OPINI

Anies dan Masa Depan PDI Perjuangan

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. (Suara.com/Fakhri)
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. (Suara.com/Fakhri)


JUDUL catatan ini tentu akan menimbulkan pertanyaan kritis, bagi para pengamat maupun para pemain politik Nasional. Kenapa Anies bisa muncul sebagai faktor penentu masa depan PDI Perjuangan? Atau sebaliknya, apa mungkin Anies itu berpengaruh bagi dan bahkan menjadi penentu masa depan PDI Perjuangan? Tentu banyak pertanyaan lain yang bisa dimuncukan, namun kami akan fokus saja pada kedua pertanyaan di atas.

Koalisi bentukan Golkar, menggandeng PAN dan PPP telah cukup mengusung capres sendiri sesuai ketentuan PT 20 persen. Menurut para elit partai ini calon yang akan mereka usung dari kalangan mereka sendiri. Dengan demikian, Ganjar, Anies, Ridwan Kamil, atau nama lain di luar KIB telah pupus harapannya untuk dicalonkan oleh koalisi KIB ini. Tentu kami berasumsi bahwa pernyataan para petinggi KIB itu jujur, tidak berisi kebohongan.

Dengan demikian, telah muncul kepastian ada dua pasangan calon. Pasangan calon lainnya adalah dari PDI Perjuangan. Meski belum menetapkan siapa calon yang mereka mau usung. Sementara itu, PKS, PKB dan Demokrat bisa membentuk koalisi tersendiri untuk mengajukan calon. Dan jika mereka juga memutuskan hanya mengambil dari kalangan internal mereka, maka bisa dipastikan bahwa Ganjar, Anies, Ridwan Kamil, Airlangga, tidak masuk di dalamnya.

Maka akan muncul tiga pasangan calon. Dari PDI Perjuangan, KIB dan Koalisi "semut merah" bentukan PKB, PKS dan Demokrat, (jika nama koalisi itu mereka sepakati). Maka tersisa Nasdem dan Gerindra yang keduanya tidak memiliki cukup batas minimum untuk mencalonkan. Jika Nasdem berkoalisi dengan Gerindra, maka pasangan calon menjadi empat pasangan.

PDI Perjuangan partai besar, namun bisa diprediksi akan kesulitan jika hanya menampilkan figur partainya saja. Sebab dengan begitu, PDI Perjuangan seolah menutup ruang bagi hadirnya kebersamaan dengan warga bangsa lainnya untuk membangun negeri. Karena itu, kami berasumsi bahwa PDI Perjuangan tidak akan mengambil sikap politik demikian selama masih terbuka ruang koalisi dengan parpol lain. Dan yang tersisa hanya Gerindra dan Nasdem.


Jika PDI Perjuangan berkoalisi dengan Nasdem maka bisa jadi Nasdem akan menawarkan Anies, karena Anies telah memperoleh dukungan luas di kalangan kader Nasdem. Jika PDI Perjuangan memilih berkoalisi dengan Gerindra, maka mesti menerima Prabowo. Problemnya Prabowo yang partainya lebih kecil daripada PDI Perjuangan itu, apakah masih mau berada pada posisi cawapres? Tentu sulit bagi Prabowo menerima status demikian. Apalagi karena telah pernah Prabowo maju menjadi cawapresnya Ibu Megawati pada pilpres terdahulu.

Jika PDIP kemudian memutuskan mencapreskan Prabowo dan memilih posisi cawapres, inilah awal mula keruntuhan PDI Perjuangan. Karena basis konstituen Gerindra dan PDI Perjuangan secara ideologis sama saja, yakni kalangan nasionalis. Berbeda dengan ketika PDI Perjuangan berkoalisi dengan Nasdem, karena Nasdem meskipun memiliki basis konstituen sama dengan Gerindra, PDI Perjuangan atau partai nasionalis lainnya, tapi munculnya figur Anies dari Nasdem menjadi "pembeda".

Anies yang tidak memiliki partai, namun memiliki basis dukungan dari kalangan diluar pendukung PDI Perjuangan itu akan memperluas basis kekuatan PDI Perjuangan. Perlu dicatat bahwa Anies memang telah disepakati oleh peserta Rakernas Nasdem sebagai salah satu dari tiga nama yang diunggulkan. Namun Anies hingga detik ini belum mendeklir dirinya bahwa dirinya bersedia jadi capres dari partai apapun. Sebab itu, Anies masih memiliki independesi politiknya untuk menerima atau menolak parpol apapun yang meminta kesediaannya. Dan jika PDI Perjuangan meminta Anies untuk dicalonkan oleh PDI Perjuangan, Anies tentu bisa memilih mau dicalonkan Nasdem atau dicalonkan PDI Perjuangan.

Anies-Puan
Jika PDI Perjuangan memilih Anies sebagai capresnya, dan Puan sebagai cawapresnya, maka keuntungan yang akan diperoleh PDI Perjuangan bertambah luas. Pertama, bisa memastikan bahwa PDI Perjuangan tetap berada dalam kendali trah Bung Karno. Karena dapat diprediksi bahwa pasca Ibu Megawati maka Puan yang akan meneruskan kepemimpinan PDI Perjuangan. Namun, jika Prabowo yang diambil oleh PDI Perjuangan, tentu Prabowo yang akan jadi presiden, dan sama sekali tidak ada jaminan bahwa setelah Prabowo jadi presiden ia tidak akan 'membangkrutkan' PDI Perjuangan.

Keuntungan lainnya, jika PDI Perjuangan mencalonkan Anies (tanpa koalisi), maka peluang PDI Perjuangan memenangkan pilpres makin besar. Kewenangan PDI Perjuangan menyusun pemerintahan sendiri makin besar. Demikianlah kenapa Anies itu solusi atas "perbincangan masa depan PDI Perjuangan" pasca Ibu Megawati.

Tentu saja ini hanya catatan saya saja. Dan sama sekali bukan cerminan dari realitas politik yang sedang berlangsung. Jika pada akhirnya apa yang kami tulis dalam catatan ini ternyata sama dengan sikap politik yang diputuskan Ibu Megawati, semua itu karena kebetulan semata. Pada akhirnya, kita mesti memberi ruang kepada para elit politik berkomunikasi lebih intens guna mengambil keputusan terbaik, bukan bagi partai atau kelompok ekonomi-politiknya saja, tapi demi masa depan bangsa secara keseluruhan.

Hasanuddin
(Ketua Umum PB HMI Periode 2003-2005)

Artikel ini juga bisa Anda baca di Koran Info Indonesia edisi Rabu, 22 Juni 2022.


Video Terkait:
Tiktoker Anifah Kritik Gaji Anggota DPRD DKI Jakarta 26 Miliar
Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo