendables 4
Editor: Widya Victoria